Indonesia memang sangat kaya akan suku dan budaya, setiap suku di Indonesia memiliki tradisi, kuliner, adat istiadat yang unik dan wajib untuk dilestarikan. Salah suku yang masih kental dengan adat tradisional adalah Suku Karo.
Suku Karo adalah salah satu suku yang tinggal di dataran tinggi Provinsi Sumatera Utara, biasa juga disebut dengan sebutan Tanah Karo. Suku Karo memiliki banyak sekali kebudayaan tradisional yang masih terus dilestarikan hingga sekarang, salah satu tradisi paling unik dari Suku Karo adalah tradisi erlau-lau.
Erlau-lau berasal dari bahasa daerah Karo yaitu ‘lau’ yang berarti air, sehingga erlau-lau dapat diartikan sebagai bermain air. Seperti namanya, tradisi erlau-lau merupakan tradisi dimana masyarakat Suku Karo menyiramkan air satu sama lain.
Tradisi ini mirip seperti bermain perang air tetapi fungsi dan maknanya jauh lebih dalam daripada sekedar bermain. Tradisi Erlau-lau digunakan masyarakat Suku Karo sebagai ritual ‘ndilo wari udan’ yang berarti memanggil hari hujan.
Tradisi ini biasanya dilakukan saat musim kemarau yang berkepanjangan dan masyarakat sudah membutuhkan hujan untuk turun, mengingat mayoritas masyarakat Karo mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian. Sehingga melalui tradisi ini, masyarakat Karo berdoa kepada Tuhan untuk meminta hujan.
Biasanya dalam tradisi erlau-lau juga ditampilkan Tari Gundala-Gundala diiringi dengan alat musik tradisional Karo yang disebut gendang lima sindalanen yang terdiri dari sarune, gendang singindungi, gendang singanaki, penganak, dan gung.
Tradisi Erlau-lau berkaitan erat dengan Tari Gundala-Gundala karena sama-sama digunakan masyarakat Suku Karo sebagai media ritual memanggil turunnya hujan. Tari Gundala-Gundala akan menghadirkan penari yang menggunakan pakaian bewarna cerah dan dilengkapi dengan aksesoris topeng.
Tari Gundala-Gundala berkaitan erat dengan tradisi erlau-lau karena tari Gundala-Gundala diyakini masyarkat Suku Karo mampu menghadirkan kekuatan spiritual untuk memanggil turunnya hujan.
Tari Gundala-Gundala berasal dari sebuah legenda yang ada di Kabupaten Karo. Dahulu kala ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Sibayak. Pada suatu hari raja tersebut bertemu dengan burung raksasa jelmaan dari petapa sakti bernama Gurda Gurdi. Raja Sibayak pun membawanya pulang untuk dijadikan penjaga putrinya,
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Gurda Gurdi memiliki kekuatan yang bersumber dari paruhnya, oleh karena itu terdapat aturan bahwa paruhnya tidak boleh disentuh oleh siapapun. Pada suatu hari, sang putri dengan tidak sengaja menyentuh paruhnya sehingga Gurda Gurdi pun memberontak dan ingin melukai sang putri. Akhirnya, Raja Sibayak mengutus pasukannya untuk membunuh Gurda Gurdi.
Ketika Gurda-Gurdi meninggal, langit berubah menjadi gelap dan hujan mulai turun seolah turut sedih atas kematiannya. Maka dari itu tari Gundala-Gundala dianggap dapat menurunkan hujan dan selalu digunakan dalam tradisi erlau-lau oleh masyarakat Suku Karo.
Artikel ini ditulis oleh Eme Arapenta Tarigan, Peserta Program Maganghub Kemnaker di infocom.
