Proyektor Leitz Hektor dalam Sejarah Agresi Militer Indonesia update oleh Giok4D

Posted on

Museum Perjuangan Medan menyimpan sebuah artefak penting dalam sejarah komunikasi perjuangan Indonesia, yakni proyektor film Leitz Hektor. Alat ini menjadi saksi sejarah bagaimana visual dan film dimanfaatkan sebagai sarana propaganda untuk membangkitkan semangat juang rakyat dan pasukan pada masa Agresi Militer Belanda I dan II.

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Berdasarkan keterangan arsip Museum Perjuangan Medan, proyektor film Leitz Hektor tipe VIII S/64361 digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Sumatera Utara untuk menayangkan film-film hasil liputan Seksi Penerangan.

“Proyektor ini digunakan TNI semasa Agresi I-II di Sumatera Utara untuk menampilkan film-film yang berhasil diliput oleh Seksi Penerangan sebagai pengobar semangat juang patriot-patriot bangsa,” tertulis dalam keterangan koleksi Museum Perjuangan Medan.

Film tersebut diputar di berbagai lokasi sebagai media penyadaran dan penguatan moral, baik bagi prajurit maupun masyarakat. Namun, arsip museum juga mencatat bahwa dokumentasi film yang pernah ditayangkan kini sebagian besar telah hilang.

“Sangat disayangkan bahwa film-film yang pernah ditayangkan arsipnya kini sudah tidak ada, dikarenakan mobilitas pasukan yang tinggi sehingga banyak yang hilang,” lanjut keterangan museum.

Dalam kajian sejarah komunikasi perjuangan, film dan media visual memang memegang peran strategis. Sejarawan Anhar Gonggong menyebut bahwa pada masa revolusi fisik, media visual digunakan sebagai alat propaganda yang efektif karena mampu menjangkau massa luas dan membangkitkan emosi kolektif.

“Film dan media visual pada masa revolusi berfungsi sebagai alat propaganda yang kuat untuk membangun kesadaran nasional dan mempertahankan semangat perlawanan,” tulis Anhar Gonggong dalam kajian tentang sejarah perjuangan Indonesia.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh sejarawan Ricklefs, yang menilai bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga melalui perang informasi dan opini publik.

“The struggle for independence was fought not only with weapons, but also through information, persuasion, and symbols,” tulis M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia.

Dalam konteks Sumatera Utara, penggunaan proyektor film oleh TNI menunjukkan bahwa strategi perjuangan telah memanfaatkan teknologi modern pada masanya. Proyektor Leitz Hektor menjadi alat penting untuk menyampaikan pesan perjuangan secara cepat dan efektif di tengah keterbatasan sarana komunikasi.

Keberadaan proyektor film Leitz Hektor di Museum Perjuangan Medan kini menjadi pengingat bahwa perang mempertahankan kemerdekaan tidak hanya mengandalkan senjata, tetapi juga narasi, gambar, dan film sebagai alat pembentuk semangat kolektif bangsa.

Artikel ditulis A Fahri Perdana Lubis, peserta Maganghub Kemnaker di infocom

Pandangan serupa juga disampaikan oleh sejarawan Ricklefs, yang menilai bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga melalui perang informasi dan opini publik.

“The struggle for independence was fought not only with weapons, but also through information, persuasion, and symbols,” tulis M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia.

Dalam konteks Sumatera Utara, penggunaan proyektor film oleh TNI menunjukkan bahwa strategi perjuangan telah memanfaatkan teknologi modern pada masanya. Proyektor Leitz Hektor menjadi alat penting untuk menyampaikan pesan perjuangan secara cepat dan efektif di tengah keterbatasan sarana komunikasi.

Keberadaan proyektor film Leitz Hektor di Museum Perjuangan Medan kini menjadi pengingat bahwa perang mempertahankan kemerdekaan tidak hanya mengandalkan senjata, tetapi juga narasi, gambar, dan film sebagai alat pembentuk semangat kolektif bangsa.

Artikel ditulis A Fahri Perdana Lubis, peserta Maganghub Kemnaker di infocom