Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menurunkan tim atas kemunculan harimau di Teluk Meranti, Pelalawan. Tim turun untuk mengantisipasi terjadinya konflik lanjutan.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono mengatakan tim diturunkan usai seekor harimau terekam kamera di perbatasan kawasan hutan. Lokasi itu merupakan bagian dari kantong (habitat) pergerakan alami harimau Sumatera.
“Lokasi kemunculan berjarak cukup dekat dengan pemukiman warga, yakni sekitar 200 hingga 300 meter,” kata Supartono di Pekanbaru, Selasa (20/1/2026).
Setelah turun, tim BKSDA Riau di lapangan menemukan indikasi bahwa terdapat lebih dari satu individu harimau. Diduga kuat, satwa tersebut merupakan satu kesatuan keluarga yang terdiri dari satu induk dan anakan yang diperkirakan berusia 4 hingga 5 bulan.
“Pada usia tersebut, anak harimau masih berada dalam masa transisi penyapihan dan memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap induknya,” kata Supartono.
Untuk itu, tim gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polru dan pihak Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) hingga masyarakat setempat saat ini terus melakukan pemantauan intensif secara berkala. Fokus utama tim saat ini adalah melakukan upaya penggiringan kawanan harimau agar bergerak kembali menjauh dari pemukiman dan masuk ke kawasan hutan yang lebih aman.
Sedangkan untuk pencegahan konflik, tim juga melakukan sosialisasi dan himbauan untuk tidak merekam dan menyebarluaskan video penemuan harimau Sumatera. Bukan tanpa alasan, dikhawatirkan video beredar menimbulkan kepanikan di masyarakat dan menghindari informasi hoax.
“Sekaligus edukasi pada warga untuk selalu waspada dalam beraktivitas terutama pada waktu fajar dan menjelang malam. Selain itu kami imbau menjaga peliharaan ternak dengan aman dan tidak melepaskannya di area terbuka guna menghindari daya tarik bagi harimau mendekati area pemukiman,” katanya.
Warga diminta tetap tenang dan segera melaporkan kepada tim BBKSDA Riau jika melihat tanda-tanda keberadaan satwa tersebut. BBKSDA mengklaim langkah ini mengedepankan prinsip keselamatan manusia sekaligus perlindungan satwa harimau Sumatera yang dilindungi.
“Tim akan terus berada di lokasi hingga situasi dipastikan kondusif dan pergerakan satwa telah menjauh dari zona aktivitas warga. Ada juga box trap kami siagakan di Kantor Resort Kerumutan sebagai langkah antisipasi,” kata Supartono.
