10 lembaga pendidikan di bawah Kemenag di Aceh hanyut dan roboh akibat bencana banjir bandang akhir November lalu. Proses belajar mengajar tetap dilakukan meski lokasinya dipindahkan tempat lain.
Ketua Tim Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025 Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Aceh, Khairul Azhar, mengatakan, 437 dari 500 madrasah terdampak bencana dinyatakan siap menyelenggarakan proses belajar mengajar secara langsung mulai hari ini. Sejumlah madrasah terdampak sudah dibersihkan kembali.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“10 lembaga pendidikan yang roboh atau hanyut karena banjir juga sudah siap melaksanakan belajar mengajar meski harus direlokasi ke tempat sementara seperti masjid/meunasah, lapangan desa atau lapangan milik madrasah yang masih ada,” kata Khairul dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).
Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Aceh itu menjelaskan, sejauh ini terdapat 63 madrasah yang belum siap proses belajar mengajar disebabkan beberapa alasan. Kendala utama yang dihadapi meliputi belum rampungnya pembersihan ruang kelas dan halaman sekolah yang masih dipenuhi lumpur, ruang kelas yang tertimbun material banjir, hingga akses jalan menuju madrasah belum dapat dilalui.
Di beberapa wilayah, katanya, madrasah juga masih digunakan sebagai lokasi pengungsian. Ke-63 madrasah itu tersebar di sejumlah wilayah di antara 19 di Aceh Utara, 17 di Aceh Tamiang dan 14 di Aceh Tengah. Sisanya, 7 madrasah di Pidie Jaya, 4 di Bireuen dan 2 madrasah di Bener Meriah.
Menurutnya, Kemenag terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, satuan pendidikan, serta relawan untuk mempercepat proses pemulihan sarana dan prasarana madrasah. Upaya itu dilakukan agar seluruh peserta didik dapat segera kembali mengikuti pembelajaran secara aman dan nyaman.
“Kami terus melakukan pendampingan dan koordinasi agar madrasah yang belum siap dapat segera menyusul. Prinsipnya, PBM hanya akan dilaksanakan jika kondisi benar-benar aman dan nyaman bagi peserta didik dan guru,” jelasnya.
Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari menegaskan komitmen Kemenag dalam memastikan layanan pendidikan madrasah tetap berjalan, meski di tengah keterbatasan akibat bencana.
“Pendidikan adalah layanan dasar yang harus segera dipulihkan. Namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Karena itu, kami mendorong percepatan pemulihan sarana prasarana madrasah tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kesiapsiagaan bencana,” jelasnya.
