Salah satu koleksi yang menarik perhatian pengunjung di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara adalah abal-abal, peti mati tradisional milik Etnik Batak Toba. Koleksi ini tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga merekam cara pandang masyarakat Batak Toba terhadap kematian dan pencapaian hidup seseorang.
Berdasarkan keterangan arsip Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, abal-abal merupakan peti mati yang terbuat dari kayu pohon bintatar dan digunakan untuk jenazah yang telah mencapai status sosial tertentu dalam adat Batak Toba.
“Peti mati seperti ini dipergunakan oleh Etnik Batak Toba untuk tempat jenazah yang sudah gabe atau saur matua,” tertulis dalam keterangan koleksi Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara.
Dalam kajian antropologi, saur matua dimaknai sebagai kondisi kematian paling ideal dalam budaya Batak Toba. Antropolog Koentjaraningrat menjelaskan bahwa status ini menunjukkan seseorang telah menyelesaikan seluruh kewajiban sosialnya selama hidup.
“Dalam masyarakat Batak Toba, kematian saur matua dipandang sebagai kematian sempurna karena semua anak telah menikah dan memiliki keturunan,” tulis Koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi.
Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Antropolog J.C. Vergouwen dalam penelitiannya tentang masyarakat Batak Toba. Ia menyebut bahwa kematian saur matua bukan hanya peristiwa duka, tetapi juga peristiwa adat yang mengandung unsur kehormatan.
“Upacara kematian saur matua merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada orang tua yang dianggap berhasil menjaga kelangsungan marga,” tulis J.C. Vergouwen dalam The Social Organisation and Customary Law of the Toba-Batak.
Dalam konteks ini, penggunaan abal-abal memiliki makna simbolik yang kuat. Peti mati bukan sekadar wadah jenazah, melainkan penanda status sosial, spiritual, dan keberhasilan hidup seseorang menurut nilai adat Batak Toba.
Peneliti budaya Batak, Sitor Situmorang, juga menegaskan bahwa kematian saur matua sering kali dirayakan melalui prosesi adat yang melibatkan keluarga besar dan komunitas marga.
“Kematian saur matua tidak hanya ditangisi, tetapi juga dihormati melalui ritus adat sebagai bentuk syukur atas kehidupan yang paripurna,” tulis Sitor Situmorang dalam esai-esai kebudayaan Batak.
Keberadaan koleksi abal-abal di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menjadi sarana penting bagi publik untuk memahami bahwa tradisi kematian dalam budaya Batak Toba sarat dengan nilai tanggung jawab, kehormatan, dan kesinambungan generasi.
Melalui koleksi ini, museum tidak hanya menampilkan artefak, tetapi juga menghadirkan narasi tentang bagaimana masyarakat Batak Toba memaknai kehidupan, kematian, dan hubungan antargenerasi dalam bingkai adat dan budaya.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta program Maganghub Kemnaker di infocom.







