Jalan lintas di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah putus total setelah longsoran di lubang raksasa meluas. Pemerintah kabupaten setempat telah menyiapkan jalur alternatif untuk dapat dilewati warga.
Berdasarkan video beredar, lubang sudah melewati jalan lintas yang menghubungkan Simpang Balik, Bener Meriah dengan Blang Mancung, Aceh Tengah. Longsoran di lubang itu disebut terjadi hampir setiap hari.
“Info terakhir sudah kena badan jalan. Tapi memang jalan tersebut sudah tidak dilalui lagi, sudah dibuka jalan sementara,” kata Kadis Kominfo Aceh Tengah Mustafa Kamal saat dimintai konfirmasi infoSumut, Senin (26/1/2026).
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sejak pertengahan Januari sudah membuka jalur alternatif untuk mengantisipasi jalan utama terputus. Jalan disiapkan merupakan jalur lama yang jarang dilalui masyarakat sehingga perlu pembersihan dan perbaikan.
Proses pembukaan jalan alternatif sempat dipantau Wakil Bupati Aceh Tengah Muchsin Hasan. Jalan alternatif sepanjang sekitar 1,5 Kilometer tersebut dipakai masyarakat untuk melakukan aktivitas harian termasuk mengangkut hasil panen.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Sebelumnya, lubang raksasa muncul di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah usai terjadi longsor. Lubang itu diperkirakan mulai terbentuk sejak tahun 2000-an.
“Tidak ada literasi pasti yang menjelaskan awal mula terbentuknya lubang. Beberapa sumber menjelaskan bahwa lubang kecil sudah mulai terbentuk sejak awal tahun 2000-an. Dimana pergerakan tanah terus terjadi secara bertahap sejak tahun 2004,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah Andalika saat dimintai konfirmasi infoSumut, Kamis (15/1).
Berdasarkan laporan masyarakat, katanya, longsoran yang terjadi di lubang itu meluas sehingga memutuskan akses jalan Blang Mancung-Simpang Balik pada tahun 2006. Sejak beberapa tahun lalu, Dinas ESDM Aceh telah melakukan penelitian sehingga diketahui pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahun.
Menurutnya, data terbaru Dinas ESDM Aceh, luasan longsoran di lokasi telah mencapai 27.000 meter dan semakin dekat ke jalan lintas. Tim geologi dan survei geofisika ESDM Aceh juga disebut pernah melakukan kolaborasi kajian longsoran tanah tersebut bersama BPBD Aceh Tengah pada tahun 2022.
Hasil kajian yang dilakukan disebutkan longsoran tanah di Kampung Bah berada pada lapisan tanah permukaan dengan zona jenuh air dan didominasi material vulkanik yang mudah mengantarkan air. Pergerakan tanah di lokasi tersebut sangat aktif dan berkelanjutan.
“Wilayah longsoran tanah di Kampung Bah tersebut dikategorikan sebagai zona tinggi rawan pergerakan tanah, sehingga memerlukan penanganan struktural dan non struktural segera dan berkelanjutan,” jelas Andalika.
Andalika mengatakan, longsoran tanah yang terjadi di desa tersebut bukan jenis amblesan tanah sinkhole klasik yang terbentuk karena adanya lubang runtuh secara tiba-tiba. Longsoran terjadi karena pergerakan material tanah yang terjadi secara perlahan.
“Berdasarkan data dari ESDM Aceh, pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahun. Sejak tahun 2011 sudah dimulai pengukuran pertambahan luasan skala longsoran tanah oleh ESDM Aceh,” ungkapnya.







