Pemerintah Aceh menyebutkan kebutuhan daging di Tanah Rencong tahun ini mencapai 9.618 ton. Untuk meugang saja, kebutuhan daging sapi atau kerbau disebut sekitar 1.500 ton.
Juru Bicara Pemerintah Aceh Muhammad MTA mengatakan, Gubernur Aceh Muzakir Manaf telah menggelar pertemuan dengan Menteri Perdagangan Budi Santoso untuk membahas pemenuhan kebutuhan daging di Serambi Mekkah. Saat ini, banyak ternak masyarakat terdampak banjir dan longsor yang terjadi akhir November 2025.
“Gubernur telah meminta PEMA untuk menindaklanjuti dengan kementerian terkait dalam hal kuota izin impor tersebut. Dan saat ini PEMA sedang menindaklanjutinya, serta sudah melakukan beberapa pertemuan dengan K/L terkait dalam upaya percepatan ini,” kata MTA dalam keterangannya, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, dalam hal pemenuhan daging 2026 ini terutama untuk memenuhi pasokan menghadapi tradisi meugang, PEMA akan melakukan mekanisme business to business dengan BUMN atau perusahaan yang saat ini memegang kuota impor daging.
Kebutuhan daging Aceh pada tahun 2026, jelasnya berkisar 9.618 ton. Berdasarkan data tahun 2025 kebutuhan setiap momen khusus meugang saja rata-rata sekitar 1.000 sampai 1.500 ton lebih, selebihnya untuk kebutuhan harian masyarakat dan dunia usaha tahun berjalan.
“Berbagai langkah dan kebijakan pemulihan kondisi sedang terus dilakukan oleh Pemerintah Aceh di bawah supervisi ekstra pemerintah pusat. Dalam berbagai kesempatan gubernur selalu berharap agar semua pihak terus bersatu, bersama-sama dengan masyarakat untuk Aceh lebih baik, bangkit dari bencana ini,” ujar MTA.
Sebelumnya, Mualem menyarankan pemerintah pusat mengimpor sapi agar masyarakat dapat menyantap daging saat hari meugang. Mualem menyampaikan hal itu dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana DPR dengan kementerian/lembaga dan kepala daerah di Banda Aceh, Selasa (30/12/2025).
“Ini saya alamatkan ke Pak Purbaya sama Pak Mendagri. Sebentar lagi kita menjelang Ramadhan, jadi Aceh kalau tidak makan daging rasanya Ramadhan nggak sah,” kata Mualem.
Mualem mengatakan, harga daging di Aceh selama ini termahal di Indonesia. Ketika meugang sebelumnya, harga daging sapi atau kerbau mencapai Rp 200 ribu perkilogram.
Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu memperkirakan harga daging saat meugang kali ini mencapai Rp 300 ribu perkilogram. Hal itu disebabkan banyak hewan ternak mati.
“Jadi kepada Pak Mendagri dan Pak Purbaya mohon dagingnya pak atau sapi utuh untuk kita apakah jual atau kita kasih kepada masyarakat yang terdampak supaya (mereka) dapat menikmati dagingnya,” jelas Mualem.
“Saya rasa boleh impor pak dimana-mana, di Australia atau pun di India yang murah. Ini saya sarankan pak, karena banyak ternak yang jadi korban. Di tempat saya di kampung saya ada agen sapi sampai 300 ekor musnah sapinya dampak banjir,” lanjut Ketua Umum Partai Aceh itu.
Meugang merupakan tradisi masyarakat Aceh membeli daging sapi atau kerbau untuk kemudian dimasak dan disantap bersama keluarga. Tradisi meugang ini sudah dilakukan sejak masa Sultan Iskandar Muda memimpin Tanah Rencong.
Dalam setahun, ada tiga kali meugang yaitu dua atau tiga hari sebelum Ramadan, sehari sebelum lebaran Idul Fitri dan dua hari sebelum lebaran Idul Adha.
“Saat meugang semua orang statusnya sama baik orang kaya ataupun miskin. Mereka semua beli daging untuk dimakan bersama keluarga,” kata kolektor manuskrip kuno Aceh, Tarmizi Abdul Hamid kepada infocom beberapa waktu lalu.
Tentang Meugang
Meugang merupakan tradisi masyarakat Aceh membeli daging sapi atau kerbau untuk kemudian dimasak dan disantap bersama keluarga. Tradisi meugang ini sudah dilakukan sejak masa Sultan Iskandar Muda memimpin Tanah Rencong.
Dalam setahun, ada tiga kali meugang yaitu dua atau tiga hari sebelum Ramadan, sehari sebelum lebaran Idul Fitri dan dua hari sebelum lebaran Idul Adha.
“Saat meugang semua orang statusnya sama baik orang kaya ataupun miskin. Mereka semua beli daging untuk dimakan bersama keluarga,” kata kolektor manuskrip kuno Aceh, Tarmizi Abdul Hamid kepada infocom beberapa waktu lalu.







