Wireless Rampasan Perang, Bukti Peran Komunikasi dalam Perjuangan Kemerdekaan baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Sebuah perangkat komunikasi lawas bernama Wireless Sets menjadi salah satu koleksi penting yang dipamerkan di Museum Perjuangan Medan. Alat ini menjadi saksi bagaimana teknologi komunikasi berperan besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera Utara.

Dalam keterangan arsip Museum Perjuangan Medan disebutkan bahwa Wireless Sets merupakan alat komunikasi milik tentara Sekutu yang digunakan di wilayah Medan Area pada tahun 1946.

“Wireless Sets adalah jenis alat komunikasi milik tentara Sekutu yang digunakan di daerah Medan Area pada tahun 1946,” tulis arsip Museum Perjuangan Medan.

Arsip museum mencatat, alat komunikasi tersebut berhasil dirampas oleh pasukan pejuang kemerdekaan dari pesawat buatan Amerika Serikat dengan nomor seri 19 MK II dan memiliki jangkauan hingga 100 kilometer. Setelah dirampas, perangkat ini kemudian digunakan oleh pejuang Indonesia hingga tahun 1950.

“Setelah dirampas oleh pasukan pejuang kemerdekaan, Wireless Sets ini dipergunakan sampai tahun 1950,” lanjut keterangan museum.

Perampasan dan pemanfaatan alat komunikasi militer lawan menunjukkan bahwa pejuang Indonesia tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga strategi dan penguasaan teknologi. Sejarawan Nugroho Notosusanto dalam tulisannya tentang Revolusi Fisik Indonesia menyebutkan bahwa komunikasi menjadi faktor krusial dalam mengoordinasikan perlawanan terhadap pasukan Sekutu dan Belanda.

“Keberhasilan perjuangan bersenjata sangat ditentukan oleh kelancaran komunikasi antar-unit dan pimpinan perjuangan,” tulis Nugroho Notosusanto.

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh sejarawan Anhar Gonggong yang menekankan pentingnya penguasaan sarana komunikasi dalam konteks perang modern.

“Dalam revolusi kemerdekaan, alat komunikasi menjadi senjata strategis karena menentukan kecepatan pengambilan keputusan dan konsolidasi kekuatan,” tulis Anhar Gonggong dalam kajiannya tentang sejarah militer Indonesia.

Di Medan Area, pertempuran antara pejuang Indonesia dan pasukan Sekutu menuntut koordinasi yang cepat di tengah keterbatasan persenjataan. Menurut artikel yang dimuat dalam Jurnal Sejarah dan Budaya, pejuang di Sumatera Utara kerap memanfaatkan alat rampasan perang, termasuk radio komunikasi, untuk menyusun strategi dan menghindari serangan mendadak musuh.

“Radio komunikasi rampasan menjadi sarana vital bagi pejuang dalam mempertahankan wilayah dan menghubungkan pos-pos perlawanan,” tulis jurnal tersebut.

Keberadaan Wireless Sets di Museum Perjuangan Medan tidak hanya merekam jejak teknologi perang, tetapi juga memperlihatkan kecerdikan dan daya adaptasi pejuang kemerdekaan Indonesia. Alat ini menjadi bukti bahwa perjuangan tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga melalui penguasaan informasi dan komunikasi.

Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di infocom

Hal senada juga diungkapkan oleh sejarawan Anhar Gonggong yang menekankan pentingnya penguasaan sarana komunikasi dalam konteks perang modern.

“Dalam revolusi kemerdekaan, alat komunikasi menjadi senjata strategis karena menentukan kecepatan pengambilan keputusan dan konsolidasi kekuatan,” tulis Anhar Gonggong dalam kajiannya tentang sejarah militer Indonesia.

Di Medan Area, pertempuran antara pejuang Indonesia dan pasukan Sekutu menuntut koordinasi yang cepat di tengah keterbatasan persenjataan. Menurut artikel yang dimuat dalam Jurnal Sejarah dan Budaya, pejuang di Sumatera Utara kerap memanfaatkan alat rampasan perang, termasuk radio komunikasi, untuk menyusun strategi dan menghindari serangan mendadak musuh.

“Radio komunikasi rampasan menjadi sarana vital bagi pejuang dalam mempertahankan wilayah dan menghubungkan pos-pos perlawanan,” tulis jurnal tersebut.

Keberadaan Wireless Sets di Museum Perjuangan Medan tidak hanya merekam jejak teknologi perang, tetapi juga memperlihatkan kecerdikan dan daya adaptasi pejuang kemerdekaan Indonesia. Alat ini menjadi bukti bahwa perjuangan tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga melalui penguasaan informasi dan komunikasi.

Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di infocom