Ulos menjadi salah satu warisan budaya penting masyarakat Batak Toba yang hingga kini masih lestari. Di balik sehelai kain tenun ini, terdapat rangkaian proses panjang yang dikerjakan oleh para penenun yang disebut “partonun”. Bahan utama yang digunakan umumnya berasal dari kapas atau katun.
Berdasarkan data Museum Negeri Sumatra Utara, pada masa lalu benang harus melalui proses pencelupan dengan pewarna alami. Namun saat ini, ketersediaan benang berwarna di pasaran membuat tahapan tersebut mulai ditinggalkan.
Sebelum digunakan, benang direndam dalam air saringan nasi agar lebih kuat dan tidak mudah lembek. Setelah dikeringkan, benang disikat supaya lurus dan rapi.
Tahap berikutnya adalah “masorha”, yakni menggulung benang menggunakan alat pasorha atau panghulhul. Selanjutnya dilakukan proses “matubobok” atau mengani benang dengan alat panoguan dan patubobokan.
Benang yang telah dianyam kemudian dipasang pada alat tenun dalam tahap “mangaras” agar benang menjadi tegang dan siap ditenun.
Proses menenun disebut “martonun”. Setelah kain selesai, pengerjaan dilanjutkan dengan tahap “mangarambui” dan “manirat” yaitu membentuk rumbai dan sirat pada kedua ujung kain sebagai penyempurna hasil tenun.
Selain proses pembuatannya, ulos juga memiliki beragam jenis dan fungsi dalam kehidupan adat Batak Toba. Museum Negeri Sumatra Utara mencatat di antaranya lima jenis ulos yang umum digunakan.
Ulos ini berfungsi sebagai “ulos hela”, yakni pemberian orang tua pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki dalam upacara pernikahan. Selain itu, Ragi Pakko juga digunakan sebagai “ulos matua” untuk penutup peti jenazah serta sebagai hohop yang dililit seperti sarung oleh pria maupun wanita.
Jenis ulos ini biasa dikenakan perempuan sebagai selendang dalam pelaksanaan upacara adat.
Ulos Sirara digunakan oleh kaum perempuan sebagai busana yang dililit hingga batas dada.
Ulos ini diberikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada orang tua pengantin laki-laki. Selain itu, Sibolang juga kerap dipakai sebagai kain adat dalam prosesi kematian.
Bintang Maratur digunakan sebagai selendang dalam berbagai kegiatan dan upacara adat.
Demikian tahapan menenun kain khas Batak Toba. Di antara lima jenis ulos di atas, infoers tertarik yang mana?
Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di infocom







