Bencana banjir yang melanda sebagian wilayah Sumatera meninggalkan luka mendalam bagi para korban. Untuk itu diperlukan adanya layanan psikososial untuk mencegah Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) pasca terjadinya bencana untuk mencegah terjadinya stres berlebih terhadap korban.
Endang Haryati, Psikolog sekaligus Dosen Universitas Medan Area, menyebut korban bencana sangat rawan mengalami stres atas peristiwa yang dialaminya. Stres pasca trauma ini dapat menyebabkan penderitanya mengalami mimpi buruk, gangguan emosional hingga menarik diri dari lingkungan.
“Stress pasca trauma atau PTSD itu terkadang mereka sering mengalami mimpi buruk, mudah kaget, tidak fokus. Untuk gangguan secara emosi ya mudah marah, kemudian menarik diri dari lingkungan, kemudian adanya gangguan tidur, kemudian rasa tidak berdaya dan putus asa, ” ungkapnya saat diwawancarai infoSumut, Senin (5/12/2026).
Endang mengungkapkan harapannya agar pemerintah mampu memberikan layanan psikososial guna mencegah adanya PTSD. Endang menyebut layanan tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Pemerintah harus mampu memberikan semacam layanan psiko-sosial yang dilakukan secara berkelanjutan, ” ungkapnya.
Endang menyebut anak-anak adalah kelompok usia yang paling mudah terdampak secara mental usia bencana. Hal ini terjadi karena kemampuan anak-anak belum matang dan masih labil.
“Untuk kelompok usia yang paling mudah terdampak secara mental itu anak anak ya, karena kemampuan coping (mechanism) mereka belum seperti orang dewasa, belum matang dan masih labil. Sering muncul perilaku regresi, misalnya anak TK yang tadinya sudah nggak ngompol jadi ngompol, kemudian menangis berlebihan,” jelasnya.
Endang mengungkapkan dirinya bersama para mahasiswa juga sedang mempersiapkan untuk melakukan pemulihan terhadap anak-anak korban banjir. Hal ini dilakukan agar para korban bisa bangkit secara utuh.
“Sekarang ibu lagi mempersiapkan bersama mahasiswa untuk melakukan healing ke anak anak khususnya, namun tidak tertutup untuk yang lain. Agar korban bisa bangkit secara utuh. Karena susah untuk memulihkan orang yang mengalami stress pasca bencana, ” tutupnya.
Artikel ini ditulis oleh Rindi Antika peserta program Maganghub Kemnaker di infocom
