Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menyimpan salah satu artefak penting dari kebudayaan Nias, yakni Adu Zatua. Bagi masyarakat Nias, patung ini bukan sekadar karya seni, melainkan representasi kehadiran spiritual leluhur dalam kehidupan keluarga.
Berdasarkan keterangan panel koleksi museum, Adu Zatua merupakan patung ayah yang diukir oleh keturunannya setelah sang ayah wafat. Orang tua dalam kepercayaan tradisional Nias dipandang sebagai manifestasi para dewa yang tampak di dunia.
“Bagi orang Nias, orang tua adalah manifestasi para dewa yang kasat mata. Mereka adalah pelindung yang mampu menyediakan berbagai kebutuhan,” tertulis dalam penjelasan koleksi Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara.
Adu Zatua diyakini berfungsi sebagai pengganti ayah yang telah meninggal dunia. Patung ini dipercaya tetap memiliki pengaruh terhadap kehidupan anak dan cucunya, baik dalam bentuk perlindungan maupun peringatan.
“Adu Zatua diyakini dapat menjadi pengganti ayah yang telah meninggal dunia dan memiliki kekuatan atas anak cucu,” demikian keterangan panel museum.
Dalam kajian antropologi, pemujaan terhadap patung leluhur merupakan bagian dari sistem kepercayaan masyarakat Nias sebelum masuknya agama-agama besar. Antropolog Peter Suzuki menjelaskan bahwa masyarakat Nias memandang hubungan antara yang hidup dan yang telah meninggal sebagai relasi yang terus berlanjut.
“Ancestor figures in Nias society function as intermediaries between the living and the spiritual world, maintaining order and moral conduct within the family,” tulis Peter Suzuki dalam The Religious System of the Nias People.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh antropolog Belanda J.P.B. de Zwaan, yang menekankan bahwa patung-patung leluhur Nias memiliki fungsi sosial dan moral.
“Patung leluhur tidak hanya berfungsi religius, tetapi juga menjadi sarana pengendalian sosial agar keturunan tetap mematuhi norma dan adat nenek moyang,” tulis J.P.B. de Zwaan dalam kajian etnografi tentang masyarakat Nias.
Kepercayaan tersebut tercermin dalam keyakinan bahwa Adu Zatua dapat mendatangkan malapetaka apabila keturunannya melanggar perintah leluhur. Sebaliknya, selama adat dan aturan keluarga dijalankan, patung leluhur dipercaya akan memberikan perlindungan dan kesejahteraan.
Keberadaan Adu Zatua di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menjadi sarana edukasi penting untuk memahami bagaimana masyarakat Nias memaknai hubungan antara manusia, leluhur, dan dunia spiritual. Koleksi ini menunjukkan bahwa dalam kebudayaan Nias, seni ukir tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan dan nilai-nilai kehidupan sosial.
Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di infocom
Kepercayaan tersebut tercermin dalam keyakinan bahwa Adu Zatua dapat mendatangkan malapetaka apabila keturunannya melanggar perintah leluhur. Sebaliknya, selama adat dan aturan keluarga dijalankan, patung leluhur dipercaya akan memberikan perlindungan dan kesejahteraan.
Keberadaan Adu Zatua di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menjadi sarana edukasi penting untuk memahami bagaimana masyarakat Nias memaknai hubungan antara manusia, leluhur, dan dunia spiritual. Koleksi ini menunjukkan bahwa dalam kebudayaan Nias, seni ukir tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan dan nilai-nilai kehidupan sosial.
Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di infocom
