3.000 Orang Ditangkap Usai Aksi Demo Besar-besaran di Iran

Posted on

Sekitar 3.000 orang yang disebut berafiliasi dengan kelompok-kelompok teroris dilaporkan telah ditangkap oleh Otoritas Iran. Kelompok itu disebut ikut serta dalam aksi protes di negara tersebut.

Demikian dilaporkan Al Arabiya, Jumat (16/1/2026) mengutip media Iran, yang dilansir infoNews.

Aksi protes antipemerintah besar-besaran mengguncang Iran dalam beberapa waktu terakhir. Menurut sejumlah pakar dan saksi mata, rangkaian demonstrasi anti-pemerintah di Iran kali ini telah mencapai tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah 47 tahun Republik Islam tersebut.

Unjuk rasa yang terjadi juga diwarnai kerusuhan. Ribuan orang dilaporkan tewas dalam peristiwa itu.

Pada saat sebagian masyarakat turun ke jalan di berbagai kota di Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam bakal “menyerang dengan sangat keras ke titik terlemah” jika pihak otoritas Iran menindak para demonstran. Bahkan Trump menyatakan, AS “siap membantu” para demonstran.

Pihak berwenang Iran pun menanggapi ancaman Trump. Otoritas Iran bersumpah bakal menyerang sekutu dan kepentingan AS di kawasan tersebut.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan bahwa aksi demonstrasi yang terjadi dimanipulasi oleh “musuh-musuh Iran”.

Hingga Rabu (14/1) lalu, Amerika Serikat mengancam jika Iran melaksanakan hukuman mati terhadap orang-orang yang ditangkap karena protes tersebut, maka pihaknya akan melakukan tindakan militer terhadap negara tersebut. Duta Besar AS untuk PBB pada hari Kamis (15/1) menyebut bahwa semua opsi masih “di atas meja.”

Sementara itu, kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln dan beberapa kapal perang pengawalnya sedang dalam perjalanan menuju Timur Tengah dari Laut China Selatan.

Dilansir Al Arabiya, Jumat (16/1/2026), media terkemuka AS, New York Times yang mengutip dua pejabat yang berbicara dengan syarat anonim, melaporkan bahwa kapal induk dan kapal-kapal pengawalnya dapat tiba di wilayah tersebut dalam waktu sekitar satu minggu.

Lebih lanjut, laporan tersebut mengutip para pejabat yang mengatakan bahwa “sejumlah pesawat tempur, kemungkinan termasuk kombinasi jet tempur, pesawat serang, dan pesawat pengisian bahan bakar, diperkirakan akan segera mulai berdatangan ke wilayah tersebut.”

Sementara itu, Pentagon juga mengirimkan peralatan pertahanan udara ke wilayah tersebut, termasuk rudal pencegat, untuk melindungi pangkalan militer di Timur Tengah dan Teluk, “terutama pangkalan udara al-Udaid di Qatar,” tambah laporan New York Times (NYT) tersebut.

“Dua pejabat AS mengatakan peningkatan persenjataan tersebut bertujuan untuk mencegah otoritas Iran melakukan kekerasan lebih lanjut terhadap para demonstran dan untuk memberi Trump lebih banyak pilihan dalam merencanakan serangan apa pun terhadap Iran,” demikian ditulis NYT.

Baca selengkapnya