Siswa-siswi SMP YPSA berhasil borong medali dalam ajang Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEX) 2026 berlangsung pada 5-9 Januari 2026 di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Bangkok, Thailand. Salah satu siswa yang meraih prestasi adalah Ar Rasyid Bakhtiar Sibarani yang masuk ke dalam tim peraih medali perunggu.
Ar Rasyid adalah putra dari mantan Bupati Tapteng Bakhtiar Ahmad Sibarani. Dia dan tim meraih medali dengan produk pewarna alami dari tanaman endemik Sumatera Utara.
Kepala SMP YPSA Linda Haryati menjelaskan ajang IPITEX merupakan salah satu pameran inovasi dan penemuan terbesar di Asia yang mempertemukan pelajar, akademisi, serta peneliti dari berbagai negara untuk menampilkan karya-karya unggulan di bidang sains, teknologi, dan inovasi. Keikutsertaan siswa-siswi YPSA dalam IPITEX 2026 menjadi bukti komitmen YPSA dalam mendorong budaya riset, kreativitas, dan inovasi sejak dini, sekaligus memperluas wawasan global peserta didik.
“Para siswa SMP YPSA ini berhasil membawa pulang 2 medali Perak dan 2 medali Perunggu”, ujar Linda dikutip dari laman resmi YPSA, Kamis (15/1/2026)
Linda menerangkankan tim pertama dengan produk Friendcil meraih medali Perak, beranggotakan Wan Queen Khumairah, Ahmad Yusuf Sulaiman, Deandra Azzalia, Amora Azzahra, Nayyara Carissa Rinaldy, Agha Naufal Hasrimi. Friendcil adalah sebuah pencil warna ramah lingkungan yang terbuat dari biokomposit bagas tebu dan eceng gondok, fitopigmen alami, dan ektrak aromatik asli sumatera utara. Pensil ramah lingkungan tidak hanya biodegradable dan tidak beracun tetapi juga menawarkan menfaat edukatif dan sensorik, menjadikannya alternatif yang menjanjikan untuk pensil warna konvensional.
Tim kedua berhasil meraih medali Perak dengan inovasi SoulMeat yaitu Produk Daging Analog berbahan dasar Tumbuhan berpotensi menjadi alternatif pangan bergizi tinggi yang dapat membantu pencegahan anemia. Biji labu kuning kaya akan protein dan asal lemak esensial sedangkan daun kelor (moringa oleifera) mengandung zat besi, vitamin, dan fitonutrien yang penting dalam pembentukan hemoglobin. Tim ini beranggotakan Aisyah Zidni Kanaya Rangkuti, Selvia Anjar Kasih, Raysa Azzahra Sylvana Ginting, Rasya Keenan Wibawa Ginting, Afiqa Rahma Sari Damanik, Muhammad Chairuddin Martua Lubis.
Tim ketiga meraih medali Perunggu dengan membawa produk Eleaftricity, yaitu mengeksplorasi pewarna alami dari tanaman endemik Sumatera Utara sebagai fotosensitizer murah dan ramah lingkungan untuk Sel Surya Sensitif Pewarna (DSSC). Tim ini beranggotakan Omar Ghani Mutyara, Shafin Mubarak Akbar Hasibuan, Ar Rasyid Bakhtiar Sibarani, Kanza Alya Rafiqa, Muhammad Reyhan Armando Pohan, Alia Kanaya Tarigan, Muhammad Fadel Ghani.
Sedangkan tim keempat meraih medali Perunggu dengan produk Spraydom, yaitu pengobatan farmakologis konvensional dapat menyebabkan ketergantungan dan efek samping, menyoroti kebutuhan akan intervensi non-farmakologis. Tim ini beranggotakan Nafisah Ryanti Nainggolan, Maliqha Putri Chairunnisa, Cut Shafira Alifya, Ratu Naila Hummaira Ray, Keisha Aaliya Ersa, Fazilla Ashabira Jayabaya, dan Rifqah Kirana.
“Prestasi tersebut sekaligus mengharumkan nama YPSA serta Provinsi Sumatera Utara di kancah dunia”, akhiri Linda.
Kepala Departemen Pendidikan dan IT YPSA, Bagoes Maulana, M.Kom., menyampaikan bahwa YPSA berkomitmen menjadikan riset sebagai salah satu keunggulan utama dalam proses pembelajaran.
“Ini merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk menjadikan SMP YPSA sebagai sekolah unggulan di Kota Medan dan Sumatera Utara, serta menjadi pilihan terbaik bagi siswa dan orang tua,” tegasnya.







