Jalan Danau Tempe di Binjai Rusak Parah, 20 Tahun Tak Pernah Diperbaiki

Posted on

Jalan Danau Tempe, Kecamatan Binjai Timur, Binjai, rusak parah dengan sejumlah lubang besar dan permukaan jalan yang dipenuhi bebatuan. Warga sekitar menyebut jalan rusak itu sudah 20 tahun tak pernah diperbaiki.

Pantauan infocom Selasa (6/1/2026), si sepanjang ruas Jalan Danau Tempe terlihat beberapa titik lubang menganga yang cukup membahayakan pengendara. Saat hujan, lubang-lubang tersebut tergenang air sehingga sulit terlihat dan kerap memicu kecelakaan.

Tumino, warga sekitar, mengatakan kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung lama. Ia menyebut kondisi jalan semakin parah karena dibiarkan tanpa penanganan.

“Kalau dihitung-hitung, ini jalan sudah sekitar 20 tahun rusak. Awalnya biasa aja rusaknya, cuma karena dibiarin terus, ya makin lama makin lebar lubangnya,” kata Tumino, Selasa (6/1/2026).

Ia mengaku warga sudah lelah mengeluhkan kondisi tersebut. Tidak hanya warga sekitar, pengendara yang melintas juga kerap mengeluh karena jalan tersebut membahayakan.

“Kalau dibilang ngeluh, ya udah capek ngeluh. Orang yang cuma lewat sini aja banyak yang mengeluh. Udah sering juga ada yang jatuh, apalagi kalau hujan,” ujarnya.

Menurut Tumino, pengendara yang sudah terbiasa melintas mungkin masih bisa berhati-hati. Namun, bagi pendatang yang tidak mengetahui kondisi jalan, lubang-lubang tersebut sangat berisiko.

“Kalau yang sudah tahu jalan ini, ya bisa pelan-pelan. Tapi kalau pendatang kan nggak tau ada lubang besar,” katanya.

Ia juga menyebut warga kerap mengusulkan perbaikan jalan ke pihak terkait, namun hingga kini belum ada realisasi. Alasan yang diterima warga disebut karena keterbatasan anggaran.

“Kami sering kok ngusul-ngusulin jalan ini rusak. Tapi katanya belum ada dananya. Sebagai warga ya cuma bisa mengusulkan,” ucapnya.

Sebagai bentuk antisipasi, warga bahkan menaruh batang pisang di beberapa lubang jalan agar mudah terlihat oleh pengendara.

“Ini sengaja dikasih pokok pisang sebagai tanda. Biar orang tahu kalau ada lubang besar, soalnya kadang nggak kelihatan,” jelas Tumino.

Keluhan serupa disampaikan Suep, warga setempat lainnya. Ia mengatakan saat hujan turun, lubang jalan kerap tergenang air hingga menyerupai kolam.

“Kayak kemarin hujan, airnya tergenang di lubang itu. Sampai jadi tempat mandi bebek,” ujarnya.

Suep mengaku sudah beberapa kali mendokumentasikan kondisi jalan tersebut dan membagikannya di media sosial. Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan.

“Saya sudah sering posting di media sosial soal jalan ini. Harusnya pemerintah ngerti, tapi ya mau gimana lagi,” katanya.

Ia menambahkan Jalan Danau Tempe merupakan jalur yang cukup ramai dilalui pengendara, terutama pada pagi hari karena menjadi jalan pintas menuju sejumlah kawasan.

“Ini jalan ramai yang lewat, apalagi pagi-pagi. Jalan pintas juga. Tapi sekarang udah berkurang yang lewat, mungkin mereka malas karna jalannya jelek,” ucapnya.

Sementara itu, Kia, salah seorang pengendara, mengaku tetap melintasi jalan tersebut karena lebih singkat dibandingkan harus melewati jalan raya. Meski demikian, ia harus ekstra hati-hati saat melintas.

“Saya lewat sini karena bisa jadi jalan pintas, nggak harus lewat jalan raya. Cuma minusnya jalannya jelek, harus ekstra hati-hati. Kasihan juga kereta kalau lewat jalan bebatuan,” tuturnya.

Artikel ditulis oleh Laila Syakira peserta program Maganghub Kemnaker di infocom

Keluhan serupa disampaikan Suep, warga setempat lainnya. Ia mengatakan saat hujan turun, lubang jalan kerap tergenang air hingga menyerupai kolam.

“Kayak kemarin hujan, airnya tergenang di lubang itu. Sampai jadi tempat mandi bebek,” ujarnya.

Suep mengaku sudah beberapa kali mendokumentasikan kondisi jalan tersebut dan membagikannya di media sosial. Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan.

“Saya sudah sering posting di media sosial soal jalan ini. Harusnya pemerintah ngerti, tapi ya mau gimana lagi,” katanya.

Ia menambahkan Jalan Danau Tempe merupakan jalur yang cukup ramai dilalui pengendara, terutama pada pagi hari karena menjadi jalan pintas menuju sejumlah kawasan.

“Ini jalan ramai yang lewat, apalagi pagi-pagi. Jalan pintas juga. Tapi sekarang udah berkurang yang lewat, mungkin mereka malas karna jalannya jelek,” ucapnya.

Sementara itu, Kia, salah seorang pengendara, mengaku tetap melintasi jalan tersebut karena lebih singkat dibandingkan harus melewati jalan raya. Meski demikian, ia harus ekstra hati-hati saat melintas.

“Saya lewat sini karena bisa jadi jalan pintas, nggak harus lewat jalan raya. Cuma minusnya jalannya jelek, harus ekstra hati-hati. Kasihan juga kereta kalau lewat jalan bebatuan,” tuturnya.

Artikel ditulis oleh Laila Syakira peserta program Maganghub Kemnaker di infocom