Di balik deretan koleksi yang tersimpan rapi di Museum Pusaka Karo, ada kisah tentang kepercayaan dan kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya lokal. Sebagian besar koleksi berasal dari hibah dan titipan warga yang ingin memastikan peninggalan leluhur tetap terawat.
Benefactor utama Museum Pusaka Karo adalah Mehemoni br Tarigan Silangit, dari Sukajulu. Hal ini disampaikan Kurator Museum Pusaka Karo, Kriswanto Ginting.
Menurutnya, ratusan koleksi yang kini dipamerkan di museum merupakan titipan dari Mehemoni br Tarigan bersama suaminya, Wilhelmus Antonius van Herben, warga negara Belanda.
Awalnya, pasangan ini aktif merestorasi rumah-rumah adat Karo yang dikumpulkan dari beberapa kampung dan ditempatkan di Desa Sukajulu. Selain itu, mereka juga mengoleksi ratusan benda otentik khas Karo, mulai dari peralatan rumah tangga hingga perlengkapan adat.
Melihat keseriusan dan kecintaan mereka terhadap budaya Karo, Pastor Leo Joosten Ginting kemudian tertarik menjalin kerja sama untuk menitipkan koleksi tersebut ke Museum Pusaka Karo. Sejak 2015 hingga kini, ratusan koleksi itu masih berada di museum dan dirawat secara rutin oleh pengelola.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
“Benda-benda ini dipercayakan kepada museum agar dijaga dan dirawat, supaya bisa dinikmati masyarakat luas, khususnya generasi muda,” ujar Kriswanto, Selasa (6/1/2025).
Dengan luas bangunan sekitar 15 x 30 meter, Museum Pusaka Karo melakukan perawatan koleksi secara berkala, meski dengan fasilitas yang terbatas. Perawatan dilakukan dua kali dalam sebulan dengan fokus pada pengontrolan dan pencegahan.
Pengontrolan mencakup pengecekan ruang pamer dan vitrin penyimpanan, seperti pembersihan debu, pengaturan suhu, serta kondisi lemari pamer. Sementara pencegahan dilakukan dengan mendeteksi koleksi yang rentan berjamur akibat kelembapan, serta kemungkinan serangan rayap pada benda-benda berbahan kayu.
Jika ditemukan koleksi yang berisiko rusak, pihak museum akan memindahkannya sementara atau melakukan karantina. Langkah ini dinilai penting mengingat keterbatasan museum dalam melakukan tindakan konservasi dengan bahan kimia khusus.
Karena itu, perawatan kuratif sederhana dianggap paling memungkinkan untuk menjaga koleksi tetap aman.
Ke depan, pengelola berharap Museum Pusaka Karo bisa berkembang menjadi lebih modern dan mampu merepresentasikan kekayaan budaya Karo melalui digitalisasi. Dengan konsep tersebut, museum diharapkan tak hanya menjadi tujuan kunjungan pelajar, tetapi juga daya tarik wisata budaya bagi wisatawan yang datang ke Karo.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah maupun pusat untuk membantu keberlangsungan museum ini. Bantuan sekecil apa pun akan sangat berarti dalam menjaga warisan leluhur,” tutup Kriswanto.
Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di infocom.







