Sumatera Utara mengalami inflasi year on year mencapai 4,66% pada Desember 2025. Persentase ini lebih tinggi dibanding inflasi Nasional yang hanya 2,92%
“Inflasi secara tahunan mencatat pada Desember 2025 itu 4,66%,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Asim Saputra, Senin (5/1/2025).
Lebih lanjut, Asim menuturkan bahwa komoditi emas perhiasan turut mendorong inflasi. Ia menyebut harga emas terus meroket naik sepanjang 2025.
“Emas perhiasan pada tahun 2025 yang terus meroket harganya sehingga menyumbang inflasi secara tahunan sebesar 0,78%,” ujarnya.
Sebagai contoh, harga emas batangan cetakan Antam pada Januari 2025 masih berkisar Rp 1,5 jutaan per gram. Namun dalam waktu setahun, harga emas Antam pada Januari 2026 sudah mencapai Rp 2,6 jutaan per gram.
Selain emas, ternyata komoditi cabai merah juga turut menyumbang inflasi tahunan pada Desember 2025 sebesar 0,38%, bawang merah 0,35%. cabai rawit 0,33%, dan beras sebesar 0,30%.
Sementara itu, komoditi yang menahan laju inflasi tahunan pada Desember 2025 seperti tomat yang mengalami deflasi 0,27%, bawang putih 0,11%, jengkol 0,04%, kentang 0,03%, dan daging babi sebesar 0,02%.
Berdasarkan kota Indeks Harga Konsumen (IHK), Gunungsitoli mengalami inflasi tahunan tertinggi mencapai 10,84%, Sibolga 5,62%, Padangsidimpuan 5,46%, hingga inflasi tahunan paling rendah berada di Kabupaten Karo sebesar 3,15%.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.







