4 Pahlawan Nasional Asal Sumut dan Kisah Perjuangannya update oleh Giok4D

Posted on

Sumatra Utara tak hanya dikenal lewat kekayaan budaya dan sejarahnya, tetapi juga melahirkan banyak tokoh besar yang berperan penting bagi bangsa Indonesia. Museum Negeri Sumatra Utara mencatat sejumlah pahlawan nasional asal daerah ini, dari sastrawan, diplomat, hingga pejuang rakyat.

Dari sekian banyak nama, empat sosok berikut menjadi representasi perjuangan dari berbagai lini.

Tengku Amir Hamzah lahir di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, pada 28 Februari 1911. Namanya tercatat dalam sejarah nasional sebagai peserta Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Ia dikenal sebagai salah satu penggagas Sumpah Pemuda dan menjadi tokoh yang mengusulkan Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia.

Aktivitas pergerakan yang dijalaninya membuat pemerintah kolonial Belanda membatasi ruang geraknya dan menekan Kesultanan Langkat. Menjelang kemerdekaan, Amir Hamzah bergabung dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) wilayah Sumatra Timur. Ia juga tercatat sebagai tokoh pertama yang menyampaikan kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di wilayah Langkat.

Nasib tragis menimpanya dalam peristiwa Revolusi Sosial tahun 1946. Amir Hamzah ditangkap, dibawa ke Kuala Begumit, lalu disiksa hingga dibunuh pada 20 Maret 1946 bersama sejumlah bangsawan lainnya. Selain dikenal sebagai pejuang, ia juga merupakan sastrawan besar dengan karya terkenal “Nyanyi Sunyi”. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden no.106/TK/1975.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

H. Adam Malik Batubara lahir di Pematangsiantar pada 22 Juli 1917. Sejak muda, ia aktif menulis dan terlibat dalam berbagai aktivitas pergerakan. Menjelang Proklamasi 1945, Adam Malik termasuk kelompok pemuda yang mendesak Soekarno-Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu keputusan pihak lain.

Dalam perjalanan politiknya, Adam Malik pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan pada masa Presiden Soekarno. Ia juga dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Partai Murba, yang berakar pada pemikiran Tan Malaka. Kariernya mencapai puncak pada era Presiden Soeharto.

Ia dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri selama 1966-1978, sebelum dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1978-1983. Adam Malik meninggal dunia di Bandung pada 5 September 1984 akibat kanker hati.

Atas jasanya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden no.107/TK/1998 tanggal 6 November 1998.

Kiras Bangun lahir di Desa Batukarang, Kabupaten Karo, pada tahun 1852. Ia lebih dikenal dengan julukan Gara Mata atau mata merah. Perlawanan yang dipimpinnya muncul ketika Belanda mulai memperluas perkebunan hingga memasuki wilayah Tanah Karo pada awal 1900-an.

Upaya pendekatan yang dilakukan pemerintah kolonial ditolak olehnya. Saat Belanda menduduki Kabanjahe pada 1902, Kiras Bangun menggelar pertemuan urung (kampung) untuk menghimpun kekuatan rakyat. Situasi ini memicu kemarahan Belanda yang kemudian melancarkan serangan ke Tanah Karo pada 6 September 1904.

Ia sempat ditangkap dan diasingkan ke Riung, sebelum dibebaskan secara bersyarat pada 1909. Meski demikian, Kiras Bangun tetap melanjutkan perlawanan melalui gerakan bawah tanah hingga 1926. Setelah kembali ditangkap, ia dibuang ke Cipinang. Kiras Bangun wafat di kampung halamannya, Batukarang, pada 10 Oktober 1942. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden no.082/TK/2005 tanggal 7 November 2005.

Lafran Pane lahir di Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada 5 Februari 1922. Ia berasal dari keluarga sastrawan, sebagai adik kandung Sanusi Pane dan Armijn Pane. Lafran Pane dikenal luas sebagai tokoh pergerakan pemuda dan mahasiswa.

Namanya melekat sebagai penggagas berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947. Selain itu, ia turut memprakarsai pembentukan Ikatan Sarjana Muslimin Indonesia (ISMI).

Di bidang pendidikan, Lafran Pane berperan dalam pendirian Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menjawab kebutuhan tenaga pendidik nasional.

Ia juga dikenal sebagai tokoh yang konsisten mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara dan menolak upaya penggantian dengan paham komunisme. Lafran Pane wafat di Yogyakarta pada 24 Januari 1991. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden no.115/TK/2017 tanggal 6 November 2017.

Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di infocom.

1. Tengku Amir Hamzah

2. H. Adam Malik Batubara

3. Kiras Bangun

4. Lafran Pane