Ada di Buku Broken Strings Aurelie Moeremans, Ini Penjelasan Child Grooming

Posted on

Buku ‘Broken Strings’ tulisan Aurelie Moeremans yang menceritakan kisah hidupnya yang mengalami Child Grooming viral di media sosial baru-baru ini. Begini penjelasan Child Grooming menurut psikolog.

Endang Haryati seorang psikolog menyebut child grooming adalah proses ketika orang dewasa mencoba memanipulasi anak dengan tujuan tertentu, biasanya cendrung mengarah pada hal berbau seksual.

“Child grooming adalah proses ketika seseorang usia dewasa, ada unsur memanipulasi anak dengan usianya di bawah dia dengan tujuan ke arah ekploitasi, biasanya secara seksual, ” ungkap Endang saat diwawancarai infoSumut, Selasa (13/1/2026).

Endang menyebut bahwa child grooming bisa terjadi baik langsung maupun tidak langsung, seperti melalui media sosial. Pelaku biasanya mengincar anak yang usianya jauh dibawah.

“Ini biasanya bisa langsung dan tidak langsung, secara ketemu atau online melalui media sosial. Pelaku sengaja mengincar anak yang usianya dibawah dia, Ini dilakukan oleh orang dewasa atau remaja akhir, ” jelasnya.

Meskipun begitu, Endang menyebut bahwa tidak semua hubungan dengan usia jarak yang jauh memiliki unsur grooming. Untuk itu, perlu kewaspadaan akan tujuan seseorang memulai hubungan.

“Ngga semua, makanya kita harus waspada. Sebenarnya kalau ada orang yang lebih dewasa yang mendekati, kita harus cari tahu dulu kenapa dia mendekati kita,” ujarnya.

Endang menyebut pelaku child grooming akan lebih cenderung mengincar anak-anak yang kurang akan perhatian atau yang terlihat aktif di media sosial. Rasa kesepian itulah yang dimanfaatkan pelaku untuk masuk ke anak-anak.

“Biasanya pelaku child grooming ini nggak langsung, dia akan melihat target, siapa sasarannya. Misalnya melihat ini ada anak yang suka sendirian ya kesepian, kok ada indikasi kurang perhatian, atau aktif sekali di media sosial, anak yang butuh orang yang bisa mengisi waktunya dan diharapkannya untuk mengisi kesepiannya, nah disini lah child grooming itu masuk, ” tuturnya.

Endang menyebut bahwa sebenarnya tidak ada jarak usia ideal dalam suatu hubungan. Namun, biasanya anak-anak atau remaja akan lebih cenderung bergaul dengan anak seusianya.

“Untuk usia yang ideal nggak ada ya, kebanyakan anak-anak atau remaja mereka lebih nyaman jika bergaul dan berinteraksi dengan anak-anak yang seusianya karena se frekuensi, ” ungkapnya.

Endang mengungkap bahwa korban dari child grooming dapat mengalami beberapa gangguan mental. Akhirnya korban dapat memiliki kesulitan membangun hubungan yang sehat serta batasan dalam hubungan.

“Nah kalau sudah terjadi bertahun-tahun dan lama dampak seksual nya anak bisa mengalami PTSD, guilty feeling nya tinggi, minder, malu, merasa ikut salah, kemudian adanya krisis kepercayaan diri, bisa saja mengalami depresi. Pada akhirnya individu tersebut akan sulit membangun hubungan yang wajar di masa yang akan datang. Kemudian dia bingung apa sih batasan cinta, dan ada ketergantungan secara emosional, kesulitan untuk menolak dan menyatakan tidak. Selanjutnya menormalisasi hubungan yang tidak sehat, ” ujarnya.

Untuk itu diperlukan kedekatan secara emosional antara anak dengan orang tua. Hal ini dapat mengurangi dan meminimalisir kemungkinan anak menjadi korban child grooming.

“Orang tua itu harus dekat secara emosional dengan anak, membuka ruang dan waktu untuk membagi perhatian antara pekerjaan dan keluarga. Kalau anak dekat dengan orang tua dan dukungan nya bagus, memperkecil dan meminimalisir anak menjadi korban Child Grooming, ” tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh Rindi Antika peserta program Maganghub Kemnaker di infocom.