Sekjen PBB Antonio Guterres merespons tindakan Amerika Serikat (AS) yang meluncurkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Guterres mengaku prihatin dan khawatir dengan situasi tersebut.
Dilansir infoNews dari CNN, Minggu (4/1/2026), Juru Bicara Sekjen PBB Guterres, Stephane Dujarric, mengatakan bahwa Guterres ‘sangat prihatin’ dengan aksi militer AS di Venezuela.
Selain itu, Guterres disebut khawatir dengan dampak terhadap kawasan tersebut. Lebih lanjut dia mengatakan Guterres meminta semua pihak menghormati hukum internasional.
“Terlepas dari situasi di Venezuela, perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya. Sekretaris Jenderal terus menekankan pentingnya penghormatan penuh, oleh semua pihak, terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB,” ujarnya.
Sebelumnya, serangan AS dan penangkapan Nicolas Maduro merupakan puncak dari tekanan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Venezuela selama berbulan-bulan terakhir. Tindakan itu menuai kecaman dari beberapa pemimpin internasional.
Maduro ditangkap pada Sabtu (3/1) dini hari. Penangkapan diawali dengan serangan oleh pasukan AS.
AS menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Kemudian, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dibawa ke AS.
Trump telah mendesak Maduro untuk menyerahkan kekuasaan dan menuduhnya mendukung kartel narkoba. Trump menuduh Maduro dan kartel narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS yang terkait dengan penggunaan narkoba ilegal.
Sejak September 2025, pasukan AS telah membunuh lebih dari 100 orang dalam setidaknya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dari Venezuela di Karibia dan Pasifik. Para ahli hukum mengatakan aksi AS itu kemungkinan melanggar hukum AS dan internasional.
Baca selengkapnya







