Sebuah peti mati kayu berukir dengan figur manusia berbaring dan kepala makhluk mitologi menarik perhatian pengunjung Museum Negeri Sumatera Utara. Artefak tersebut dikenal dengan nama Hasi Nifolasara, peti mati tradisional dari Nias bagian selatan yang digunakan khusus untuk kalangan bangsawan.
Dalam keterangan arsip Museum Negeri Sumatera Utara dijelaskan bahwa Hasi Nifolasara dihiasi kepala Lasara, hewan mitos dalam kepercayaan kuno masyarakat Nias.
“Peti mati dari Nias bagian selatan ini dihiasi kepala Lasara, hewan mitos dalam religi Nias kuno. Pada bagian atas tutup peti terdapat figur laki-laki dalam posisi berbaring,” tulis arsip Museum Negeri Sumatera Utara.
Arsip museum juga menyebutkan bahwa peti mati ini tidak digunakan untuk masyarakat biasa.
“Peti mati ini dibuat untuk bangsawan yang dianggap berjasa bagi kampung dan diletakkan di bagian depan kampung,” lanjut keterangan tersebut.
Penempatan peti mati di ruang publik kampung menunjukkan bahwa kematian bagi masyarakat Nias kuno tidak sekadar peristiwa pribadi, melainkan peristiwa sosial yang menegaskan status dan kehormatan seseorang. Hal ini sejalan dengan kajian antropolog J. P. Beatty dalam penelitiannya tentang struktur sosial Nias, yang menyebut bahwa kematian bangsawan menjadi simbol legitimasi kekuasaan dan prestise keluarga.
“Ritual kematian di Nias berfungsi sebagai penegasan status sosial dan sarana mempertahankan hierarki adat,” tulis Beatty dalam kajiannya tentang masyarakat Nias.
Lasara yang dipahat pada bagian kepala peti mati juga memiliki makna simbolik yang kuat. Dalam berbagai penelitian antropologi Nias, Lasara dipahami sebagai makhluk pelindung yang melambangkan kekuatan, keberanian, dan hubungan manusia dengan dunia roh.
Antropolog Peter Suzuki dalam The Religious System and Culture of Nias menjelaskan bahwa figur Lasara kerap muncul dalam seni ukir, arsitektur, dan benda ritual.
“Lasara merupakan simbol kosmologis yang berfungsi sebagai penjaga antara dunia manusia dan dunia spiritual,” tulis Suzuki.
Sementara itu, figur laki-laki yang terukir dalam posisi berbaring di atas peti mati diyakini merepresentasikan sosok mendiang bangsawan itu sendiri. Menurut kajian antropolog Koentjaraningrat, tradisi penggambaran figur manusia dalam konteks kematian mencerminkan keyakinan bahwa arwah leluhur tetap hadir dan berperan dalam kehidupan komunitas.
“Leluhur dipandang sebagai bagian aktif dari struktur sosial masyarakat tradisional, sehingga kehadirannya diwujudkan secara simbolik,” tulis Koentjaraningrat dalam kajian tentang religi masyarakat Indonesia.
Melalui Hasi Nifolasara, Museum Negeri Sumatera Utara menampilkan bagaimana masyarakat Nias kuno memandang kematian sebagai peristiwa sakral yang berkaitan erat dengan status sosial, kepercayaan religi, dan identitas budaya. Artefak ini menjadi bukti bahwa seni ukir dan ritual pemakaman di Nias tidak hanya berfungsi estetis, tetapi juga sarat makna sosial dan spiritual.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di infocom
