Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menyimpan salah satu artefak penting dari kebudayaan Nias kuno, yakni Saita Gari. Secara harfiah, Saita Gari berarti tempat untuk menyangkutkan gari atau pedang.
Artefak ini merupakan pilar kayu sakral yang memiliki peran penting dalam sistem religi tradisional masyarakat Nias.
Berdasarkan keterangan arsip museum, Saita Gari diyakini ditempatkan di dalam osali, yaitu rumah pemujaan dalam kepercayaan kuno Nias. Pilar ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyangkutkan senjata, tetapi juga menjadi bagian dari rangkaian ritual keagamaan yang berkaitan dengan pemujaan leluhur.
“Secara harfiah berarti tempat untuk menyangkutkan gari (pedang), pilar kayu ini diyakini ditempatkan di dalam osali (rumah pemujaan) sebagai bagian dari ritual religi Nias kuno,” tertulis dalam keterangan koleksi Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara.
Pada bagian atas Saita Gari terdapat figur Adu Zatua, yakni arca leluhur yang populer dalam religi kuno Nias. Kehadiran Adu Zatua mempertegas fungsi Saita Gari sebagai media penghubung antara manusia dan leluhur dalam praktik spiritual masyarakat Nias masa lalu.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Pada bagian atasnya terdapat figur Adu Zatua (arca leluhur) yang populer dalam religi kuno tersebut,” tulis arsip museum.
Arsip museum juga mencatat adanya dugaan bahwa Saita Gari merupakan representasi dari pohon suci dalam agama kuno Nias. Simbol pohon ini diyakini melambangkan kehidupan, kekuatan, dan hubungan antara dunia manusia dengan dunia roh.
“Terdapat pula dugaan bahwa Saita Gari adalah representasi pohon suci dalam agama kuno Nias di masa lalu,” demikian keterangan koleksi museum.
Pandangan tersebut sejalan dengan kajian antropologi yang menyebut bahwa dalam banyak kebudayaan tradisional Indonesia, pilar atau tiang sakral dimaknai sebagai simbol kosmologis. Antropolog Koentjaraningrat menjelaskan bahwa tiang atau pohon suci kerap dipahami sebagai penghubung antara alam manusia dan alam gaib.
“Tiang atau pohon suci dalam kepercayaan tradisional berfungsi sebagai penghubung antara dunia manusia dan dunia roh,” tulis Koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi.
Sementara itu, antropolog J.P. Kleiweg de Zwaan dalam kajian etnografinya tentang masyarakat Nias menyebut bahwa artefak-artefak ritual yang memuat simbol leluhur memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sosial dan spiritual.
“Arca dan benda ritual dalam masyarakat Nias berfungsi sebagai simbol kehadiran leluhur yang terus memengaruhi kehidupan keturunannya,” tulis Kleiweg de Zwaan dalam studinya tentang kebudayaan Nias.
Keberadaan Saita Gari di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menjadi bukti bahwa masyarakat Nias kuno telah memiliki sistem religi yang kompleks dan simbolik. Artefak ini tidak hanya merekam fungsi ritual, tetapi juga menggambarkan cara masyarakat Nias memaknai hubungan antara manusia, leluhur, dan alam semesta.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Maganghub Kemnaker di infocom







