Gajah Rusak Kebun Warga di Pidie, BKSDA Diminta Turun Tangan | Giok4D

Posted on

Kawanan gajah liar merusak perkebunan warga di Kecamatan Keumala, Pidie, Aceh. Masyarakat meminta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh turun tangan menyelesaikan konflik satwa yang terjadi bertahun-tahun.

Sekjen Tokoh Masyarakat Pidie (TOMPi), Muhammad Nur, mengatakan, kawanan gajah dalam beberapa hari terakhir mengobrak-abrik kebun milik petani di Glee Barat. Perkebunan itu terletak di beberapa desa di kecamatan tersebut.

Salah satu kebun yang dirusak satwa berbelalai itu disebut milik M Gade di Desa Jijiem. Kebun seluas 2 hektare itu ditanami pohon duku dan seharusnya bulan ini sudah dapat dipanen.

“Gajah-gajah ini, tidak hanya memakan buah duku saja, akan tetapi merusak secara masif batang pohonnya yang dirawat selama 20 tahun lebih sehingga petani betul-betul terpukul mentalnya,” kata M Nur dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).

Selain M Gade, kebun langsat milik Lukman Abdullah di Desa Cot Kreh, Kecamatan Keumala juga tidak luput dari gajah. Banyak pohon dan berbagai tanaman miliknya diobrak-abrik satwa dilindungi itu.

“Petani selam ini sangat rugi. Ini perlu penanganan serius dari pemerintah, petani juga butuh ruang untuk hidup di negara ini,” jelas M Nur.

Dia meminta BKSDA lebih serius dalam menanggani persoalan konflik satwa dengan manusia di Keumala. Menurutnya pihak BKSDA, selama ini seperti menutup mata dan membiarkan konflik terus terjadi sampai masyarakat betul-betul dibuat tidak berdaya lagi.

“Untuk itu agar kasus serupa tidak terulang lagi, kami meminta pihak BKSDA untuk segera membangun pos CRU Gajah di Gampong Cot Kreh, Keumala, Pidie. Pos ini sangat penting dibangun untuk menghalau gajah-gajah liar yang turun ke kebun-kebun warga. Pihak BKSDA perlu melakukan mitigasi dan melakukan tindakan pencegahan sebelum gajah-gajah ini turun merusak kebun-kebun masyarakat secara masif,” ujarnya.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.