Harga gula pasir di Sumut kini kian mahal. Beberapa kabupaten/kota kini sudah mematok harga di atas Rp 18 ribu per kg.
Berdasarkan data dari Disperindag ESDM Sumut, Selasa (13/1/2026), harga gula pasir rata-rata dipatok Rp 18.400 per kg. Padahal, pemerintah sudah mematok Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 17.500 per kg.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Disperindag mencatat harga gula tertinggi berada di Kabupaten Nias Selatan yang mencapai Rp 22 ribu per kg. Harga di kabupaten ini naik dibanding pekan sebelumnya yang berkisar Rp 20 ribu per kg.
Selain Nias Selatan, ada beberapa kabupaten lainnya yang mematok harga tinggi seperti Kota Gunung Sitoli Rp 21 ribu per kg, maupun Kota Sibolga sebesar Rp 20 ribu per kg.
Sementara itu, harga gula pasir terendah berada di Kota Tebing Tinggi sebesar Rp 16 ribu per kg, hampir mendekati ambang HET.
Terkait hal ini, Kabid Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri dan Tertib Niaga, Charles T. H. Situmorang membeberkan bahwa mahalnya gula di kawasan Kepulauan Nias maupun Sibolga imbas dari dampak keterbatasan distribusi pasca bencana.
“Berdasarkan pemantauan Dinas PerindagESDM Sumut, harga gula tertingi di Sumut hari ini ada di Kota Sibolga dan Kepulauan Nias. Kondisi ini erat kaitan dengan distribusi yang masih belum optimal pasca bencana ke Kota Sibolga yang merupakan pemasok utama barang kebutuhan pokok di Kepulauan Nias,” ungkap Charles kepada infoSumut.
Lebih lanjut, Charles menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemda terkait percepatan pemulihan distribusi bahan pokok agar tidak terjadi lonjakan harga signifikan.
“Pemerintah Pusat, Provinsi dan Daerah saat ini terus melakukan kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca bencana termasuk memulihkan kembali kondisi akses jalan sehingga mampu menstabilkan harga bapok,” pungkasnya.







