Sumatera Utara dikenal sebagai provinsi dengan keberagaman etnis yang kaya dan unik. Delapan etnis yang hidup dan berkembang di wilayah ini memiliki sejarah, budaya, bahasa, serta tradisi khas yang menarik untuk dikenali sebagai bagian penting dari identitas Sumut.
Dikutip dari School education journal PGSD FIP Unimed, 8 etnis tersebut yakni Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, Pakpak, Melayu, Nias, dan Pesisir. Masing-masing memiliki bahasa, adat istiadat, kesenian, dan sistem sosial yang khas.
Suku Batak Toba mendiami wilayah sekitar Danau Toba meliputi Kabupaten Toba, Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan sebagian Tapanuli Tengah. Mereka terkenal dengan sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu yang mengatur hubungan sosial berdasarkan tiga unsur: hula-hula (pemberi perempuan), dongan tubu (saudara semarga), dan boru (penerima perempuan).
Rumah adat Batak Toba disebut Rumah Bolon dengan atap melengkung dan ukiran gorga yang sarat makna filosofis. Kain ulos menjadi simbol kasih sayang dan restu dalam setiap tahap kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Kesenian tortor dan musik gondang sabangunan menjadi bagian penting dalam upacara adat.
Suku Karo mendiami dataran tinggi Karo, sebagian Deli Serdang, Langkat, dan Tanah Karo. Mereka memiliki sistem marga yang dikenal dengan Merga Silima, yakni Karo-karo, Ginting, Tarigan, Perangin-angin, dan Sembiring. Hubungan sosial diatur dalam konsep Rakut Sitelu.
Rumah adat Karo bernama Siwaluh Jabu, rumah besar yang dahulu dihuni beberapa keluarga. Kesenian khas Karo antara lain gendang guro-guro aron, tari landek, serta lagu daerah seperti Piso Surit. Pakaian adatnya berwarna cerah dengan hiasan kepala khas bernama uis gara.
Suku Simalungun mendiami wilayah Kabupaten Simalungun dan sekitarnya. Mereka memiliki sistem kekerabatan sendiri yang mirip dengan Batak lainnya, tetapi dengan istilah dan aturan yang berbeda. Rumah adat Simalungun juga disebut Rumah Bolon, dengan bentuk yang lebih sederhana.
Kain tradisional Simalungun disebut hiou. Upacara adat seperti pernikahan, kematian, dan pesta panen dilaksanakan dengan tata cara khusus. Bahasa Simalungun juga berbeda dari bahasa Batak Toba dan Karo, meskipun masih serumpun.
Suku Mandailing berasal dari wilayah Mandailing Natal dan sebagian Tapanuli Selatan. Budaya Mandailing sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam. Sistem kekerabatan mereka juga berlandaskan Dalihan Na Tolu.
Mandailing dikenal dengan seni musik gondang sambilan dan tarian tortor Mandailing. Rumah adat Mandailing disebut Bagas Godang, yang dulunya menjadi pusat pemerintahan raja-raja kecil Mandailing. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Mandailing menjunjung tinggi nilai kesopanan, agama, dan adat.
Suku Pakpak mendiami wilayah Kabupaten Dairi, Pakpak Bharat, dan sekitarnya. Mereka terbagi dalam beberapa subkelompok seperti Pakpak Simsim, Keppas, Pegagan, Boang, dan Kelasen.
Bahasa Pakpak memiliki beberapa dialek sesuai wilayah. Marga seperti Berutu, Manik, Solin, Bancin, dan Padang menjadi identitas penting masyarakat Pakpak.
Pakaian adat menggunakan kain oles, dan rumah adat Pakpak berbentuk rumah panggung yang disebut jerro.
Suku Melayu mendiami wilayah pesisir timur Sumatera Utara seperti Medan, Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, Batu Bara, hingga Asahan. Budaya Melayu sangat erat dengan Islam. Kesultanan Deli, Langkat, dan Asahan menjadi pusat perkembangan budaya Melayu di Sumatera Utara.
Seni budaya Melayu meliputi tari zapin, serampang dua belas, pantun, syair, dan gurindam. Rumah adat Melayu berbentuk rumah panggung dengan ukiran bermotif tumbuhan dan alam. Bahasa Melayu menjadi dasar perkembangan bahasa Indonesia modern.
Suku Nias mendiami Pulau Nias dan sekitarnya. Mereka terkenal dengan tradisi lompat batu (fahombo), sebagai simbol kedewasaan laki-laki. Rumah adat Nias terdiri dari Omo Hada (rumah rakyat) dan Omo Sebua (rumah bangsawan).
Sistem sosial Nias mengenal stratifikasi masyarakat. Kesenian mereka meliputi tari perang, ukiran kayu, dan perhiasan tradisional. Upacara adat biasanya melibatkan pengorbanan hewan sebagai simbol penghormatan kepada leluhur.
Suku Pesisir mendiami wilayah pantai barat Sumatera Utara seperti Sibolga, Barus, dan Tapanuli Tengah. Budaya Pesisir merupakan hasil percampuran Batak, Minangkabau, Aceh, dan Melayu akibat jalur perdagangan laut sejak berabad-abad lalu.
Bahasa Pesisir merupakan campuran dari berbagai bahasa tersebut. Tradisi maritim, adat pernikahan pesisir, serta musik dan tari khas pesisir menjadi identitas mereka. Masyarakat Pesisir dikenal sebagai masyarakat pelaut dan pedagang.
Artikel ditulis Olivia Andrea, peserta magaghub Kemenaker di infocom
Mengenal 8 Etnis di Sumut
1. Batak Toba
2. Karo
3. Simalungun
4. Mandailing
5. Pakpak
6. Melayu
7. Nias
8. Pesisir
Suku Nias mendiami Pulau Nias dan sekitarnya. Mereka terkenal dengan tradisi lompat batu (fahombo), sebagai simbol kedewasaan laki-laki. Rumah adat Nias terdiri dari Omo Hada (rumah rakyat) dan Omo Sebua (rumah bangsawan).
Sistem sosial Nias mengenal stratifikasi masyarakat. Kesenian mereka meliputi tari perang, ukiran kayu, dan perhiasan tradisional. Upacara adat biasanya melibatkan pengorbanan hewan sebagai simbol penghormatan kepada leluhur.
Suku Pesisir mendiami wilayah pantai barat Sumatera Utara seperti Sibolga, Barus, dan Tapanuli Tengah. Budaya Pesisir merupakan hasil percampuran Batak, Minangkabau, Aceh, dan Melayu akibat jalur perdagangan laut sejak berabad-abad lalu.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Bahasa Pesisir merupakan campuran dari berbagai bahasa tersebut. Tradisi maritim, adat pernikahan pesisir, serta musik dan tari khas pesisir menjadi identitas mereka. Masyarakat Pesisir dikenal sebagai masyarakat pelaut dan pedagang.
Artikel ditulis Olivia Andrea, peserta magaghub Kemenaker di infocom







