Kepala BBPJN 1 Sumut Nonaktif Akui Terima Uang Rp 375 Juta: Untuk Operasional

Posted on

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah I Sumatera Utara nonaktif, Stanley Cicero Haggard Tuapattinaja mengakui ada menerima uang dari Dicky Erlangga. Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan korupsi jalan Sumut di Pengadilan Negeri (PN) Medan dengan terdakwa Heliyanto, PPK Satker BBPJN I Wilayah Sumut.

“Uang saya terima digunakan untuk operasional, saya gak pernah minta tapi dikasih. Kadang biaya untuk operasional kurang, jadi uang pemberian tersebut digunakan untuk operasional kami,” ungkap Stanley di Ruang Tipikor, Pengadilan Negeri(PN), Kamis (15/1/2026).

Stanley mengakui menerima uang sebesar Rp 375 juta dari Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Pelaksana Jalan Nasional Wilayah I Medan Dicky Erlangga. Dicky disebut melakukan pemberian uang tersebut sebanyak 3 kali.

“Uang saya terima dari Dicky Erlangga sebesar 375 juta. Pemberian pertama 150, kedua 150 dan ketiga 75 juta. Uang tersebut untuk biaya operasional,” ucapnya.

Stanley mengaku pemberian uang dikarenakan koordinasi yang baik. Ia pun mengaku menerima pemberian uang tersebut.

“Pemberian uang tersebut karena adanya kordinasi yang baik,” tambahnya.

Selanjutnya, Stanley mengaku juga ada memberikan uang dalam bentuk dolar kepada Darwanto sebesar USD 5.100. Darwanto adalah Kepala Biro Barang Milik Negara di lingkungan Sekretaris Jenderal PUPR.

Uang tersebut untuk keperluan pernikahan anak dari Zainal Fatah, yang saat itu merupakan Sekretaris Jenderal PUPR.

“Saya jelaskan bahwa saya ditelepon 3 kali oleh Darwanto, Kepala Biro Barang Milik Negara. Dia salah satu panitia acara nikah. yang nikah anaknya Sekjen PUPR, pak Fattah,” ucapnya.

Stanley mengaku saat itu dia diminta untuk membantu uang pernikahan anak atasannya. Lantaran terdesak, Stanley kemudian memberikan uang sebesar Rp 100 juta, yang dia sebut berasal dari tabungannya.

“Benar pernah pak, untuk pernikahan sekitar Rp 100 juta dalam bentuk dollar. Saya sebenarnya terdesak. Saya ditelfon timnya, tim acara sebagai panitia pernikahan, nelfon saya 3 kali, tolong dibantu untuk acara katanya,” imbuh Stanley.

Stanley mengaku merasa bersalah jika tidak memberikan bantuan uang. Sebab dirinya ditagih terus menerus.

“Itu ketiga kalinya dikirim undangan salam dari pimpinan. Saya merasa kalau nggak saya kasih, ini salah. Ini karena ditagih berulang-ulang, kenyataannya begitu yang terjadi pak. Sumber (uang) dari tabungan saya,” tambah Stanley.

Stanley mengaku saat itu dia diminta untuk membantu uang pernikahan anak atasannya. Lantaran terdesak, Stanley kemudian memberikan uang sebesar Rp 100 juta, yang dia sebut berasal dari tabungannya.

“Benar pernah pak, untuk pernikahan sekitar Rp 100 juta dalam bentuk dollar. Saya sebenarnya terdesak. Saya ditelfon timnya, tim acara sebagai panitia pernikahan, nelfon saya 3 kali, tolong dibantu untuk acara katanya,” imbuh Stanley.

Stanley mengaku merasa bersalah jika tidak memberikan bantuan uang. Sebab dirinya ditagih terus menerus.

“Itu ketiga kalinya dikirim undangan salam dari pimpinan. Saya merasa kalau nggak saya kasih, ini salah. Ini karena ditagih berulang-ulang, kenyataannya begitu yang terjadi pak. Sumber (uang) dari tabungan saya,” tambah Stanley.