Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Tari tortor merupakan salah satu tarian tradisional paling penting dalam budaya Batak Toba, Sumatera Utara. Gerakan saat melaksanakan tortor tidak boleh asal dilakukan, karena setiap gerakan memiliki makna sendiri dan wajib dipatuhi.
Tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana komunikasi adat yang sarat makna dalam berbagai upacara, mulai dari pernikahan, kelahiran, hingga kematian. Tari tortor biasanya diiringi musik gondang sabangunan atau gondang hasapi.
“Tortor bukan sekadar tarian. Ia adalah media menyampaikan doa, harapan, rasa hormat, dan permohonan kepada Tuhan serta kepada sesama manusia, jadi tari tortor seperti bahasa tubuh masyarakat Batak Toba,” ujar Budayawan Thompson Hs di Medan Kamis (15/1/2026).
Thompson mengatakan dalam upacara adat setiap kelompok memiliki peran saat menari tortor. Misalnya, hula-hula (keluarga pihak perempuan) biasanya menari sebagai simbol pemberi berkat, sedangkan boru (keluarga penerima perempuan) menari sebagai tanda hormat dan penerimaan.
“Makna Tortor juga tercermin dari iringan musiknya, seperti gondang yang dimainkan menentukan suasana tortor. Ada gondang untuk sukacita, ada pula gondang untuk duka. Penari tidak boleh bergerak sembarangan, karena harus menyesuaikan diri dengan makna gondang dan kalau hanya geraknya saja yang diajarkan tanpa maknanya, tortor akan kehilangan rohnya. Anak muda harus tahu bahwa setiap gerak adalah doa dan pesan adat,” katanya.
Oleh karena itu, makna utama tortor adalah kebersamaan dan keterikatan sosial. Saat tortor dilakukan, tidak ada batasan usia atau status sosial. Semua orang dapat ikut menari sesuai perannya dalam struktur adat.
Di tengah modernisasi, tari tortor tetap bertahan dan bahkan semakin dikenal luas. Banyak sekolah dan sanggar seni kini mengajarkan tortor kepada generasi muda.
Tari tortor Batak Toba hingga kini tetap menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Batak. Melalui gerak yang sederhana namun penuh makna, tortor mengajarkan tentang hormat kepada leluhur, kebersamaan, serta hubungan manusia dengan Tuhan dan alam.
Artikel ini ditulis Olivia Andrea, peserta magang Kemenhub di infocom







