Museum Simalungun menyimpan berbagai peninggalan budaya masyarakat masa lalu. Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah Satur, permainan tradisional khas Simalungun yang dahulu akrab dimainkan anak-anak, namun kini mulai jarang dikenal.
Satur merupakan permainan rakyat yang terbuat dari potongan-potongan kayu dengan bentuk sederhana. Permainan ini dimainkan dengan menyusun dan memindahkan kayu di atas papan, yang membutuhkan ketelitian dan strategi.
Berdasarkan keterangan koleksi di Museum Simalungun, Satur digunakan sebagai alat permainan tradisional masyarakat setempat.
“Satur, bahan kayu, gunanya sebagai alat permainan,” tertulis dalam arsip koleksi Museum Simalungun.
Meski tampak sederhana, permainan tradisional seperti Satur memiliki fungsi sosial yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat Simalungun tempo dulu. Permainan ini menjadi sarana hiburan sekaligus pembelajaran bagi anak-anak di luar pendidikan formal.
Antropolog Koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi menjelaskan bahwa permainan rakyat bukan sekadar aktivitas bermain, tetapi juga media pendidikan sosial.
“Permainan tradisional berfungsi sebagai sarana belajar yang mengembangkan kemampuan berpikir, konsentrasi, serta interaksi sosial anak dalam masyarakat,” tulis Koentjaraningrat.
Hal senada juga disampaikan dalam artikel budaya di Kompasiana yang membahas permainan rakyat Nusantara. Disebutkan bahwa permainan tradisional menjadi bagian dari proses pewarisan nilai budaya secara turun-temurun.
“Permainan rakyat mengajarkan anak tentang aturan, kesabaran, strategi, dan kerja sama, yang diwariskan secara alami melalui aktivitas bermain,” tulis artikel tersebut.
Satur mencerminkan cara masyarakat Simalungun memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya. Kayu dipilih sebagai bahan utama karena mudah diperoleh dan diolah, sekaligus menunjukkan kedekatan masyarakat dengan alam.
Kini, keberadaan Satur lebih banyak ditemukan di ruang pamer museum. Padahal, permainan ini menyimpan nilai edukatif dan budaya yang relevan hingga sekarang, terutama di tengah dominasi permainan digital yang minim interaksi sosial.
Museum Simalungun pun menjadi ruang penting untuk mengenalkan kembali permainan tradisional seperti Satur kepada generasi muda, agar warisan budaya ini tidak hanya tersimpan sebagai benda pajangan, tetapi juga tetap hidup dalam ingatan dan praktik masyarakat.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta program Maganghub Kemnaker di infocom.
Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.
