Mengenal Pohung, ‘Pagar Gaib’ Masyarakat Batak Toba

Posted on

Di salah satu sudut Museum Negeri Sumatera Utara, tersimpan sebuah artefak yang sarat akan nilai mistis dan kearifan lokal masyarakat Batak Toba bernama Pohung. Benda yang sekilas tampak seperti tongkat biasa ini ternyata memiliki fungsi vital dalam sistem pertahanan tradisional masyarakat masa lampau.

Berdasarkan data observasi pada panel informasi di Museum Negeri Sumatera Utara, Pohung dijelaskan sebagai sejenis tongkat yang memiliki kekuatan supranatural. “Pohung adalah sejenis tongkat yang diisi dengan ramuan magis,” tulis keterangan resmi pada artefak tersebut dikutip, Jumat (23/1/2026).

Masyarakat Batak Toba meyakini bahwa ramuan yang ditanamkan ke dalam tongkat tersebut bukan sekadar campuran bahan alam, melainkan memiliki fungsi perlindungan yang kuat. “Masyarakat Batak Toba meyakini ramuan tersebut dapat berfungsi sebagai pagar (pelindung) untuk mencegah orang yang berniat jahat,” lanjut keterangan di museum tersebut.

Keunikan dari Pohung terletak pada cara penggunaannya yang tidak dipamerkan secara terbuka. Demi menjaga efektivitas ‘kekuatan’ pelindungnya, benda ini sering ditempatkan di titik-titik krusial properti milik warga.

“Benda ini dapat diletakkan di tempat tersembunyi di dalam rumah ataupun ditancapkan di tengah ladang dengan harapan mampu mencegah kehadiran pencuri ataupun bahaya lainnya,” tulis catatan Museum Negeri Sumatera Utara.

Mengutip artikel kebudayaan dari Budaya-Indonesia.org, penggunaan Pohung dalam tradisi Batak Toba sering kali dikaitkan dengan peran seorang Datu (dukun atau tetua adat) yang meracik isi dari tongkat tersebut. Kekuatan yang ada di dalam Pohung dipercaya merupakan hasil dari ritual khusus untuk memanggil roh penjaga.

Senada dengan artikel tersebut, dalam literatur sejarah Adat Batak, disebutkan bahwa Pohung merupakan manifestasi dari hukum adat yang tidak tertulis. Kehadirannya di ladang menjadi simbol peringatan keras bahwa wilayah tersebut berada di bawah perlindungan magis, sehingga siapapun yang berniat buruk akan merasa gentar sebelum bertindak.

Kini, Pohung yang tersimpan di Museum Negeri Sumatera Utara menjadi pengingat bagi generasi muda tentang bagaimana leluhur masyarakat Sumatera Utara membangun sistem keamanan dan harmoni melalui pendekatan spiritual dan simbolis.

Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta program Maganghub di infocom.

Peletakan yang Tersembunyi

Mengutip artikel kebudayaan dari Budaya-Indonesia.org, penggunaan Pohung dalam tradisi Batak Toba sering kali dikaitkan dengan peran seorang Datu (dukun atau tetua adat) yang meracik isi dari tongkat tersebut. Kekuatan yang ada di dalam Pohung dipercaya merupakan hasil dari ritual khusus untuk memanggil roh penjaga.

Senada dengan artikel tersebut, dalam literatur sejarah Adat Batak, disebutkan bahwa Pohung merupakan manifestasi dari hukum adat yang tidak tertulis. Kehadirannya di ladang menjadi simbol peringatan keras bahwa wilayah tersebut berada di bawah perlindungan magis, sehingga siapapun yang berniat buruk akan merasa gentar sebelum bertindak.

Kini, Pohung yang tersimpan di Museum Negeri Sumatera Utara menjadi pengingat bagi generasi muda tentang bagaimana leluhur masyarakat Sumatera Utara membangun sistem keamanan dan harmoni melalui pendekatan spiritual dan simbolis.

Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta program Maganghub di infocom.