Gajah liar yang mati terseret banjir bandang di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, telah dikubur secara darurat di lokasi. Tulang belulang serta organ satwa dilindungi itu akan dipindahkan untuk penguburan permanen.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Ujang Wisnu Barata mengatakan, bangkai gajah ditemukan tertimbun lumpur dan puing-puing kayu, Jumat 28 November lalu. Areal sekitar lokasi saat itu masih terendam banjir serta aksesnya sulit dijangkau.
Tim saat itu juga kesulitan karena tidak ada alat berat sehingga dilakukan penanganan darurat dengan menyeterilkan lokasi. Petugas juga melakukan penguburan darurat dengn menutup bangkai gajah menggunakan lumpur dan serpihan kayu.
“Hasil post mortem tidak ditemukan luka di badan satwa, usia bangkai pada saat ditemukan sekitar 4 hari. Gajah jantan itu diperkirakan umur sekitar 10 tahun, dengan sepasang gading telah patah. Penyebab kematian gajah dikarenakan terseret arus pada saat banjir bandang,” kata Ujang kepada wartawan, Kamis (8/1/2026).
Tim juga melakukan monitoring berkala di lokasi penguburan. Menurut Ujang, BKSDA memantau kembali lokasi bangkai pada 10 Desember lalu.
Kondisi bangkai saat itu sudah mulai pecah dan mengalami pembusukan lebih lanjut. Untuk meminimalisir bau busuk yang ditimbulkan, petugas melakukan kembali penimbunan secara manual karena alat berat belum menjangkau lokasi.
Ujang menyebutkan, bau busuk dan menyengat di sekitar lokasi juga terindikasi berasal dari bangkai hewan-hewan ternak yang terdampak banjir. Petugas juga disebut melakukan pengamanan sisa gading berjumlah satu pasang dengan ukuran gading kiri sepanjang 38 cm, diameter pangkal 18 cm dan ujung 17 cm, dan ukuran gading sebelah kanan sepanjang 36 cm, diameter pangkal 18 cm dan ujung 17 cm.
Setelah sebulan, akses ke lokasi disebut masih sulit dijangkau. Pada tanggal Selasa 6 Januari, personel BKSDA Aceh dan Polres Pidie Jaya kembali melakukan monitoring lanjutan ke lokasi penguburan.
Kondisi bangkai, kata Ujang, sudah mulai terurai maksimal hanya tersisa tulang belulang dan tengkorak, bau busuk juga sudah mulai menghilang. Namun terdapat indikasi lokasi penguburan dibongkar karena sempat berkembang isu adanya gading yang masih tersisa. Petugas kemudian juga melakukan penutupan bangkai dengan terpal dan penambahan tanah timbunan.
“Selanjutnya tanggal 13 Januari akan dilakukan pemindahan tulang belulang dan sisa-sisa organ yang masih tertinggal untuk dibawa ke PLG Saree, Kabupaten Aceh Besar untuk dilakukan penguburan permanen,” jelas Ujang.







