Ka’bah merupakan bangunan suci yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Bangunan ini berada di area Masjidil Haram, Makkah, dan menjadi arah kiblat dalam pelaksanaan salat. Setiap tahunnya, jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia mendatangi Ka’bah untuk menunaikan ibadah haji maupun umrah.
Dalam catatan sejarah Islam, Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS. Peristiwa tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 127,
وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Namun, terdapat pula pendapat lain yang menyebut bahwa Ka’bah telah ada sejak masa Nabi Adam AS atau bahkan sebelumnya. Menurut pandangan ini, Nabi Ibrahim AS hanya membangun kembali Ka’bah di atas fondasi yang telah ada.
Sebagai pusat ibadah umat Islam, Ka’bah memiliki sejumlah bagian penting yang masing-masing memiliki fungsi dan makna tersendiri. Pengetahuan mengenai bagian-bagian Ka’bah menjadi hal yang penting, khususnya bagi jemaah haji dan umrah. Berikut ini bagian-bagian Ka’bah yang perlu diketahui dilansir infoSumut dari infoHikmah.
Hajar Aswad adalah batu mulia yang diyakini berasal dari surga dan berada di salah satu sudut Ka’bah. Batu ini menjadi tanda dimulainya tawaf bagi jemaah yang mengelilingi Ka’bah.
Mengutip buku The Power Of Kabah karya Zainurrofieq Lc, Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan Hajar Aswad ketika bertawaf bersama Aisyah RA. Saat menyentuh rukun tersebut, beliau bersabda,
“Wahai Aisyah, seandainya batu ini tidak dilumuri kotoran-kotoran jahiliah, aku akan gunakan untuk mengobati segala macam penyakit dan akan aku dapati sebagaimana keadaannya waktu diturunkan Allah. Sesungguhnya Hajar Aswad adalah sebuah yaqut yang berasal dari surga. Tetapi, Allah mengubahnya karena kemaksiatan para durjana dan para penguasa. Karena, tidak selayaknya mereka memandang sesuatu yang berasal dari surga.” (HR Al-Azraqy)
Hajar Aswad berbentuk menyerupai telur dengan warna hitam kemerahan, disertai bintik-bintik merah dan kuning. Batu ini dibingkai perak setebal sekitar 10 sentimeter yang dibuat oleh Abdullah bin Zubair.
Awalnya, Hajar Aswad berwarna putih, namun berubah menjadi hitam akibat dosa manusia, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut,
“Hajar Aswad turun dari surga berwarna lebih putih dari susu lalu berubah warnanya menjadi hitam akibat dosa-dosa bani Adam.” (HR Tirmidzi)
Multazam merupakan area istimewa di sekitar Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, dengan jarak sekitar dua meter.
Di tempat ini, jemaah dianjurkan memperbanyak doa. Saat berdoa, jemaah disunnahkan menempelkan pipi, dada, kedua lengan, serta telapak tangan ke dinding Ka’bah sebagai bentuk penghambaan dan kedekatan kepada Allah SWT.
Maqam Ibrahim adalah batu yang dahulu digunakan Nabi Ibrahim AS sebagai pijakan saat membangun Ka’bah bersama Nabi Ismail AS. Bekas pijakan tersebut kini dilindungi dengan penutup berwarna keemasan dan diletakkan sekitar 10 meter di depan pintu Ka’bah.
Keutamaan Maqam Ibrahim disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 125,
وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. (Ingatlah ketika Aku katakan,) ‘Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim) sebagai tempat salat.’ (Ingatlah ketika) Kami wasiatkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, serta yang rukuk dan sujud (salat)!'”
Pintu Ka’bah terbuat dari emas murni dan memiliki ukuran sekitar 3,1 meter panjang, 1,9 meter lebar, dan kedalaman 2,25 meter. Dahulu, Ka’bah memiliki dua pintu sejajar tanah di sisi timur dan barat.
Setelah renovasi oleh kaum Quraisy sebelum masa kenabian Muhammad SAW, pintu barat ditutup dan kini dikenal sebagai pintu taubat. Pintu yang digunakan saat ini berada di sisi timur, posisinya lebih tinggi dari tanah, serta memiliki dua daun pintu. Pintu tersebut merupakan hadiah dari Raja Khalid bin Abdul Aziz dan terbuat dari emas murni 99,99 persen dengan berat sekitar 280 kilogram.
Syadzarwan adalah bagian melengkung di dasar dinding Ka’bah yang berfungsi melindungi fondasi bangunan. Tepat di area tempat jemaah melakukan tawaf. Fungsinya untuk menutup dan melindungi bagian dasar Ka’bah, menjadi seperti sarung yang menyelimutinya.
Syadzarwan yang ada saat ini dibangun pertama kali tahun 1040 H oleh Sultan Murad dari Turki. Bagian ini dibangun menggunakan marmer, tingginya 11 sentimeter dari lantai dengan lebar kurang lebih 40 sentimeter.
Syadzarwan posisinya miring dan mengelilingi tiga sisi Ka’bah, yaitu sisi timur, barat, dan selatan. Di sisi utara tidak ada Syadzarwan.
Melansir buku Jejak Sejarah di Dua Tanah Haram; Napak Tilas 85 Tempat Bersejarah di Makkah dan Madinah karya Mansya Aji Putra, menurut riwayat lain, disebutkan Syadzarwan ini dibangun oleh Abdullah bin Zubair. Maksud dibangunnya Syadzarwan ini adalah untuk melindungi dinding Ka’bah dari rembesan air hujan. Selain itu juga agar jemaah tidak menyentuh dinding Ka’bah saat tawaf.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Menurut mazhab ulama, Syafi’i, Maliki, dan Hambali, Syadzarwan juga merupakan bagian dari bangunan Ka’bah sehingga tidak dianjurkan disentuh atau diinjak saat tawaf agar tawaf yang dilakukan tetap sah.
Sementara menurut ulama dari Mazhab Hanafi, Syadzarwan bukan bagian dari Ka’bah. Namun, memilih sikap berhati-hati lebih dianjurkan.
Kiswah adalah kain hitam penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra dan dihiasi kaligrafi benang emas. Kiswah memiliki tinggi sekitar 14 meter dan dihiasi ikat pinggang kaligrafi di sepertiga bagian atasnya. Setiap tahun, kiswah Ka’bah diganti melalui prosesi khusus yang dilakukan pada awal bulan Muharam.
Dalam kitab Al-Kakbah Al-Musyarrafah wa Al-Hajar Al-Aswad (Ru’yah ‘Ilmiyyah) karya Muhammad Abdul Hamid Asy-Syarqawi dan Muhammad Raja’I Ath-Thahlawi terjemahan Luqman Junaidi dan Khalifurrahman Fath, orang pertama yang memasangkan kiswah sutra di Ka’bah adalah Abdullh bin Az-Zubair.
Awalnya, Ka’bah tidak memiliki atap. Seiring perkembangan waktu, atap Ka’bah dibangun dan terus dipertahankan hingga kini. Saat ini, Ka’bah memiliki dua lapis atap dengan lapisan marmer putih di bagian atasnya.
Pada masa Al-Idrisi (1100-1166 M), atap Ka’bah dibangun dan diyakini masih dipertahankan hingga kini sejak diperbaiki oleh Al-Hajjaj pada tahun 74 Hijriah.
Mizab Ar-Rahman merupakan pancuran yang terletak di sisi barat daya Ka’bah atau sekitar 60 sentimeter di bawah atap. Fungsinya untuk air hujan sehingga atap Ka’bah tidak tergenang air. Bentunya seperti tabung sepanjang 2,58 meter. 58 Cm meternya tertanam dalam dinding Ka’bah.
Pancuran ini terbuat dari perak seberat sekitar 2,5 kilogram dengan panjang 190 sentimeter dan dihiasi emas.
Rukun Yamani berada di sudut barat daya Ka’bah dan menghadap ke arah Yaman. Saat melewatinya dalam tawaf, jemaah disunnahkan mengusapnya sambil membaca doa,
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah wa qina ‘adzaban naar
Artinya: “Ya Rabb kami, karuniakanlah pada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka.”
Melansir buku Manasik ‘Umrah Nabi Muhammad karya H. Brilly El-Rasheed, Rukun Yamani disentuh dengan tangan kanan tanpa mengusapnya secara berulang. Saat itulah bacaan doa ini dilafazkan.
Rukun Iraqi adalah sudut Ka’bah yang menghadap ke arah Irak, berada di sisi utara. Meski tidak memiliki amalan khusus, posisinya menjadi penanda penting dalam tawaf.
Sudut ini penting bagi jemaah saat melaksanakan tawaf sebagai penanda. Setiap rukun dalam ibadah haji atau umrah memiliki posisi dan arah tertentu yang dijadikan pedoman.
Rukun Syami terletak di sisi barat Ka’bah dan menghadap ke arah Syam atau Suriah. Jarak antarrukun di Ka’bah menjadi pedoman jemaah dalam memahami struktur bangunan suci ini.
Hijir Ismail adalah dinding setengah lingkaran di sisi utara Ka’bah yang termasuk bagian dari Ka’bah. Salat di area ini memiliki keutamaan seperti salat di dalam Ka’bah. Saat tawaf, jemaah wajib mengelilinginya.
Di dalam Ka’bah terdapat tiga pilar dari kayu jati Burma yang berfungsi menopang bangunan. Di antaranya terdapat lemari kecil berwarna emas yang digunakan untuk menyimpan wewangian dan perlengkapan pembersih Ka’bah.
Mengetahui bagian-bagian Ka’bah membantu jemaah menjalankan ibadah haji dan umrah dengan tertib, khusyuk, serta menambah pemahaman akan makna bangunan suci tersebut.







