Ikan arsik menjadi salah satu hidangan yang kerap disajikan dalam berbagai acara adat Batak. Kuliner khas Sumatera Utara ini dikenal dengan cita rasanya yang kaya rempah serta tampilan yang khas, sehingga mudah dikenali. Di balik kelezatannya, ikan arsik menyimpan sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari tradisi, kepercayaan, dan kehidupan masyarakat Batak sejak dahulu.
Berdasarkan kajian Jurnal Gastronomi Indonesia tentang kuliner tradisional Batak Toba, pada masa awalnya masyarakat Batak belum menggunakan ikan mas dalam setiap upacara adat. Ikan yang lebih dahulu digunakan adalah ikan jurung, yakni ikan air tawar yang hidup di perairan Danau Toba, terutama di wilayah Kabupaten Samosir dan sekitarnya.
Penangkapan ikan ini tidak boleh dilakukan sembarangan karena dianggap memiliki nilai sakral dan hanya boleh diambil pada waktu-waktu tertentu, khususnya saat upacara adat. Karena kesakralannya, ikan ini dikenal dengan sebutan dekke si tiho atau ikan suci .
Perubahan mulai terjadi seiring berkembangnya budidaya ikan mas di Indonesia. Sejumlah literatur mencatat bahwa ikan mas mulai dibudidayakan secara luas di luar Pulau Jawa sejak awal abad ke-20. Di Bukittinggi, Sumatera Barat, ikan mas pertama kali diperkenalkan pada tahun 1892 dan mulai dibudidayakan secara intensif pada 1903.
Sementara itu, di wilayah Padang Sidempuan, Sumatera Utara, ikan mas juga diperkenalkan pada tahun yang sama. Masuknya ikan mas ke wilayah Sumatera kemudian memengaruhi perubahan bahan utama dalam masakan adat Batak, termasuk dalam pengolahan ikan arsik (sumber kajian sejarah perikanan tradisional Sumatera).
Seiring ketersediaannya yang semakin mudah, ikan mas perlahan menggantikan posisi ikan jurung dalam berbagai upacara adat Batak. Ikan arsik kemudian berkembang menjadi salah satu masakan tradisional khas suku Batak Toba yang memiliki kedudukan penting dalam budaya masyarakatnya.
Hidangan ini pada awalnya tidak dikonsumsi sehari-hari, melainkan disiapkan khusus untuk upacara adat dan ritual penting seperti pernikahan, pesta tujuh bulan kehamilan (mambosuri), mangupa, pembaptisan anak, serta berbagai acara keluarga yang menandai fase kehidupan manusia Batak.
Dalam konteks budaya Batak, ikan arsik tidak sekadar berfungsi sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol doa, restu, dan harapan baik bagi orang yang menerimanya. Nilai ini mencerminkan kuatnya hubungan antara kuliner, spiritualitas, dan sistem sosial dalam kehidupan masyarakat Batak Toba, sebagaimana dijelaskan dalam kajian etnografi makanan tradisional Sumatera Utara.
Dalam Jurnal Gastronomi Indonesia juga menjelaskan bahwa secara bahan, ikan arsik berasal dari ikan mas yang diolah dengan beragam rempah khas, terutama andaliman. Andaliman merupakan rempah asli Sumatera Utara yang dikenal memiliki cita rasa getir dan pedas, serta aroma yang khas. Dalam praktiknya, andaliman dipadukan dengan berbagai bumbu lain agar menghasilkan rasa yang seimbang. Ikan yang digunakan biasanya masih hidup saat diolah, sebagai simbol kesegaran dan penghormatan terhadap bahan makanan.
Dalam tradisi Batak, ikan arsik harus disajikan dalam keadaan utuh, mulai dari kepala hingga ekor, termasuk sisiknya yang tidak boleh dibuang. Penyajian ini melambangkan keutuhan kehidupan manusia. Ikan juga tidak boleh dipotong-potong karena dipercaya memiliki makna simbolis yang kurang baik, terutama terkait harapan akan keturunan.
Selain itu, ikan arsik disusun seolah-olah sedang berenang, dengan posisi kepala menghadap kepada orang yang menerima hidangan. Jika disajikan lebih dari satu ekor, maka seluruh ikan harus disusun sejajar.
Tradisi ini dikenal dengan istilah dekke si mundur, yang bermakna harapan agar keluarga yang menerima ikan tersebut dapat berjalan seiring dan sejalan dalam kehidupan. Nilai kebersamaan ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Batak yang menjunjung solidaritas dan kekuatan kolektif dalam menghadapi berbagai rintangan kehidupan.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Melalui pemahaman sejarah dan makna di balik ikan arsik, masyarakat tidak hanya mengenal cara pengolahannya, tetapi juga dapat memahami nilai budaya, sosial, dan spiritual yang terkandung di dalam salah satu warisan kuliner Batak Toba tersebut.
Artikel ini ditulis Citra Puja Kharisma, mahaswa UIN Sumut praktik kerja lapangan di infoSumut.







