Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Aceh mengalami inflasi year on year pada Desember 2025 sebesar 6,71 persen. Inflasi itu menandakan kenaikan harga sejumlah barang.
Plt Kepala BPS Aceh Tasdik Ilhamudin, mengatakan, inflasi tertinggi di Aceh terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 8,90 persen dengan IHK 117,81 dan inflasi terendah di Meulaboh dan Kota Lhokseumawe sebesar 5,56 persen. Penyebab inflasi secara tahunan itu karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran.
“Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Aceh di 5 kabupaten/kota, pada Desember terjadi inflasi y-on-y sebesar 6,71 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,21 pada Desember 2024 menjadi 114,40 pada Desember 2025,” kata Tasdik kepada wartawan, Selasa (6/1/2026).
Menurutnya, ada sejumlah komoditas penyumbang inflasi antara lain beras, emas perhiasan, cabai merah, ikan tongkol/ ikan ambu-ambu, ikan dencis, telur ayam ras, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), ikan bandeng/ikan bolu.
Sementara 10 komoditas yang dominan memberikan andil deflasi antara lain tomat, sekolah menengah atas, sekolah menengah pertama, mainan anak, detergen cair, bawang putih, baju muslim wanita, mangga, sabun detergen bubuk, kunyit.
Tasdik menyebutkan, inflasi yang terjadi di Aceh akhir tahun lalu termasuk tertinggi sejak Januari 2024. Inflasi sebelumnya berada di angka di bawah 5 persen.
Bila dilihat secara month to month (m-to-m), Provinsi Aceh pada Desember 2025 sebesar mengalami inflasi sebesar 3,60 persen dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) Provinsi Aceh pada Desember 2025 sebesar 6,71 persen.
Inflasi m-to-m itu disebabkan kenaikan harga sejumlah komoditas di antaranya beras, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, telur ayam ras, bawang merah, nasi dengan lauk, daging ayam ras, tomat, ikan dencis, ikan bandeng/ikan bolu.
“Secara kabupaten kota, Aceh Tengah mengalami inflasi y-on-y sebesar 8,90 persen, Aceh Tamiang 7,13 persen, Banda Aceh 6,10 persen, Meulaboh dan Kota Lhokseumawe masing-masing 5,56 persen,” jelas Tasdik.







