Setiap bulan Rajab, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa agung Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah mukjizat luar biasa yang menyimpan segudang hikmah bagi kehidupan umat Islam.
Mengutip buku Isra’ Mi’raj dan Permulaan Masuk Islamnya Kaum Anshar karya Muhammad Ridha, peristiwa ini terdiri dari dua fase perjalanan:
1. Isra
Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makkah) ke Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa (Palestina).
2. Miraj
Perjalanan lanjutan beliau dari Masjidil Aqsa naik menembus lapisan langit ketujuh menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT.
Peristiwa yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 1 ini menjadi tonggak sejarah penting, khususnya terkait perintah shalat lima waktu. Lantas, apa saja pelajaran yang bisa kita petik? Dilansir dari laman NU Online, berikut adalah 10 hikmah Isra Miraj yang patut diteladani oleh umat Islam.
1. Memahami Tanda-Tanda Kebesaran Allah SWT
Hikmah Isra Miraj yang pertama adalah memperlihatkan kekuasaan mutlak Allah SWT. Dalam perjalanan ini, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan berbagai hal gaib yang tidak bisa dijangkau akal manusia biasa. Beliau melihat wujud asli Malaikat Jibril yang memiliki enam ratus sayap hingga menutup langit, serta diperlihatkan gambaran surga, neraka, dan keajaiban langit lainnya.
2. Pentingnya Membersihkan Jiwa dan Raga
Sebelum menghadap Allah SWT, seseorang harus dalam keadaan suci. Hal ini tercermin dari peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad SAW oleh malaikat sebelum Isra Miraj dimulai.
Hati Rasulullah dikeluarkan dan dicuci menggunakan air zam-zam untuk dibersihkan dari segala kotoran, lalu dipenuhi dengan iman dan hikmah. Ini mengajarkan kita bahwa untuk “sampai” kepada Allah, hati harus bersih dari penyakit rohani.
3. Penegasan Pentingnya Sholat Lima Waktu
Berbeda dengan syariat lainnya yang disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril, perintah shalat lima waktu diterima langsung oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT di Sidratul Muntaha. Hal ini menunjukkan betapa krusial dan tingginya kedudukan ibadah shalat sebagai tiang agama dalam Islam.
4. Tingginya Derajat Kehambaan (‘Abdun’)
Dalam Surah Al-Isra ayat 1, Allah SWT menyebut Nabi Muhammad dengan kata ‘bi’abdihi’ (hamba-Nya).
سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra : 1)
Penggunaan kata “hamba” ini menunjukkan bahwa puncak kemuliaan manusia terletak pada ketakwaannya. Seorang hamba yang benar-benar bertakwa akan mendapatkan derajat yang begitu luhur di sisi-Nya.
5. Pembekalan Dakwah yang Tangguh
Sebelum Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW mengalami Amul Huzni (Tahun Kesedihan) karena ditinggal wafat oleh istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib, serta tekanan dari kaum Quraisy yang kian hebat. Peristiwa Isra Miraj menjadi cara Allah menghibur dan membekali mental Rasulullah agar semakin tangguh dalam menjalankan misi dakwah yang berat ke depannya.
6. Berani Menyampaikan Kebenaran Meski Pahit
Keesokan pagi setelah malam Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW langsung menyampaikan kabar tersebut kepada penduduk Makkah. Meski terdengar tidak masuk akal dan banyak yang mencemooh, Nabi tetap menyampaikannya. Ini mengajarkan kita untuk tetap menyuarakan kebenaran (haq) meskipun berisiko ditolak atau tidak disukai orang lain.
7. Syariat Nabi Muhammad Menyempurnakan Terdahulu
Saat berada di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW menjadi imam shalat bagi para nabi-nabi terdahulu. Momen ini menjadi bukti bahwa para nabi tunduk pada risalah Rasulullah, sekaligus isyarat bahwa syariat Nabi Muhammad SAW hadir untuk menyempurnakan dan menghapus syariat nabi-nabi sebelumnya.
8. Keistimewaan Masjidil Aqsa
Masjidil Aqsa di Palestina adalah tujuan akhir Isra sebelum Rasulullah naik (Miraj). Ini menegaskan kemuliaan masjid tersebut bagi umat Islam. Selain pernah menjadi kiblat pertama, shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) juga memiliki keutamaan pahala 500 kali lipat dibanding masjid biasa.
9. Islam adalah Agama yang Suci (Fitrah)
Saat Miraj, Nabi Muhammad SAW diberi pilihan antara meminum khamr atau air susu. Beliau memilih susu. Malaikat Jibril lantas berkata, “Engkau telah diberi hadiah kesucian.” Pilihan ini menyiratkan bahwa Islam adalah agama yang suci dan sesuai dengan fitrah manusia.
10. Pemantapan Iman (‘Ainul Yaqin’)
Sebelum Miraj, pengetahuan Nabi tentang surga, neraka, dan hal gaib bersifat ‘ilmul yaqin (meyakini berdasarkan wahyu). Namun saat Miraj, beliau melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri (‘ainul yaqin). Peristiwa ini memantapkan hati Rasulullah SAW, membuat keyakinan beliau semakin kokoh tak tergoyahkan.
Mari jadikan peringatan Isra Miraj bukan sekadar seremonial, tetapi momen untuk memperbaiki kualitas shalat dan keimanan kita kepada Allah SWT. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan agung Rasulullah SAW ini.
