Oknum TNI Acungkan Jari Tengah-Wanita Tewas Dipaksa Pacar Minum Kencing

Posted on

Berbagai peristiwa menarik terjadi di wilayah Sumatera Utara (Sumut) dalam sepekan terakhir. Dua kasus yang cukup menghebohkan, yakni anggota TNI pembunuh istri yang mengacungkan jari tengah ke keluarga korban hingga wanita tewas dibunuh pacar dan sempat dipaksa minum air kencing sendiri.

Selain kedua kasus itu, banyak kasus lainnya juga yang menarik. Berikut infoSumut rangkum penjelasannya:

Detasemen Polisi Militer (Denpom) I/5 Medan menggelar rekonstruksi kasus oknum TNI Kodam I/BB Serma TDA yang membunuh istrinya sendiri, A (34). Setelah rekonstruksi, Serma TDA mengacungkan jari tengah ke arah salah satu keluarga korban.

Peristiwa itu berawal saat pelaku selesai melakukan rekonstruksi dan hendak diboyong ke dalam mobil polisi militer. Keluarga dan warga yang melihat pelaku diboyong pun langsung meneriakinya. Termasuk juga abang ipar korban bernama Fadhil yang sempat melontarkan kata-kata kotor ke pelaku.

Mendengar teriakan itu, Serma TDA yang dalam kondisi diborgol, langsung mengangkat tangannya dan mengacungkan jari tengahnya sebagai bentuk umpatan ke arah Fadhil. Warga yang melihat aksi pelaku itu semakin geram dan mengencangkan teriakan mereka.

“Iya, tadi saat terakhir dia mau keluar, saya berteriak, dia sempat acungkan gini (memeragakan jari tengah),” kata M Fadhil saat diwawancarai di lokasi, Senin (25/8/2025).

Dia menyebut tindakan Serma TDA itu menunjukkan tidak adanya penyesalan TDA, meski telah membunuh istrinya. Untuk itu, Fadhil meminta TDA dijerat hukuman mati.

Kejadian nahas menimpa seorang wanita di Kota Medan, berinisial L (44). Pasalnya, L tewas di tangan pacarnya, David Chandra (41).

L dibunuh secara sadis. Paling parahnya, pelaku sempat menyuruh korban untuk meminum air kencingnya sendiri.

Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Bayu Putro Wijayanto mengatakan peristiwa itu terjadi di lantai 3 rumah pelaku di Jalan Pukat II, Kecamatan Medan Tembung, Minggu (24/8) sekira pukul 01.00 WIB. Peristiwa itu diketahui petugas kepolisian dari informasi masyarakat.

“Bermula dari laporan masyarakat bahwa ditemukan seorang perempuan menjadi korban tindak penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Bayu saat konferensi pers diPolrestabes Medan, Rabu (27/8).

Berdasarkan keterangan penjaga rumah pelaku, korban telah tinggal bersama pelaku sejak Desember 2024. Selama tinggal bersama, korban juga dikekang dan tidak diperbolehkan untuk menggunakan handphone. Selain itu, korban tidak diperkenankan pergi ke mana-mana, hanya boleh berada di lantai 3.

Selama tinggal bersama pelaku, korban kerap mendapatkan perlakuan kasar. Paling fatalnya, pelaku pernah menyuruh korban kencing di baskom dan menyuruh korban meminum air kencing tersebut.

Hal itu juga dibuktikan dari rekaman video penganiayaan yang tersimpan di handphone pelaku. Selain itu, pelaku juga pernah memasukkan bekas botol bir ke kemaluan korban. Botol itu juga digunakan pelaku untuk menganiaya korban.

“Sangat sadis dan tak manusiawi. (Disuruh) kencing di dalam baskom juga disuruh minum kepada korban,” kata Bayu.

Seorang dukun bernama Alfian (57) membacok pasiennya bernama Kwek Tjue (67) hingga tewas di Kabupaten Deli Serdang. Pelaku melancarkan aksinya saat mereka melakukan ritual menggandakan uang.

Kapolsek Medan Tembung AKP Ras Maju Tarigan mengatakan peristiwa itu berawal pada 16 Agustus 2025. Saat itu, korban bersama anaknya Eriana (38) mendatangi rumah pelaku di Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, dengan mengendarai sepeda motor.

Saat itu, kata Ras Maju, korban ingin meminta bantuan pelaku untuk menggandakan uang.

“Modusnya yang pertama korban ini sedang susah, korban dan tersangka sudah lama kenal. Korban datang bersama anaknya yang perempuan, maksud hati datang menjumpai tersangka untuk meminta bantuan, untuk menggandakan uang,” kata Ras Maju, Selasa (26/8).

Awalnya, pelaku meminta korban menyiapkan uang Rp 100 juta untuk digandakan. Namun, belakangan mereka sepakat uang yang hendak digandakan itu menjadi Rp 20 juta. Nyatanya, pada saat kejadian itu, korban hanya membawa uang Rp 1,1 juta.

Setelah tiba di rumah pelaku, Alfian pun mengajak korban menuju Jalan Lembaga, Dusun 11 Desa Tanjung Selamat, Kecamatan Percut Sei Tuan, untuk melakukan ritual mandi. Sementara anak korban ditinggalkan di rumah pelaku bersama dengan anak Alfian dan tetangganya.

Saat menuju lokasi ritual itu, pelaku sempat menghentikan sepeda motor dan membeli kelapa muda untuk persyaratan ritual. Setibanya di lokasi, pelaku membelah kelapa muda itu dan meminum airnya sebagian, sedangkan sebagiannya lagi diminumkan ke korban.

“Saat korban disuruh membakar dupa dengan duduk bersila membelakangi tersangka, tersangka langsung membacok leher korban sampai jatuh,” jelasnya.

Setelah memastikan korban tak bernyawa, pelaku pulang ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motor korban. Petugas kepolisian pun mencari keberadaan korban.

Lalu, pada 23 Agustus 2025, petugas mendapatkan informasi soal penemuan mayat di Jalan Lembaga, tempat pelaku dan korban melakukan ritual.

Mantan Kasat Reskrim Polres Tanah Karo itu mengatakan bahwa motif pelaku sampai nekat membunuh korban karena kesal. Sebab, korban hanya membawa uang Rp 1,1 juta dari total Rp 100 juta yang diminta pelaku.

Tiga warga diduga ditembak menggunakan senjata api (senpi) rakitan hingga satu di antaranya tewas di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Polisi saat ini tengah memburu pelaku.

“Kita masih pendalaman. Iya, (pelaku) lagi dikejar,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Bayu Putro Wijayanto saat diwawancarai di Polrestabes Medan, Rabu (27/8).

Kuasa hukum keluarga dan para korban, Irwansyah Putra Nasution mengatakan kejadian berawal saat korban Hendra Tarigan (53) datang ke warung tuak milik terduga pelaku penembakan inisial MS. Saat itu, Hendra ingin mengajak abangnya yang sedang duduk di warung tersebut untuk pulang.

Irwansyah memerinci korban tewas bernama Hendra Tarigan. Korban ditembak di bagian kepala. Lalu, korban Hendrik ditembak di paha dan Rahmat terkena serempetan peluru yang mengenai bagian bokongnya. Sementara yang dibacok bernama Ari.

“Abangnya itu mau minum tuak, dilarang, keluarganya nggak suka abangnya mabuk-mabukan. Jadi, datang ke situ menjemput,” kata Irwansyah saat dikonfirmasi infoSumut, Selasa (26/8).

Dia menduga pelaku yang terlibat dalam kasus itu tidak hanya MS, ada pelaku-pelaku lain yang terlibat dalam kejadian itu. Irwansyah meminta pihak kepolisian segera mengungkapnya.

Seorang janda yang berprofesi sebagai pedagang baju inisial LS (46) ditemukan tewas mengenaskan di kios miliknya di Pajak Buah Berastagi, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo. Belakangan diketahui bahwa korban ternyata dibunuh oleh perampok.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu (24/8) malam. Penemuan jasad korban pun menggegerkan warga sekitar.

Saat ini, petugas kepolisian telah menangkap pelaku tunggal berinisial WS (27) di Kabupaten Samosir pada Rabu (27/8).

Kasat Reskrim Polres Tanah Karo AKP Eriks Raydikson Nainggolan mengatakan peristiwa itu terjadi sekira pukul 22.55 WIB. Saat kejadian, toko baju korban masih buka.

Lalu, pelaku datang dengan berpura-pura membeli. Saat korban hendak mengambil baju yang ingin dibeli, pelaku langsung menusuk korban hingga tewas.

“Dia pura pura membeli, ditusuklah, ditusuk belakang, ada tusukan di depan juga,” kata Eriks saat dikonfirmasi infoSumut, Kamis (28/8).

Eriks menyebut pelaku mengambil uang dan emas korban. Perwira pertama polri itu belum memerinci jumlah uang dan emas yang diambil pelaku.

Namun, kata Eriks, emas korban tersebut bukan emas asli, sehingga tidak laku dijual.

Total ada 7 tusukan yang dialami korban. Tusukan itu terdapat di bagian depan punggung korban. Pelaku mengaku nekat merampok korban karena membutuhkan uang untuk biaya istrinya melahirkan.

“(Motifnya) butuh uang untuk lahiran istrinya keterangannya (pelaku),” kata Eriks.

1.Oknum TNI Bunuh Istri

2. Wanita Dibunuh Pacar, Sempat Dipaksa Minum Kencing

3. Dukun Sesat Bunuh Kakek Modus Ritual Gandakan Uang

4. 3 Warga Ditembak Hingga 1 Tewas

5. Pedagang Baju Dibunuh Perampok Modus Pura-Pura Beli di Karo

Hal itu juga dibuktikan dari rekaman video penganiayaan yang tersimpan di handphone pelaku. Selain itu, pelaku juga pernah memasukkan bekas botol bir ke kemaluan korban. Botol itu juga digunakan pelaku untuk menganiaya korban.

“Sangat sadis dan tak manusiawi. (Disuruh) kencing di dalam baskom juga disuruh minum kepada korban,” kata Bayu.

Seorang dukun bernama Alfian (57) membacok pasiennya bernama Kwek Tjue (67) hingga tewas di Kabupaten Deli Serdang. Pelaku melancarkan aksinya saat mereka melakukan ritual menggandakan uang.

Kapolsek Medan Tembung AKP Ras Maju Tarigan mengatakan peristiwa itu berawal pada 16 Agustus 2025. Saat itu, korban bersama anaknya Eriana (38) mendatangi rumah pelaku di Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, dengan mengendarai sepeda motor.

Saat itu, kata Ras Maju, korban ingin meminta bantuan pelaku untuk menggandakan uang.

“Modusnya yang pertama korban ini sedang susah, korban dan tersangka sudah lama kenal. Korban datang bersama anaknya yang perempuan, maksud hati datang menjumpai tersangka untuk meminta bantuan, untuk menggandakan uang,” kata Ras Maju, Selasa (26/8).

Awalnya, pelaku meminta korban menyiapkan uang Rp 100 juta untuk digandakan. Namun, belakangan mereka sepakat uang yang hendak digandakan itu menjadi Rp 20 juta. Nyatanya, pada saat kejadian itu, korban hanya membawa uang Rp 1,1 juta.

Setelah tiba di rumah pelaku, Alfian pun mengajak korban menuju Jalan Lembaga, Dusun 11 Desa Tanjung Selamat, Kecamatan Percut Sei Tuan, untuk melakukan ritual mandi. Sementara anak korban ditinggalkan di rumah pelaku bersama dengan anak Alfian dan tetangganya.

Saat menuju lokasi ritual itu, pelaku sempat menghentikan sepeda motor dan membeli kelapa muda untuk persyaratan ritual. Setibanya di lokasi, pelaku membelah kelapa muda itu dan meminum airnya sebagian, sedangkan sebagiannya lagi diminumkan ke korban.

“Saat korban disuruh membakar dupa dengan duduk bersila membelakangi tersangka, tersangka langsung membacok leher korban sampai jatuh,” jelasnya.

Setelah memastikan korban tak bernyawa, pelaku pulang ke rumahnya dengan mengendarai sepeda motor korban. Petugas kepolisian pun mencari keberadaan korban.

Lalu, pada 23 Agustus 2025, petugas mendapatkan informasi soal penemuan mayat di Jalan Lembaga, tempat pelaku dan korban melakukan ritual.

Mantan Kasat Reskrim Polres Tanah Karo itu mengatakan bahwa motif pelaku sampai nekat membunuh korban karena kesal. Sebab, korban hanya membawa uang Rp 1,1 juta dari total Rp 100 juta yang diminta pelaku.

Tiga warga diduga ditembak menggunakan senjata api (senpi) rakitan hingga satu di antaranya tewas di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Polisi saat ini tengah memburu pelaku.

3. Dukun Sesat Bunuh Kakek Modus Ritual Gandakan Uang

4. 3 Warga Ditembak Hingga 1 Tewas

“Kita masih pendalaman. Iya, (pelaku) lagi dikejar,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Bayu Putro Wijayanto saat diwawancarai di Polrestabes Medan, Rabu (27/8).

Kuasa hukum keluarga dan para korban, Irwansyah Putra Nasution mengatakan kejadian berawal saat korban Hendra Tarigan (53) datang ke warung tuak milik terduga pelaku penembakan inisial MS. Saat itu, Hendra ingin mengajak abangnya yang sedang duduk di warung tersebut untuk pulang.

Irwansyah memerinci korban tewas bernama Hendra Tarigan. Korban ditembak di bagian kepala. Lalu, korban Hendrik ditembak di paha dan Rahmat terkena serempetan peluru yang mengenai bagian bokongnya. Sementara yang dibacok bernama Ari.

“Abangnya itu mau minum tuak, dilarang, keluarganya nggak suka abangnya mabuk-mabukan. Jadi, datang ke situ menjemput,” kata Irwansyah saat dikonfirmasi infoSumut, Selasa (26/8).

Dia menduga pelaku yang terlibat dalam kasus itu tidak hanya MS, ada pelaku-pelaku lain yang terlibat dalam kejadian itu. Irwansyah meminta pihak kepolisian segera mengungkapnya.

Seorang janda yang berprofesi sebagai pedagang baju inisial LS (46) ditemukan tewas mengenaskan di kios miliknya di Pajak Buah Berastagi, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo. Belakangan diketahui bahwa korban ternyata dibunuh oleh perampok.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu (24/8) malam. Penemuan jasad korban pun menggegerkan warga sekitar.

Saat ini, petugas kepolisian telah menangkap pelaku tunggal berinisial WS (27) di Kabupaten Samosir pada Rabu (27/8).

Kasat Reskrim Polres Tanah Karo AKP Eriks Raydikson Nainggolan mengatakan peristiwa itu terjadi sekira pukul 22.55 WIB. Saat kejadian, toko baju korban masih buka.

Lalu, pelaku datang dengan berpura-pura membeli. Saat korban hendak mengambil baju yang ingin dibeli, pelaku langsung menusuk korban hingga tewas.

“Dia pura pura membeli, ditusuklah, ditusuk belakang, ada tusukan di depan juga,” kata Eriks saat dikonfirmasi infoSumut, Kamis (28/8).

Eriks menyebut pelaku mengambil uang dan emas korban. Perwira pertama polri itu belum memerinci jumlah uang dan emas yang diambil pelaku.

Namun, kata Eriks, emas korban tersebut bukan emas asli, sehingga tidak laku dijual.

Total ada 7 tusukan yang dialami korban. Tusukan itu terdapat di bagian depan punggung korban. Pelaku mengaku nekat merampok korban karena membutuhkan uang untuk biaya istrinya melahirkan.

“(Motifnya) butuh uang untuk lahiran istrinya keterangannya (pelaku),” kata Eriks.

5. Pedagang Baju Dibunuh Perampok Modus Pura-Pura Beli di Karo