Tahlilan merupakan tradisi yang kerap digelar masyarakat muslim di Indonesia untuk mempererat silaturahmi dan menjadi jembatan doa bagi mereka yang sudah meninggal dunia. Namun di tengah umat Islam sering kali muncul pertanyaan, apakah pelaksanaan tahlilan tersebut wajib?
Terkait hal ini, ada pendapat yang berbeda di kalangan ulama. Berikut ini penjelasannya.
Dilansir infoHikmah dari dalam buku Amaliah Aswaja Nahdliyah: Dalil Syar’i Tradisi Nahdliyin oleh A. Fatih Syuhud, tahlil, secara etimologis, adalah bentuk masdar dari fi’il madhi hallala, yuhallihu, tahlilan.
Sedangkan tahlil secara bahasa bermakna ucapan Lailaha Illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah). Secara istilah, tahlil atau tahlilan adalah tradisi dzikir dan doa bersama.
Amalan tersebut biasa dilakukan oleh warga Nahdlatul Ulama (NU).
Salah satu tujuan dari digelar tahlil yakni untuk mendoakan orang yang telah meninggal pada hari pertama sampai ketujuh, 40 hari, 100 hari, 1000 hari dan haul (pertahun). Selain sebagai sarana doa bagi orang yang sudah meninggal, tahlil juga biasa diadakan untuk keperluan hajat lain seperti syukuran.
Tahlil juga sering diadakan dalam kelompok masyarakat sebagai sarana silaturahmi rutin yang dilakukan secara bergantian, misalnya setiap malam Jumat, malam Minggu, dan lain sebagainya.
Menggelar tahlilan pada 3, 7, 40, 100 hari bagi orang yang sudah meninggal tidaklah wajib. Sebab tidak ada perintah yang menyatakan secara spesifik terkait pelaksanaan tahlilan.
detihHikmah tidak menemukan dalil, baik Al-Qur’an maupun hadits terkait hal tersebut.
Namun, di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat terkait pelaksanaan tahlilan bagi orang yang sudah meninggal. Masih mengacu sumber yang sama, Abu Ali Al-Syaukani, salah satu tokoh Salafi asal Yaman, memiliki pandangan yang sama dengan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).
Dia menyatakan:
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
الْعَادَةُ الْجَارِيَةُ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ مِنَ الاِجْتِمَاعِ فِي الْمَسْجِدِ لِتِلاوَةِ الْقُرْآنِ عَلَى الْأَمْوَاتِ وَكَذَلِكَ فِي الْبُيُوْتِ وَسَائِرِ الاِجْتِمَاعَاتِ الَّتِي لَمْ تَرِدْ فِي الشَّرِيعَةِ لَا شَكٍّ إِنْ كَانَتْ خَالِيَةُ عَنْ مَعْصِيَةٍ سَالِمَةً مِنَ الْمُنْكَرَاتِ فَهِيَ جَائِزَةٌ لأَنَّ الاِجْتِمَاعَ لَيْسَ بِمُحَرَّمٍ بِنَفْسِهِ لَا سِيَّمَا إِذَا كَانَ لِتَحْصِيْلِ طَاعَةٍ كَالتَّلَاوَةِ وَنَحْوِهَا وَلَا يُقْدَحُ فِي ذَلِكَ كَوْنُ تِلْكَ التَّلَاوَةِ مَجْعُوْلَةً لِلْمَيِّتِ فَقَدْ وَرَدَ جِئْسُ التَّلَاوَةِ مِنَ الْجَمَاعَةِ الْمُجْتَمِعِينَ كَمَا فِي حَدِيْثِ اقْرَأَوْا يَس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ وَلَا فَرْقَ بَيْنَ تِلاوَةِ يس مِنَ الْجَمَاعَةِ الْحَاضِرِيْنَ عِنْدَ الْمَيِّتِ أَوْ عَلَى قَبْرِهِ وَبَيْنَ تِلَاوَةِ جَمِيعِ الْقُرْآنِ أَوْ بَعْضِهِ لِمَيِّتٍ فِي مَسْجِدِهِ أَوْ بَيْتِهِ.
Artinya: “Tradisi yang berlaku di sebagian negara dengan berkumpul di masjid untuk membaca al-Qur’an dan dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal, begitu pula perkumpulan di rumah-rumah, maupun perkumpulan lainnya yang tidak ada dalam syariah, tidak diragukan lagi apabila perkumpulan tersebut tidak mengandung maksiat dan kemungkaran, hukumnya adalah boleh. Sebab pada dasarnya perkumpulannya sendiri tidak diharamkan, apalagi dilakukan untuk ibadah seperti membaca al-Qur’an dan sebagainya. Dan tidaklah dilarang menjadikan bacaan al-Qur’an itu untuk orang yang meninggal. Sebab membaca al-Qur’an secara berjamaah ada dasarnya seperti dalam hadits: Bacalah Yasin pada orang-orang yang meninggal. Ini adalah hadits sahih. Dan tidak ada bedanya antara membaca Yasin berjamaah di depan mayit atau di kuburannya, membaca seluruh al-Qur’an atau sebagiannya, untuk mayit di masjid atau di rumahnya.”
Di sisi lain, sebagian ulama dari mazhab Maliki menilai pahala membaca Al-Qur’an yang dihadiahi kepada orang yang sudah meninggal, tidak akan sampai kepada mayit. Oleh karena itu praktik ini dianggap tidak perlu dilakukan.
Hal ini seperti dikatakan Syekh Ad-Dasuqi dalam Hasyiyatud Dasuqi Alas Syarhil Kabir, dinukil NU Online.
قَالَ فِي التَّوْضِيحِ فِي بَابِ الْحَجِّ الْمَذْهَبُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا تَصِلُ لِلْمَيِّتِ حَكَاهُ الْقَرَافِي فِي قَوَاعِدِهِ وَالشَّيْخُ ابْنُ أَبِي جَمْرَةَ
Artinya: “Penulis kitab At-Taudhih berkata dalam kitab At-Taudhih, bab Haji: Pendapat yang diikuti dalam mazhab Maliki adalah bahwa pahala bacaan tidak sampai kepada mayit. Pendapat ini diceritakan oleh Syekh Qarafi dalam kitab Qawaidnya, dan Syekh Ibnu Abi Jamrah.”
Artikel ini telah tayang di infoHikmah, baca selengkapnya
Makna-Pengertian Tahlil
Apa Hukum Tahlilan?
Menggelar tahlilan pada 3, 7, 40, 100 hari bagi orang yang sudah meninggal tidaklah wajib. Sebab tidak ada perintah yang menyatakan secara spesifik terkait pelaksanaan tahlilan.
detihHikmah tidak menemukan dalil, baik Al-Qur’an maupun hadits terkait hal tersebut.
Namun, di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat terkait pelaksanaan tahlilan bagi orang yang sudah meninggal. Masih mengacu sumber yang sama, Abu Ali Al-Syaukani, salah satu tokoh Salafi asal Yaman, memiliki pandangan yang sama dengan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).
Dia menyatakan:
الْعَادَةُ الْجَارِيَةُ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ مِنَ الاِجْتِمَاعِ فِي الْمَسْجِدِ لِتِلاوَةِ الْقُرْآنِ عَلَى الْأَمْوَاتِ وَكَذَلِكَ فِي الْبُيُوْتِ وَسَائِرِ الاِجْتِمَاعَاتِ الَّتِي لَمْ تَرِدْ فِي الشَّرِيعَةِ لَا شَكٍّ إِنْ كَانَتْ خَالِيَةُ عَنْ مَعْصِيَةٍ سَالِمَةً مِنَ الْمُنْكَرَاتِ فَهِيَ جَائِزَةٌ لأَنَّ الاِجْتِمَاعَ لَيْسَ بِمُحَرَّمٍ بِنَفْسِهِ لَا سِيَّمَا إِذَا كَانَ لِتَحْصِيْلِ طَاعَةٍ كَالتَّلَاوَةِ وَنَحْوِهَا وَلَا يُقْدَحُ فِي ذَلِكَ كَوْنُ تِلْكَ التَّلَاوَةِ مَجْعُوْلَةً لِلْمَيِّتِ فَقَدْ وَرَدَ جِئْسُ التَّلَاوَةِ مِنَ الْجَمَاعَةِ الْمُجْتَمِعِينَ كَمَا فِي حَدِيْثِ اقْرَأَوْا يَس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ وَلَا فَرْقَ بَيْنَ تِلاوَةِ يس مِنَ الْجَمَاعَةِ الْحَاضِرِيْنَ عِنْدَ الْمَيِّتِ أَوْ عَلَى قَبْرِهِ وَبَيْنَ تِلَاوَةِ جَمِيعِ الْقُرْآنِ أَوْ بَعْضِهِ لِمَيِّتٍ فِي مَسْجِدِهِ أَوْ بَيْتِهِ.
Artinya: “Tradisi yang berlaku di sebagian negara dengan berkumpul di masjid untuk membaca al-Qur’an dan dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal, begitu pula perkumpulan di rumah-rumah, maupun perkumpulan lainnya yang tidak ada dalam syariah, tidak diragukan lagi apabila perkumpulan tersebut tidak mengandung maksiat dan kemungkaran, hukumnya adalah boleh. Sebab pada dasarnya perkumpulannya sendiri tidak diharamkan, apalagi dilakukan untuk ibadah seperti membaca al-Qur’an dan sebagainya. Dan tidaklah dilarang menjadikan bacaan al-Qur’an itu untuk orang yang meninggal. Sebab membaca al-Qur’an secara berjamaah ada dasarnya seperti dalam hadits: Bacalah Yasin pada orang-orang yang meninggal. Ini adalah hadits sahih. Dan tidak ada bedanya antara membaca Yasin berjamaah di depan mayit atau di kuburannya, membaca seluruh al-Qur’an atau sebagiannya, untuk mayit di masjid atau di rumahnya.”
Di sisi lain, sebagian ulama dari mazhab Maliki menilai pahala membaca Al-Qur’an yang dihadiahi kepada orang yang sudah meninggal, tidak akan sampai kepada mayit. Oleh karena itu praktik ini dianggap tidak perlu dilakukan.
Hal ini seperti dikatakan Syekh Ad-Dasuqi dalam Hasyiyatud Dasuqi Alas Syarhil Kabir, dinukil NU Online.
قَالَ فِي التَّوْضِيحِ فِي بَابِ الْحَجِّ الْمَذْهَبُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا تَصِلُ لِلْمَيِّتِ حَكَاهُ الْقَرَافِي فِي قَوَاعِدِهِ وَالشَّيْخُ ابْنُ أَبِي جَمْرَةَ
Artinya: “Penulis kitab At-Taudhih berkata dalam kitab At-Taudhih, bab Haji: Pendapat yang diikuti dalam mazhab Maliki adalah bahwa pahala bacaan tidak sampai kepada mayit. Pendapat ini diceritakan oleh Syekh Qarafi dalam kitab Qawaidnya, dan Syekh Ibnu Abi Jamrah.”
Artikel ini telah tayang di infoHikmah, baca selengkapnya
