Tingkat kecelakaan kereta api di Sumut sepanjang tahun 2025 masih tinggi. Fraksi PKS DPRD Sumut meminta agar negara tidak menutup mata atas keselamatan masyarakat.
Bendahara Fraksi PKS DPRD Sumut Ahmad Hadian mengatakan jika lintas Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batu Bara menjadi penyumbang tertinggi angka kecelakaan kereta api. Setidaknya ada 18 perlintasan sebidang di lokasi itu.
“Tingginya angka kecelakaan kereta api di Sumatera Utara itu penyumbang terbesarnya itu lintas Kuala Tanjung, karena dalam beberapa bulan saja mereka sudah terjadi 10 lebih (kecelakaan), perlintasan dari Simalungun ke Pelabuhan Kuala Tanjung, itu jalur paling sibuk simpang Inalum sampai ke Kuala Tanjung itu ada sekitar 18 kilometer, itu ada sekitar 18 perlintasan,” kata Ahmad Hadian saat dihubungi, Sabtu (24/1/2026).
Sepanjang lintasan kereta api itu, disebut banyak jalan yang menuju perkampungan yang sudah ada sejak dulu. Pihak PT KAI disebut sudah membuat perlintasan menjadi tiga dan menutup sisanya dengan membuat jalan kolektor penghubung ke jalan utama.
Namun masih ada permasalahan dalam pembuatan jalan kolektor, masih ada kendala pembebasan lahan. Sehingga pembebasan lahan harus tuntas untuk menekan angka kecelakaan di lokasi itu.
“Nah permasalahannya jalan kolektor banyak yang belum bisa dibangun karena pembebasan lahannya terkendala dengan masyarakat, itu yang membuat lintasan dari Kuala Tanjung itu penyumbang kecelakaan tertinggi di Sumatera Utara. Saya sudah bolak-balik menyampaikan ini, meminta kepada pemerintah pusat dalam hal ini Balai Teknik Perkeretaapian segera bertanggungjawab, bebaskan dulu lahan masyarakat secara tuntas lalu jalan kolektor dibuat,” ujarnya.
Hadian menjelaskan jika biaya untuk membuat palang pintu lengkap dengan gardu penjaga membutuhkan sekitar Rp 2 miliar per titik. Sehingga secara hitungan biaya, pembangunan jalan kolektor dinilai lebih minim biayanya dibandingkan pembuatan palang pintu di seluruh titik.
Anggota DPRD Sumut asal dapil Batu Bara-Tanjungbalai-Asahan, ini juga membenarkan jika masih banyak perlintasan sebidang yang tidak memiliki palang pintu. Hal itu karena terjadi pertumbuhan permukiman warga.
“Memang betul banyak perlintasan sebidang yang tidak dikasih palang pintu, nah mereka berdalih bahwa itu jalan dulunya nggak ada sekarang ada, pemerintah pusat dalam hal ini Balai Teknik Perkeretaapian tidak boleh tutup mata terhadap dinamika perkembangan tata ruang yang ada karena pertumbuhan penduduk kita kan meningkat, kemudian lokasi permukiman juga meningkat ada spot-spot baru yang dulu mungkin persawahan perladangan, akhirnya mereka membutuhkan akses dong ke jalan utama, tidak bisa dipungkiri bahwa akan mengakibatkan ada perlintasan-perlintasan sebidang yang baru,” jelasnya.
Sehingga, Hadian negara harus hadir untuk melindungi masyarakat dalam hal ini perlintasan sebidang kereta api. PT KAI juga diminta untuk tidak menutup mata atas perkembangan kependudukan yang berimbas banyaknya perlintasan sebidang yang muncul.
“Secara prinsip harus diselamatkan warga ini, negara harus hadir melindunginya nyawa rakyat Sumatera Utara, jangan sampai mereka dikorbankan karena egoisme mereka yang menutup mata terhadap dinamika perkembangan kependudukan ini, kita harus menyikapi,” tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, satu unit mobil Toyota Avanza BK 1656 ABP tertabrak kereta api Sri Bilah Utama KA U53 CC 2018344. di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara (Sumut). Sembilan orang yang ada di dalam mobil tewas akibat kecelakaan maut tersebut.
Identitas 9 orang tewas yang ada di dalam mobil yakni Abdul Kadir Al Jaelani (42) sebagai sopir. Sedangkan Sedangkan delapan penumpang lainnya Rizal (59),Lalu Daratul Laila (50), Risnawati (57), Muhammad Hafiz (6), Muhammad Rafkha Attaqih (2), Asrah (80), Sri Devi (41), dan Zaitun (50).
Delapan penumpang meninggal di lokasi saat kecelakaan. Sedangkan sopir sempat mendapatkan perawatan di RS Bhayangkara Tebing Tinggi, sebelum menghembuskan nafas terakhir di sana.
“Mobil penumpang Toyota Avanza yang dikemudikan oleh Abdul Kadir membawa 8 orang penumpang kontra Kereta Api Sribilah Utama KA U53 CC 2018344,” kata Kasat Lantas Polres Tebing Tinggi AKP Lidya, Rabu (21/1).
PT KAI Divre I Sumatera Utara (Sumut) mencatat ada 39 insiden tabrakan antara kereta api dan kendaraan bermotor yang terjadi di Sumut sepanjang tahun 2025. Angka ini mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
“Tercatat sebanyak 39 insiden melibatkan kereta api dan kendaraan bermotor, angka ini mengalami penurunan sebesar 21 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 55 kasus,” ungkap Plt. Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara Anwar Yuli Prastyo, Jumat (23/1).
Anwar mengatakan penurunan angka kecelakaan tersebut dilakukan dengan berbagai upaya mulai dari sosialisasi hingga penutupan perlintasan liar.
“Penekanan angka kecelakaan ini dilakukan dengan penutupan terhadap 46 perlintasan liar serta perlintasan jalan setapak dengan lebar kurang dari 2 meter yang dinilai membahayakan perjalanan kereta api dan masyarakat,” ujarnya.
Sehingga, Hadian negara harus hadir untuk melindungi masyarakat dalam hal ini perlintasan sebidang kereta api. PT KAI juga diminta untuk tidak menutup mata atas perkembangan kependudukan yang berimbas banyaknya perlintasan sebidang yang muncul.
“Secara prinsip harus diselamatkan warga ini, negara harus hadir melindunginya nyawa rakyat Sumatera Utara, jangan sampai mereka dikorbankan karena egoisme mereka yang menutup mata terhadap dinamika perkembangan kependudukan ini, kita harus menyikapi,” tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, satu unit mobil Toyota Avanza BK 1656 ABP tertabrak kereta api Sri Bilah Utama KA U53 CC 2018344. di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara (Sumut). Sembilan orang yang ada di dalam mobil tewas akibat kecelakaan maut tersebut.
Identitas 9 orang tewas yang ada di dalam mobil yakni Abdul Kadir Al Jaelani (42) sebagai sopir. Sedangkan Sedangkan delapan penumpang lainnya Rizal (59),Lalu Daratul Laila (50), Risnawati (57), Muhammad Hafiz (6), Muhammad Rafkha Attaqih (2), Asrah (80), Sri Devi (41), dan Zaitun (50).
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Delapan penumpang meninggal di lokasi saat kecelakaan. Sedangkan sopir sempat mendapatkan perawatan di RS Bhayangkara Tebing Tinggi, sebelum menghembuskan nafas terakhir di sana.
“Mobil penumpang Toyota Avanza yang dikemudikan oleh Abdul Kadir membawa 8 orang penumpang kontra Kereta Api Sribilah Utama KA U53 CC 2018344,” kata Kasat Lantas Polres Tebing Tinggi AKP Lidya, Rabu (21/1).
PT KAI Divre I Sumatera Utara (Sumut) mencatat ada 39 insiden tabrakan antara kereta api dan kendaraan bermotor yang terjadi di Sumut sepanjang tahun 2025. Angka ini mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
“Tercatat sebanyak 39 insiden melibatkan kereta api dan kendaraan bermotor, angka ini mengalami penurunan sebesar 21 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 55 kasus,” ungkap Plt. Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara Anwar Yuli Prastyo, Jumat (23/1).
Anwar mengatakan penurunan angka kecelakaan tersebut dilakukan dengan berbagai upaya mulai dari sosialisasi hingga penutupan perlintasan liar.
“Penekanan angka kecelakaan ini dilakukan dengan penutupan terhadap 46 perlintasan liar serta perlintasan jalan setapak dengan lebar kurang dari 2 meter yang dinilai membahayakan perjalanan kereta api dan masyarakat,” ujarnya.







