5 Fakta Terkini Santriwati yang Dilecehkan Pimpinan Ponpes di Deli Serdang

Posted on

Pemilik sekaligus pimpinan pondok pesantren (ponpes) di Deli Serdang, inisial MAM diamankan polisi karena diduga melecehkan santriwati. MAM pun nyaris diamuk oleh keluarga korban karena ulahnya.

Keluarga korban juga sempat menggeruduk ponpes pada Minggu (4/1) malam. Beruntung situasi berhasil terkendali setelah ditenangkan oleh kepala dusun setempat.

Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Medan Iptu Dearma Agustina membenarkan peristiwa tersebut.

“(Benar) Memang ada (peristiwa diduga pelecehan di pesantren),” ucapnya kepada infoSumut ketika dikonfirmasi, Senin (5/1/2026).

Dirangkum infoSumut berikut ini sejumlah fakta terkini pimpinan ponpes yang cabuli santriwatinya.

Menurut keterangan warga sekitar, Lisha, pemilik pondok pesantren diduga telah melakukan tindakan asusila berupa pelecehan seksual terhadap santriwati tersebut.

“Iya, pemilik pondok pesantren mencium bahkan memeluk santrinya,” ungkap salah seorang Lisha saat diwawancarai infoSumut, Senin (5/1/2026).

Warga yang geram atas perbuatan tersebut nyaris melakukan aksi main hakim sendiri. Namun, situasi berhasil diredam oleh kepala dusun setempat.

“Emosi keluarga korban hampir berujung pemukulan, untung ada Pak Kadus yang mencoba melerai,” katanya.

Kepala Dusun setempat, Mahmud Sobri mengatakan, awalnya ponpes tersebut digeruduk keluarga korban. Hingga akhirnya dilakukan mediasi antara keluarga korban, pemilik ponpes dan perangkat desa.

Orang tua korban menyebut, korban mengaku sudah dua kali melakukan hubungan badan dengan terduga pelaku.

“Dari informasi orang tua korban, pelaku mengakui sudah dua kali melakukan hubungan badan,” ungkapnya.

Kemudian dalam mediasi tersebut, lanjut Sobri, terduga pelaku MAM juga mengakui perbuatannya dengan dalih dilakukan atas dasar suka sama suka dengan santriwatinya yang masih di bawah umur tersebut.

“Dia mengakui telah menyetubuhi santriwatinya atas dasar mau sama mau,” tambah Sobri.

Menurut Sobri, dalam mediasi tersebut, sejumlah keluarga santri lain juga datang dan mengaku anak mereka juga pernah menjadi korban pelecehan oleh MAM. Mereka meminta pertanggungjawaban atas perbuatan yang diduga dilakukan pelaku.

“Kemudian ada keluarga dari santriwati lain juga yang jadi korban, tetapi tidak disebutkan berapa jumlahnya,” katanya.

Karena mediasi tidak membuahkan hasil, pihak keluarga korban bersikukuh untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

“Mereka lebih memilih melaporkan ke kepolisian. Saya sarankan keluarga korban mendatangi polsek untuk membuat laporan agar segera ditindaklanjuti,” ucapnya.

Sobri menyebut kasus terungkap berawal dari salah seorang teman korban melaporkan peristiwa ini ke orang tua korban.

“Saya dengar, bukan korban langsung, tetapi temannya. Temannya yang mengadukan perihal itu kepada orang tua korban ,” ungkapnya.

Mahmud menjelaskan, setelah menerima aduan tersebut, keluarga korban merasa kecewa dan marah. Mereka kemudian mendatangi pondok pesantren karena anaknya yang dititipkan untuk belajar justru menjadi korban pencabulan hingga berkali-kali.

“Kalau keluarga korban, yang saya lihat sangat marah dan kesal. Artinya, kekecewaan mereka sangat besar terhadap pondok pesantren, karena anaknya dititipkan untuk belajar, tetapi justru mengalami kejadian seperti itu,” jelasnya.

Mahmud menyebut, pada Minggu (5/1) sore sempat dilakukan mediasi yang dihadiri keluarga korban, kepala dusun, dan terduga pelaku. Dalam mediasi itu, MAM mengakui perbuatannya dan mengklaim dilakukan atas dasar suka sama suka, meski korban masih di bawah umur.

“Pelaku menyampaikan kejadiannya senang sama senang,” ucapnya.

Dari hasil mediasi tersebut, terungkap pula adanya santriwati lain yang diduga menjadi korban pelecehan oleh pimpinan pondok pesantren itu.

“Ada yang dicium, dipeluk, dan perbuatan lain yang mengarah ke tindakan tidak senonoh,” katanya.

Mendengar pengakuan itu, emosi keluarga korban dan warga sekitar memuncak. Situasi sempat memanas dan nyaris terjadi aksi main hakim sendiri, namun berhasil diredam oleh kepala dusun.

“Sebelum Magrib kami bermusyawarah. Keluarga korban menginginkan kasus ini dibawa ke ranah hukum,” jelas Mahmud.

Saat Mahmud meninggalkan lokasi untuk salat Magrib, warga mulai berdatangan. Ketika ia kembali, situasi sudah ricuh dan massa semakin ramai.

“Begitu saya balik, kondisinya sudah ribut,” ujarnya.

Mahmud mengatakan, sambil menunggu petugas kepolisian, warga meluapkan kemarahan dengan merusak sejumlah fasilitas pondok pesantren, termasuk pagar pembatas dari seng.

“Fasilitas dirusak karena warga kesal,” katanya.

Fakta Pimpinan Ponpes di Deli Serdang Cabuli Santriwati

1. Pimpinan Ponpes Diamuk Keluarga Korban

2. Kadus Sebut Pimpinan Ponpes 2 Kali Berhubugan Badan dengan Korban

3. Korban Lebih dari 1 Orang

4. Kasus Terungkap saat Korban Lapor ke Ortu

5. Keluarga Korban dan Pimpinan Ponpes Sudah Dimediasi

Sobri menyebut kasus terungkap berawal dari salah seorang teman korban melaporkan peristiwa ini ke orang tua korban.

“Saya dengar, bukan korban langsung, tetapi temannya. Temannya yang mengadukan perihal itu kepada orang tua korban ,” ungkapnya.

Mahmud menjelaskan, setelah menerima aduan tersebut, keluarga korban merasa kecewa dan marah. Mereka kemudian mendatangi pondok pesantren karena anaknya yang dititipkan untuk belajar justru menjadi korban pencabulan hingga berkali-kali.

“Kalau keluarga korban, yang saya lihat sangat marah dan kesal. Artinya, kekecewaan mereka sangat besar terhadap pondok pesantren, karena anaknya dititipkan untuk belajar, tetapi justru mengalami kejadian seperti itu,” jelasnya.

Mahmud menyebut, pada Minggu (5/1) sore sempat dilakukan mediasi yang dihadiri keluarga korban, kepala dusun, dan terduga pelaku. Dalam mediasi itu, MAM mengakui perbuatannya dan mengklaim dilakukan atas dasar suka sama suka, meski korban masih di bawah umur.

“Pelaku menyampaikan kejadiannya senang sama senang,” ucapnya.

Dari hasil mediasi tersebut, terungkap pula adanya santriwati lain yang diduga menjadi korban pelecehan oleh pimpinan pondok pesantren itu.

“Ada yang dicium, dipeluk, dan perbuatan lain yang mengarah ke tindakan tidak senonoh,” katanya.

Mendengar pengakuan itu, emosi keluarga korban dan warga sekitar memuncak. Situasi sempat memanas dan nyaris terjadi aksi main hakim sendiri, namun berhasil diredam oleh kepala dusun.

“Sebelum Magrib kami bermusyawarah. Keluarga korban menginginkan kasus ini dibawa ke ranah hukum,” jelas Mahmud.

Saat Mahmud meninggalkan lokasi untuk salat Magrib, warga mulai berdatangan. Ketika ia kembali, situasi sudah ricuh dan massa semakin ramai.

“Begitu saya balik, kondisinya sudah ribut,” ujarnya.

Mahmud mengatakan, sambil menunggu petugas kepolisian, warga meluapkan kemarahan dengan merusak sejumlah fasilitas pondok pesantren, termasuk pagar pembatas dari seng.

“Fasilitas dirusak karena warga kesal,” katanya.

4. Kasus Terungkap saat Korban Lapor ke Ortu

5. Keluarga Korban dan Pimpinan Ponpes Sudah Dimediasi