Akademisi: 4 Etnis di Kaldera Toba Kunci Pengembangan Pariwisata Kolaboratif

Posted on

Dosen Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Medan, Ellyta Tambunan mengungkapkan 4 etnis yang terdapat di kawasan Geopark Kaldera Toba menjadi kunci pengembangan pariwisata kolaboratif. Keempat etnis ini adalah Toba, Simalungun, Pakpak dan Karo.

Ellyta menyebut, kolaborasi antar etnis ini dapat meningkatkan nilai keunikan di masing-masing daerah yang masuk kawasan geopark Toba.

“Misalnya etnis Karo itu bisa berkolaborasi dengan Toba. Misalnya dalam bentuk kriya. Jadi unik. Dia kan selama ini kalau Toba punya gorga batak. Tapi kalau dikasih desain unsur etnik lain, disebut culturan fushion job dia pengkolaborasian dalam nilai sejarah,” ujar Ellyta usai sidang promosi doktor di sekolah pascasarjana Perencanaan Wilayah Universitas Sumatra Utara (USU), Jumat (9/1/2026).

Doktor di bidang perencanaan wilayah ini mengatakan, kolaborasi ini memungkinkan integrasi antar etnis dan wilayah di geopark Toba. Menurutnya, empat etnis ini memiliki nilai sejarah yang tinggi karena merupakan masyarakat asli di sekitar Kaldera Toba.

“Kenapa bisa dikolaborasikan karena mereka mendiami tempat yang sama sebenarnya. Kaldera Toba. Bukan pendatang. Jadi kolaborasinya bisa dilakukan dan sebenarnya tidak dilarang kolaborasi itu,” tambahnya.

Ellyta menjelaskan, adanya kolaborasi antar etnis di sekitar Kaldera Toba juga meminimalisir kemungkinan pengembangan wisata yang terkotak-kotak (fragmentasi). Ia juga menyebut, dominasi salah satu dari 4 etnis juga bisa diminimalisir dan diseimbangkan.

“Asalkan kita tahu tujuannya sama atau tidak. Supaya tidak terjadi fragmentasi atau terpisah. Selama ini yang mendominasi itu karena klaster Toba banyak dia jadi mendominasi. Sementara Simalungun, Pakpak dan Karo agak lemah dia dalam hal penguatan identitas. Nah melalui klaster ini tidak ada seperti itu nanti,” ucapnya.

Ia juga berharap dalam pengembangan pariwisata berbasis klaster etnis ini dapat menghasilkan geoproduk yang berpengaruh langsung terhadap perekonomian masyarakat lokal.

“Jika sudah berbasis etnik. Dihasilkanlah geoproduk berbasis etnik. Supaya adanya kolaborasi tadi si geopark ini mewadahinya,” ungkapnya.

Pengembangan pariwisata berbasis klaster 4 etnis ini merupakan penelitian disertasi program doktor yang ia jalani.

Menurut Ellyta, tujuan dalam penelitian ini adalah mendukung adanya pariwisata berkelanjutan. Baik dari sektor ekonomi, sosial dan budaya.

“Bahwa identitas etnik Batak tetap bisa diregenerasi kelak. Karena tidak akan hilang dalam rangka diperjualbelikan dalam bentuk barang, tetapi punya nilai lebih dalam lagi bahwa semua orang harus bangga dengan identitasnya sendiri,” tutupnya.