Jejak Awal Islam di Sumut: Barus, Jalur Dagang, dan Peran Wilayah Pesisir

Posted on

Sejarah masuknya Islam ke Sumatera Utara tidak bisa dilepaskan dari peran jalur perdagangan dan kawasan pesisir. Hal tersebut tergambar dalam panel informasi bertajuk “Islam di Sumatera Utara” yang dipamerkan di Museum Negeri Sumatera Utara, Medan.

Dalam arsip Museum Negeri Sumatera Utara dijelaskan bahwa hingga kini, persoalan kapan dan dari mana Islam pertama kali masuk ke Nusantara masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.

“Kapan dan dimana tepatnya Islam masuk serta siapakah yang membawanya adalah permasalahan pokok mengenai penyebaran Islam di Nusantara,” tulis arsip Museum Negeri Sumatera Utara.

Meski demikian, arsip museum menyebutkan bahwa teori yang paling umum diterima adalah Islam masuk ke Indonesia melalui India, meskipun ada pula pendapat yang menyatakan Islam datang langsung dari Timur Tengah. Namun, sebagian besar ahli sepakat bahwa perdagangan menjadi media utama penyebaran Islam.

“Tampaknya kebanyakan ahli sepakat bahwa kontak yang menyebabkan persebaran Islam di Nusantara terjadi melalui perdagangan,” lanjut arsip tersebut.

Pandangan ini sejalan dengan pendapat sejarawan Azyumardi Azra. Dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Azra menyebutkan bahwa Islamisasi di Indonesia berlangsung secara bertahap dan damai.

“Islam berkembang di Nusantara melalui jalur perdagangan, pendidikan, dan jaringan ulama, bukan melalui penaklukan,” tulis Azyumardi Azra.

Arsip Museum Negeri Sumatera Utara juga mencatat bahwa Barus diyakini sebagai wilayah paling awal di Sumatera Utara yang bersentuhan dengan Islam. Wilayah ini bahkan telah ditetapkan sebagai Titik Nol Islam Nusantara pada tahun 2017.

“Besar dugaan bahwa wilayah Sumatera Utara paling awal yang bersentuhan dengan Islam adalah Barus,” tulis arsip museum.

Selain Barus, jejak awal Islam juga ditemukan di kawasan Pesisir Timur Sumatera Utara. Di antaranya Situs Kota Rentang di Kabupaten Deli Serdang dan Pulau Kampai di Kabupaten Langkat. Pada masa berikutnya, eksistensi Islam di wilayah pesisir timur ditandai dengan berdirinya kesultanan-kesultanan Melayu yang berlandaskan Islam, seperti Kesultanan Langkat, Deli, dan Serdang.

Sejarawan Taufik Abdullah menyebutkan bahwa wilayah pesisir dan pelabuhan memiliki peran strategis dalam proses Islamisasi di Nusantara.

“Daerah pesisir menjadi pintu masuk utama pengaruh Islam karena intensitas pertemuan antara pedagang lokal dan pedagang Muslim dari berbagai wilayah,” tulis Taufik Abdullah dalam kajiannya tentang sejarah Islam Indonesia.

Sementara itu, di kawasan Tapanuli, khususnya bagian selatan, kehadiran Islam diduga kuat terjadi akibat adanya kontak dengan Barus. Arsip museum juga menyebutkan adanya pandangan bahwa Islam dibawa oleh kaum Padri dari Sumatera Barat yang pernah menguasai wilayah tersebut.

“Di kawasan Tapanuli, khususnya bagian selatan, kehadiran Islam kemungkinan besar terjadi karena adanya kontak dengan Barus,” tulis arsip Museum Negeri Sumatera Utara.

Namun, pengaruh Islam di Sumatera Utara tidak berlangsung merata. Arsip museum mencatat bahwa wilayah sekitar Danau Toba dan Pulau Nias merupakan kawasan yang paling sedikit menunjukkan pengaruh Islam. Meski demikian, kontak dengan dunia Islam tetap terjadi, meskipun dampaknya tidak sebesar wilayah pesisir.

Sejarawan Denys Lombard dalam karyanya Nusa Jawa: Silang Budaya menyebutkan bahwa proses Islamisasi di Nusantara sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan budaya lokal.

“Islamisasi di Indonesia berlangsung berbeda-beda di setiap wilayah, tergantung pada struktur sosial dan budaya masyarakat setempat,” tulis Denys Lombard.

Melalui panel informasi dan arsip yang dipamerkan di Museum Negeri Sumatera Utara, pengunjung diajak memahami bahwa sejarah Islam di Sumatera Utara merupakan proses panjang yang melibatkan perdagangan, jaringan ulama, kekuasaan politik, serta dinamika budaya lokal yang kompleks.