Tentang Adat Sumando, Percampuran Budaya Minangkabau dan Batak

Posted on

Masyarakat pesisir di wilayah Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga memiliki identitas budaya yang lahir dari percampuran berbagai unsur etnis dan nilai agama. Salah satu bentuknya adalah Sumando, adat dan kekerabatan yang merupakan percampuran Batak dan Minangkabau.

Informasi tersebut disampaikan melalui papan keterangan yang dipajang di Museum Negeri Sumatera Utara. Dalam keterangan itu dijelaskan bahwa masyarakat pesisir merupakan komunitas yang hidup di kawasan pantai dan menggantungkan kehidupan pada laut.

“Masyarakat Pesisir tersebut menjalani kehidupan di pinggiran pantai yang berorientasi pada budaya-budaya maritim, seperti bekerja dan mencari kebutuhan hidup berdasarkan hasil laut,” demikian tertulis dalam papan informasi Museum Negeri Sumatera Utara seperti dikutip Jumat (2/1/2025),

Masih berdasarkan keterangan museum, masyarakat pesisir memiliki bahasa lisan yang merupakan perpaduan antara bahasa Batak dan Minangkabau. Percampuran budaya tersebut melahirkan sistem adat yang dikenal sebagai Sumando.

“Bahasa lisan yang dipakai merupakan perpaduan antara bahasa Batak dan Minang. Sistem kekerabatan dikenal sebagai adat Sumando yang artinya satu kesatuan, yakni pertambahan atau percampuran satu keluarga dengan keluarga lain yang seagama dan diikat dalam tali pernikahan menurut hukum Islam,” tulis keterangan tersebut.

Adat Sumando berjalan seiring dengan nilai-nilai Islam dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat pesisir. Sistem adat ini diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam hubungan kekeluargaan dan pernikahan.

Selain itu, papan informasi Museum Negeri Sumatera Utara juga menyebutkan bahwa Sumando memiliki filosofi hidup yang disebut Tigo Tungku Sajarangan.

“Adat Sumando juga memiliki filosofi kehidupan Tigo Tungku Sajarangan yang terdiri dari tiga unsur, yaitu raja atau penguasa, ulama, dan pemangku adat,” tulis keterangan museum.

Melalui penyajian informasi ini, Museum Negeri Sumatera Utara memperkenalkan kekayaan budaya masyarakat pesisir Tapanuli Tengah dan Sibolga sebagai bagian dari identitas budaya Sumatera Utara yang terbentuk dari sejarah, lingkungan maritim, serta percampuran budaya yang harmonis.

Ditulis A Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di infocom

Selain itu, papan informasi Museum Negeri Sumatera Utara juga menyebutkan bahwa Sumando memiliki filosofi hidup yang disebut Tigo Tungku Sajarangan.

“Adat Sumando juga memiliki filosofi kehidupan Tigo Tungku Sajarangan yang terdiri dari tiga unsur, yaitu raja atau penguasa, ulama, dan pemangku adat,” tulis keterangan museum.

Melalui penyajian informasi ini, Museum Negeri Sumatera Utara memperkenalkan kekayaan budaya masyarakat pesisir Tapanuli Tengah dan Sibolga sebagai bagian dari identitas budaya Sumatera Utara yang terbentuk dari sejarah, lingkungan maritim, serta percampuran budaya yang harmonis.

Ditulis A Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di infocom