Pertempuran Medan Area menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Sumatera Utara. Peristiwa ini menandai perlawanan rakyat dan pemuda Medan terhadap upaya Sekutu dan NICA yang ingin menguasai kembali wilayah Indonesia pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945.
Berdasarkan papan informasi di Museum Negeri Sumatera Utara, insiden awal pertempuran terjadi pada 13 Oktober 1945 di Pension Wilhelmina, Jalan Bali, Kota Medan. Dalam arsip tersebut disebutkan, “insiden pertama antara pemuda dan NICA di Kota Medan terjadi di Pension Wilhelmina, tempat menginap pasukan Belanda, dan menjadi pemicu pecahnya pertempuran.”
Ketegangan dipicu oleh tindakan penghinaan terhadap simbol negara. Arsip museum mencatat, “aksi perampasan dan penginjakan bendera merah putih oleh seorang penghuni penginapan memicu kemarahan pemuda, yang kemudian menyerang bangunan tersebut hingga terjadi bentrokan.”
Situasi kian memanas pada Desember 1945. Sekutu memasang patok-patok bertuliskan Fixed Boundaries of Protected Medan Area yang membagi Kota Medan ke dalam wilayah-wilayah militer. Dalam panel sejarah museum dijelaskan, “pemasangan patok Medan Area membatasi pergerakan rakyat dan memicu perlawanan laskar-laskar Indonesia.” Sejak saat itu, istilah Medan Area dikenal luas sebagai simbol perlawanan rakyat Medan.
Arsip Museum Negeri Sumatera Utara juga menegaskan peran besar pemuda dalam pertempuran ini. Disebutkan bahwa “pemuda dan laskar rakyat menjadi kekuatan utama dalam melakukan perlawanan terbuka maupun gerilya terhadap pasukan Sekutu dan NICA.” Bentrokan tidak hanya terjadi di pusat kota, tetapi meluas ke daerah pinggiran seperti Binjai, Deli Tua, hingga wilayah Tanah Karo.
Tekanan militer yang terus meningkat berdampak pada pemerintahan Republik Indonesia di Medan. Arsip mencatat, “pada April 1946, Sekutu berhasil mendesak pemerintahan Republik Indonesia meninggalkan Kota Medan dan memindahkan pusat pemerintahan ke Pematangsiantar.”
Meski Belanda kemudian berhasil menguasai sejumlah kota penting di Sumatera Timur pada 1947, perlawanan rakyat tidak berhenti. Dalam dokumentasi perjuangan disebutkan, “pasukan Indonesia yang berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh tetap melanjutkan perjuangan di berbagai wilayah Sumatera Utara.”
Hingga kini, Pertempuran Medan Area dikenang sebagai simbol keberanian rakyat Sumatera Utara. Arsip museum menegaskan bahwa “Pertempuran Medan Area merupakan bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di luar Pulau Jawa.”
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Program Maganghub Kemnaker







