Kondisi Museum Simalungun di Kota Pematangsiantar kian memprihatinkan. Kerusakan terlihat di sejumlah bagian bangunan, terutama pada struktur atap yang bocor, berlubang, dan mulai lapuk. Dari pantauan di lokasi, cahaya matahari bahkan tampak menembus atap museum akibat material yang sudah rusak.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Beberapa rangka kayu penyangga atap terlihat menghitam dan keropos, sementara serat ijuk atap menjuntai ke bawah. Di sejumlah titik, tumbuhan liar mulai tumbuh di sela-sela atap, menandakan kebocoran telah berlangsung lama dan belum tertangani.
Petugas Museum Simalungun, Lili, mengatakan kerusakan tersebut berkaitan dengan keterbatasan dana perawatan. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan museum sebelumnya berada di bawah yayasan, sebelum akhirnya diambil alih oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun sejak Januari lalu.
“Awalnya museum ini dipegang oleh yayasan. Sejak Januari baru diambil alih oleh Pemkab Simalungun,” kata Lili.
Menurutnya, sepinya pengunjung membuat dana perawatan museum sangat terbatas, terutama saat masih dikelola yayasan. Akibatnya, upaya revitalisasi bangunan dan koleksi tidak dapat dilakukan secara maksimal.
“Sekarang sudah sepi pengunjung, jadi untuk revitalisasi atau perawatan museum memang kurang kalau dari dana yayasan,” ujarnya.
Lili menambahkan, pihak pengelola telah mengajukan permohonan dana rehabilitasi kepada pemerintah terkait. Namun hingga kini, bantuan tersebut belum terealisasi.
“Kami sudah buat permohonan dana rehabilitasi ke pemerintah, tapi sampai sekarang belum ada. Jadi untuk perbaikan kerusakan juga belum bisa dilakukan,” jelasnya.
Ia mengakui kondisi atap museum saat ini sudah sangat mengkhawatirkan.
“Atap sudah bocor dan kondisinya sudah mau ambruk,” ucap Lili.
Selain persoalan fisik bangunan, minimnya perhatian dan kegiatan budaya juga dinilai membuat Museum Simalungun kurang dikenal masyarakat luas. Padahal museum ini menyimpan berbagai peninggalan penting sejarah dan budaya Simalungun.
“Saya berharap ada event-event budaya Simalungun supaya budaya ini tidak terlupakan dan museum ini semakin dikenal banyak orang,” tutupnya.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di infocom







