Sebulan lebih pasca bencana, 142 ribu warga di Aceh masih mengungsi akibat tempat tinggal mereka rusak. Pengungsi terbanyak berada di Aceh Utara disusul Aceh Tamiang.
Berdasarkan data Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Aceh, Rabu (14/1/2025) siang, 14.438 kepala keluarga (KK) atau 142.112 jiwa mengungsi di 988 titik pengungsian yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Titik pengungsian terbanyak di Aceh Tamiang 513 lokasi disusul Aceh Utara sebanyak 210 titik dan Aceh Tengah 61 tempat.
Sementara untuk jumlah pengungsi terbanyak berada di Aceh Utara sebanyak 54.795 orang, Aceh Tamiang 26.040 jiwa, dan Gayo Lues 19.906 orang. Daerah lain yang masih terdapat pengungsi adalah Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Tengah, Nagan Raya, Bener Meriah, Bireuen, Pidie Jaya dan Pidie.
Juru Bicara Pos Komando Penanganan Bencana Aceh Murthalamuddin mengatakan, pemerintah bersama unsur terkait saat ini terus memacu pembangunan huntara bagi warga yang masih bertahan di pengungsian, sembari persiapan pembangunan hunian tetap (huntap). Tujuannya agar masyarakat terdampak dapat segera kembali menempati rumah layak dan aman.
“Pemerintah terus berupaya memastikan pemulihan berjalan bertahap dan berkelanjutan, sehingga masyarakat terdampak bisa kembali hidup normal dengan kondisi hunian yang lebih layak,” kata Murthalamuddin.
Menurutnya, korban terdampak bencana Aceh sebanyak 2.584.067 orang yang tersebar di 3.046 desa di 203 kecamatan dalam 18 kabupaten/kota. Bencana banjir dan longsor yang terjadi Rabu 26 November 2025 lalu menyebabkan 559 orang meninggal dunia, 456 orang mengalami luka berat dan 4.939 warga mengalami luka ringan.
Selain itu, 148.819 unit rumah dilaporkan terdampak, dengan rincian 64.740 unit rusak ringan, 40.114 unit rusak sedang, serta 29.755 unit rusak berat atau hilang.
“Bencana juga menyebabkan berbagai fasilitas umum terdampak termasuk harta benda masyarakat,” jelas Plt Kadisdik Aceh itu.







