Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menyimpan salah satu artefak penting dari kebudayaan Nias, yakni osa-osa, arca yang berfungsi sebagai kursi atau tempat duduk dalam berbagai upacara adat. Artefak ini tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga mengandung makna simbolik yang kuat terkait status sosial dan kekuasaan.
Berdasarkan keterangan panel koleksi museum, osa-osa merupakan adu (arca) yang digunakan sebagai tempat duduk dalam upacara. Budaya pembuatan osa-osa berkembang pesat di wilayah Nias bagian selatan.
“Osa-osa adalah adu (arca) yang berfungsi sebagai kursi atau tempat duduk di dalam upacara,” tertulis dalam penjelasan koleksi Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara.
Arca ini menggambarkan Lasara, makhluk mitologis dalam kepercayaan Nias kuno yang diyakini memiliki kekuatan pelindung. Osa-osa dibuat dari bahan batu maupun kayu, tergantung pada fungsi dan status pemiliknya.
Panel museum juga menjelaskan bahwa bentuk osa-osa mencerminkan perbedaan peran sosial. Osa-osa berkepala satu umumnya digunakan sebagai tempat duduk pengantin laki-laki atau raja, sementara osa-osa berkepala tiga diperuntukkan bagi pengantin perempuan atau istri raja.
Dalam kajian antropologi, osa-osa dipahami sebagai simbol legitimasi kekuasaan. Antropolog Peter Suzuki menyebut bahwa kursi batu dan arca duduk di Nias berfungsi sebagai penanda otoritas bangsawan dan pemimpin adat.
“Stone seats and statues in Nias society function as symbols of rank and authority, used during rituals to affirm social hierarchy,” tulis Peter Suzuki dalam The Religious System of the Nias People.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh antropolog Belanda J.P.B. de Zwaan, yang menilai bahwa artefak seperti osa-osa tidak bisa dilepaskan dari sistem ritus dan struktur sosial masyarakat Nias.
“Arca dan kursi adat dalam kebudayaan Nias merupakan sarana visual untuk menegaskan kedudukan sosial seseorang dalam komunitas,” tulis J.P.B. de Zwaan dalam kajian etnografi tentang Nias.
Sementara itu, sejarawan seni Asia Tenggara Roderich Ptak menyebut bahwa penggambaran makhluk mitologis seperti Lasara pada artefak Nias menunjukkan kuatnya pengaruh kosmologi lokal dalam seni dan ritual.
“Mythical creatures carved in ritual objects reflect the cosmological worldview of the Nias people,” tulis Roderich Ptak dalam kajian Seni Ritual Asia Tenggara.
Keberadaan koleksi osa-osa di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menjadi sarana edukasi penting untuk memahami bahwa dalam budaya Nias, benda seni memiliki fungsi ganda: sebagai alat ritual dan sebagai simbol kekuasaan serta tatanan sosial. Artefak ini merekam bagaimana masyarakat Nias memadukan kepercayaan, seni, dan struktur sosial dalam satu wujud budaya.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di infocom
