Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan 200 orang verifikator untuk memverifikasi 26 ribu unit rumah terdampak bencana banjir di Bireuen, Aceh. Proses verifikasi ditargetkan selesai dalam sepekan.
Plt Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen Doli Mardian, mengatakan, tim verifikator terjunkan setelah mengikuti bimbingan teknis dan mereka sudah bekerja selama dua hari. Setiap desa, ada dua petugas verifikasi yang ditugaskan.
“Verifikator bertugas memverifikasi data rumah yang hilang atau rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan. Setelah proses verifikasi rumah terdampak bencana, akan dilakukan proses uji publik. Data daftar rumah-rumah tersebut akan diumumkan di desa masing-masing,” kata Doli dalam keterangannya, Jumat (23/1/2026).
Setelah proses uji publik selesai, katanya, dilanjutkan ke tahapan selanjutnya. Doli menjelaskan pemilik rumah hilang atau rusak berat yang memilih hunian tetap (huntap) mandiri, pembangunannya akan dilakukan oleh BNPB.
Menurutnya, pembangunan huntap di Bireuen ditargetkan dimulai Februari mendatang. Saat ini sudah ada rumah percontohan dibangun BNPB di daerah tersebut.
“Sebelumnya di Desa Balee Panah, Juli, sudah dibangun tiga unit rumah contoh oleh BNPB,” ujarnya.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Bireuen, Fadli, mengatakan pihaknya sudah mengirimkan data hunian tetap terpusat ke Kementerian Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Jumlah huntap terpusat direncanakan 48 unit dan seluruhnya berada di Gampong Krueng Simpo, Kecamatan Juli.
Fadli menjelaskan, dari 48 unit huntap terpusat tersebut, 31 unit berada di Dusun Bivak, dan 17 Unit di Dusun Alue Keumiki. Kementerian PKP disebut hanya membangun huntap yang terkonsentrasi pada satu titik.
“Jadi mereka membangun hunian tetap seperti komplek. Berada di satu titik dalam jumlah tertentu. Mudah-mudahan Kementerian PKP juga akan membangun huntap mandiri di desa terdampak seperti yang dilakukan BNPB,” ujar Fadli.
