Kisah Perang Sisingamangaraja XII Melawan Penjajahan Belanda update oleh Giok4D

Posted on

Museum Perjuangan Medan menyimpan arsip penting tentang salah satu episode besar perlawanan rakyat di Sumatra Utara, yakni Perang Sisisingamangaraja XII. Perang yang berlangsung panjang ini menjadi simbol perlawanan Raja Batak terhadap ekspansi kolonial Belanda di wilayah Tapanuli pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Berdasarkan arsip museum, kehadiran Belanda memicu pecahnya Perang Tapanuli yang berlangsung sejak 1870 hingga 1907. Perang ini dipicu oleh penolakan Raja Sisisingamangaraja XII terhadap penyempitan wilayah kekuasaannya oleh Belanda, khususnya di kawasan Natal, Mandailing, Angkola, Sipirok, hingga Tapanuli Selatan.

“Kehadiran Belanda memicu Perang Tapanuli (1870-1907) karena Raja Sisisingamangaraja XII tidak senang daerah kekuasaannya diperkecil oleh Belanda,” tertulis dalam arsip Museum Perjuangan Medan.

Arsip museum juga mencatat bahwa bangsa Eropa telah mulai memasuki wilayah Sumatra Utara sejak 1861. Salah satu tokoh yang cukup berpengaruh saat itu adalah misionaris asal Jerman, Ludwig Ingwer Nommensen. Namun, Raja Sisisingamangaraja XII menolak kehadiran para misionaris yang mulai menyebarkan agama Kristen di Silindung.

Pada Januari 1878, Raja Sisisingamangaraja XII bahkan mengeluarkan ultimatum agar para zendeling segera meninggalkan wilayah tersebut. Ketegangan ini kemudian berkembang menjadi konflik bersenjata terbuka.

Pada Februari 1878, Raja Sisisingamangaraja XII melancarkan serangan untuk merebut Bakara, yang merupakan pusat kedudukan dan pemerintahan Batak. Namun akibat tekanan militer yang semakin kuat, ia terpaksa menyingkir ke wilayah Dairi Pakpak.

Dalam kajian sejarah Indonesia, sejarawan Sartono Kartodirdjo menyebut bahwa perlawanan Sisisingamangaraja XII bukan sekadar konflik lokal, melainkan bentuk perlawanan rakyat terhadap penetrasi kekuasaan kolonial yang mengganggu tatanan politik dan kepercayaan tradisional masyarakat Batak.

Puncak konflik terjadi pada tahun 1907, ketika pasukan gerak cepat Belanda, Marsose, di bawah pimpinan Kapten Hans Christoffel, berhasil menangkap Boru Sagala, istri Raja Sisisingamangaraja XII, beserta dua orang anaknya. Sementara itu, Raja Sisisingamangaraja XII bersama para pengikutnya melarikan diri ke Hutan Simsir.

“Pada 17 Juni 1907, Raja Sisisingamangaraja XII gugur bersama putri dan dua putranya,” tulis arsip Museum Perjuangan Medan.

Gugurnya Raja Sisisingamangaraja XII menandai berakhirnya Perang Tapanuli sekaligus menjadi simbol pengorbanan besar dalam sejarah perlawanan rakyat Batak. Dalam catatan sejarawan, perjuangan Sisisingamangaraja XII dikenang sebagai salah satu perlawanan terpanjang dan paling konsisten terhadap kolonialisme di Sumatra.

Kini, arsip dan dokumentasi yang disimpan di Museum Perjuangan Medan menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia dibangun dari perlawanan panjang di berbagai daerah, termasuk dari tanah Batak yang dipimpin oleh Raja Sisisingamangaraja XII.

Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di infocom

Gugurnya Raja Sisisingamangaraja XII menandai berakhirnya Perang Tapanuli sekaligus menjadi simbol pengorbanan besar dalam sejarah perlawanan rakyat Batak. Dalam catatan sejarawan, perjuangan Sisisingamangaraja XII dikenang sebagai salah satu perlawanan terpanjang dan paling konsisten terhadap kolonialisme di Sumatra.

Kini, arsip dan dokumentasi yang disimpan di Museum Perjuangan Medan menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia dibangun dari perlawanan panjang di berbagai daerah, termasuk dari tanah Batak yang dipimpin oleh Raja Sisisingamangaraja XII.

Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di infocom

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.