Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu perjalanan Nabi Muhammad bertemu Allah SWT untuk menjemput perintah tentang salat lima waktu. Dalam peristiwa tersebut, terdapat sejumlah tempat yang diyakini menjadi saksi perjalanan Rasulullah, masing-masing menyimpan nilai sejarah dan makna keimanan yang mendalam.
Merujuk pada Studi Analitis Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dalam Pendekatan Sains, oleh Fatoni Achmad dan Ivona, perjalanan ini membuktikan keagungan Allah SWT melalui fenomena yang kini bahkan menjadi perhatian. Setiap titik yang dikunjungi oleh Rasulullah SAW memiliki alasan yang mendalam, terkait sejarah dan hikmah yang luar biasa.
Mulai dari tanah suci Makkah hingga batas tertinggi alam semesta, Sidratul Muntaha. Tempat-tempat ini menjadi saksi bisu bagaimana perintah shalat lima waktu pertama kali diturunkan. Mari kita kembali mengenal peta perjalanan luar biasa ini melalui 10 tempat sejarah yang menjadi bukti keagungan Isra Miraj.
Perjalanan dimulai di Masjidil Haram, pusat spiritual dunia. Di sini, titik awal perjalanan yang sangat hebat dan melebihi logika manusia. Saat itu, di tengah keheningan malam di area Hijir Ismail dekat Ka’bah, Nabi Muhammad SAW sedang beristirahat sebelum dijemput oleh malaikat Jibril.
Namun, sebelum melintasi ruang dan waktu, terjadi peristiwa besar, yaitu penyucian hati. Malaikat Jibril membuka dada Nabi untuk membasuh hatinya dengan air zamzam yang suci. Bukan hanya fisik, hati Nabi diisi dengan keimanan, kebijaksanaan, dan keyakinan yang kuat.
Proses ini adalah sebuah persiapan penting agar tubuh dan jiwa Nabi mampu menanggung beban perjalanan lintas semesta dan bertemu langsung dengan Sang Pencipta. Masjidil Haram menjadi saksi bisu tempat awal perjalanan, mengajarkan kita bahwa untuk mendekatkan diri kepada Allah, kesucian hati adalah kunci yang tidak bisa digantikan.
Masjidil Aqsa atau Baitul Maqdis adalah tujuan akhir dari perjalanan Isra (perjalanan malam di bumi). Masjid ini memiliki peran sangat mulia karena pernah menjadi kiblat pertama umat Islam. Kedatangan Nabi Muhammad SAW di sini menandai hubungan erat antara ajaran para nabi sebelumnya dengan risalah Islam. Di dalam bangunan yang diberkahi ini, Nabi memimpin shalat berjamaah, diikuti oleh para nabi dan rasul, menegaskan posisi Nabi sebagai pemimpin para nabi (Imamul Anbiya).
Tembok Buraq terletak di bagian barat Masjidil Aqsa. Menurut riwayat, setelah menempuh perjalanan kilat dari Mekkah, Nabi Muhammad SAW menambatkan Buraq, kendaraan surgawi. Hingga kini, tembok Buraq tetap menjadi situs yang sangat dihormati dan dianalisis dalam sejarah arsitektur serta spiritualitas Islam.
Batu besar yang sekarang berada di bawah kubah emas dome of the rock di Yerusalem adalah tempat awal dari perjalanan Miraj atau naik ke langit. Batu ini diyakini sebagai tempat terakhir Rasulullah berdiri di bumi sebelum terbang ke Sidratul Muntaha.
Secara arsitektural dan sejarah, tempat ini menjadi bukti bahwa bumi dan langit saling terhubung melalui satu peristiwa mukjizat yang tidak bisa dipahami oleh manusia biasa.
Dalam beberapa cerita sejarah, sebelum sampai di Yerusalem, Jibril mengajak Rasulullah berhenti di sebuah tempat yang penuh pohon kurma, yaitu Yatsrib atau yang kini kita kenal sebagai Madinah. Di tempat itu, Nabi melaksanakan shalat dua rakaat.
Pemberhentian ini berarti adanya kejadian masa depan, yaitu Madinah akan menjadi kota tempat Nabi hijrah dan membangun peradaban Islam yang besar.
Thursina adalah tempat penuh karamah di mana Nabi Musa AS pernah berbicara langsung dengan Allah SWT dan menerima Taurat. Dengan perintah Jibril, Rasulullah berhenti di sini untuk melakukan shalat dua rakaat sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa besar dalam sejarah para nabi.
Tempat ini mengingatkan bahwa wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah kelanjutan dari cahaya wahyu yang sudah diberikan kepada para nabi sebelumnya.
Betlehem atau Baitul Lahm dikenal sebagai tempat lahirnya Nabi Isa AS. Dalam perjalanan Isra, Rasulullah singgah dan melaksanakan shalat di daerah ini. Kehadiran Nabi di tempat lahir Nabi Isa AS menunjukkan hubungan persaudaraan antara para nabi dan mengukuhkan bahwa Islam menghormati semua garis kenabian sebagai pembawa pesan tauhid yang satu.
Madyan adalah tempat di mana Nabi Musa AS pernah lari dan mencari perlindungan setelah kabur dari pengejaran Firaun. Persinggahan Rasulullah di Madyan selama perjalanan malam itu memberi kekuatan semangat bagi Nabi Muhammad SAW yang pada masa itu sedang menghadapi tekanan besar dari orang-orang kafir Quraisy di Mekkah (Tahun Kesedihan). Lokasi ini menjadi simbol perlindungan Allah kepada hamba-Nya yang sedang berjuang.
Setelah melewati enam lapisan langit dan bertemu para nabi besar seperti Adam, Yusuf, hingga Musa, Rasulullah sampai di langit ketujuh dan bertemu Nabi Ibrahim AS. Di sini terdapat Baitul Ma’mur, tempat ibadah para malaikat di langit yang posisinya langsung di atas Ka’bah di bumi.
Tempat ini membuktikan bahwa ibadah di bumi memiliki hubungan langsung dengan aktivitas para penghuni langit, menciptakan keseimbangan kosmik dalam keimanan.
Sidratul Muntaha adalah tempat terakhir dan tertinggi dalam perjalanan Isra Miraj. Tempat ini merupakan batas akhir alam semesta yang tidak bisa ditempuh oleh makhluk apa pun, termasuk malaikat Jibril.
Di lokasi yang begitu indah hingga tidak bisa dijelaskan, Nabi Muhammad SAW berbicara langsung dengan Allah SWT dan menerima perintah untuk mengerjakan shalat lima waktu. Tempat ini juga menjadi saksi bisu bagaimana kewajiban terpenting bagi setiap muslim ditentukan sebagai hadiah dari perjalanan suci tersebut.
Melakukan perjalanan kembali ke sepuluh tempat bersejarah ini membuat kita menyadari bahwa peristiwa Isra Miraj adalah jembatan yang menghubungkan sejarah para nabi dengan pesan Islam yang sempurna. Setiap tempat, mulai dari Masjidil Aqsa yang penuh berkah hingga kemuliaan Baitul Ma’mur, menegaskan peran Rasulullah SAW sebagai utusan rahmat bagi seluruh alam.
Namun, pesan utama dari perjalanan ini bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang hadiah yang dibawa pulang oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu ibadah shalat. Shalat adalah bentuk Isra Miraj bagi setiap orang yang beriman, cara untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT setiap hari, tanpa harus menembus tujuh langit secara fisik.
Semoga dengan mengenal tempat-tempat bersejarah ini, iman dan kualitas shalat kita semakin meningkat.
Artikel ini ditulis oleh peserta magang Kemnaker, Dwi Puspa Handayani Berutu di infocom
Saksi Bisu Perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad
1. Masjidil Haram (Makkah)
2. Masjidil Aqsa (Palestina)
3. Tembok Buraq
4. Qubbat as-Sakhra (Dome of the Rock)
5. Kota Madinah (Yatsrib)
6. Bukit Thursina (Gunung Sinai)
7. Bethlehem (Baitul Lahm)
8. Kota Madyan (Pohon Nabi Musa)
9. Langit Ketujuh (Baitul Ma’mur)
10. Sidratul Muntaha
Betlehem atau Baitul Lahm dikenal sebagai tempat lahirnya Nabi Isa AS. Dalam perjalanan Isra, Rasulullah singgah dan melaksanakan shalat di daerah ini. Kehadiran Nabi di tempat lahir Nabi Isa AS menunjukkan hubungan persaudaraan antara para nabi dan mengukuhkan bahwa Islam menghormati semua garis kenabian sebagai pembawa pesan tauhid yang satu.
Madyan adalah tempat di mana Nabi Musa AS pernah lari dan mencari perlindungan setelah kabur dari pengejaran Firaun. Persinggahan Rasulullah di Madyan selama perjalanan malam itu memberi kekuatan semangat bagi Nabi Muhammad SAW yang pada masa itu sedang menghadapi tekanan besar dari orang-orang kafir Quraisy di Mekkah (Tahun Kesedihan). Lokasi ini menjadi simbol perlindungan Allah kepada hamba-Nya yang sedang berjuang.
Setelah melewati enam lapisan langit dan bertemu para nabi besar seperti Adam, Yusuf, hingga Musa, Rasulullah sampai di langit ketujuh dan bertemu Nabi Ibrahim AS. Di sini terdapat Baitul Ma’mur, tempat ibadah para malaikat di langit yang posisinya langsung di atas Ka’bah di bumi.
Tempat ini membuktikan bahwa ibadah di bumi memiliki hubungan langsung dengan aktivitas para penghuni langit, menciptakan keseimbangan kosmik dalam keimanan.
Sidratul Muntaha adalah tempat terakhir dan tertinggi dalam perjalanan Isra Miraj. Tempat ini merupakan batas akhir alam semesta yang tidak bisa ditempuh oleh makhluk apa pun, termasuk malaikat Jibril.
Di lokasi yang begitu indah hingga tidak bisa dijelaskan, Nabi Muhammad SAW berbicara langsung dengan Allah SWT dan menerima perintah untuk mengerjakan shalat lima waktu. Tempat ini juga menjadi saksi bisu bagaimana kewajiban terpenting bagi setiap muslim ditentukan sebagai hadiah dari perjalanan suci tersebut.
Melakukan perjalanan kembali ke sepuluh tempat bersejarah ini membuat kita menyadari bahwa peristiwa Isra Miraj adalah jembatan yang menghubungkan sejarah para nabi dengan pesan Islam yang sempurna. Setiap tempat, mulai dari Masjidil Aqsa yang penuh berkah hingga kemuliaan Baitul Ma’mur, menegaskan peran Rasulullah SAW sebagai utusan rahmat bagi seluruh alam.
Namun, pesan utama dari perjalanan ini bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang hadiah yang dibawa pulang oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu ibadah shalat. Shalat adalah bentuk Isra Miraj bagi setiap orang yang beriman, cara untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT setiap hari, tanpa harus menembus tujuh langit secara fisik.
Semoga dengan mengenal tempat-tempat bersejarah ini, iman dan kualitas shalat kita semakin meningkat.
Artikel ini ditulis oleh peserta magang Kemnaker, Dwi Puspa Handayani Berutu di infocom







