Sarapan putih telur kerap dipilih sebagai menu diet karena tinggi protein dan rendah lemak. Namun, bagaimana dampaknya jika kebiasaan ini dilakukan terus-menerus selama 14 hari? Seorang ahli diet mengungkap sejumlah perubahan yang bisa terjadi pada tubuh.
Mulai dari efek pada rasa kenyang, massa otot, hingga potensi kekurangan nutrisi tertentu, konsumsi putih telur saja untuk sarapan memiliki sisi positif sekaligus risiko. Karena itu, penting memahami dampaknya agar pola makan tetap seimbang dan aman bagi kesehatan.
Ahli diet, Karel Ansen, mengatakan dirinya setiap hari menyantap dua butir telur. Telur tersebut diolahnya dengan cara direbus, orak-arik, atau setengah matang, kadang dipadukan dengan sayur dan buah.
“Tidak masalah. Saya bisa melakukannya,” ujarnya dikutip infoHealth dari Women’s Health.
Alasan memilih putih telur cukup menggoda. Dibandingkan telur utuh, putih telur lebih rendah kalori, lemak, dan kolesterol, tetapi tetap mengandung protein tinggi.
“Dengan tiga setengah ram protein berkualitas tinggi per butir, putih telur adalah makanan utama untuk mengontrol nafsu makan dan membangun otot,” jelas Ansel.
Awalnya, ia khawatir sarapan putih telur tidak cukup mengenyangkan. Kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti.
Beberapa putih telur, biasanya dari dua hingga tiga butir telur, ternyata mampu membuat Ansel kenyang hingga waktu makan siang.
Putih telur tersebut kerap dicampur dengan sayuran seperti daun bawang atau bayam, ditambah satu porsi buah untuk variasi. Selama dua minggu itu, ia mengaku tidak mengalami perut keroncongan di tengah pagi.
Sebelum olahraga pagi, ia terbiasa makan makanan ringan agar tidak terasa berat di perut. Telur orak-arik dalam porsi besar biasanya tidak cocok, tetapi dua putih telur rebus justru terasa pas.
Ansel merasakan energi yang stabil selama latihan, tanpa rasa lemas yang kerap muncul setelah mengonsumsi karbohidrat seperti pisang atau roti panggang. Selain itu, tidak ada rasa begah atau kembung yang mengganggu saat berolahraga.
Meski bisa makan telur utuh setiap hari tanpa jenuh, cerita berbeda terjadi pada putih telur. Ia mengaku cepat merasa bosan.
Berbagai percobaan dilakukan, termasuk membuat oatmeal ‘tanpa oat’ dari campuran putih telur, pisang, susu, dan kayu manis. Tetapi, hasilnya justru mengecewakan.
Tekstur putih telur juga kerap menjadi kenyal berlebihan. Saat dibuat omelet, rasanya bahkan diibaratkan seperti plastik.
Hal yang paling dirindukan selama eksperimen ini adalah kuning telur yang masih cair. Dari segi rasa, tektur, hingga warna, kuning telur membuat sarapan terasa lebih memuaskan.
Selain soal rasa, ada pula aspek gizi yang hilang.
“Kuning telur adalah tempat Anda akan menemukan hampir semua nutrisi, seperti vitamin B, vitamin E, vitamin D, zat besi, seng (zinc), dan kolin,” beber Ansel.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Ia juga menambahkan bahwa meski putih telur mengandung sebagian besar protein, manfaat akan lebih optimal jika mengonsumsi telur utuh.
“Selain itu, kuning telur memberi Anda hampir lima gram lemak, yang dapat membantu Anda merasa kenyang lebih lama daripada hanya mengonsumsi putih telur,” kata Ansel.
Selama dua minggu, Ansel memisahkan sendiri putih dan kuning telur. Ia menyebut banyak kuning telur yang terbuang meski sudah berusaha menyimpannya untuk resep lain.
Pengalaman ini membuatnya menyimpulkan bahwa jika suatu saat kembali menjalani pola serupa, ia akan memilih membeli putih telur kemasan demi mengurangi pemborosan makanan.
Setelah dua minggu, ia akhirnya kembali mengonsumsi telur utuh untuk sarapan. Meski begitu, satu kebiasaan baru Ansel tetap pertahankan, yaitu mengonsumsi putih telur rebus sebelum olahraga, karena dinilai sangat membantu performa latihan.
Hal-hal yang Dirasakan
1. Kenyang Lebih Lama
2. Olahraga Lebih Optimal
3. Cepat Bosan dengan Putih Telur
4. Sangat Merindukan Kuning Telur
5. Banyak Telur Terbuang
Hal yang paling dirindukan selama eksperimen ini adalah kuning telur yang masih cair. Dari segi rasa, tektur, hingga warna, kuning telur membuat sarapan terasa lebih memuaskan.
Selain soal rasa, ada pula aspek gizi yang hilang.
“Kuning telur adalah tempat Anda akan menemukan hampir semua nutrisi, seperti vitamin B, vitamin E, vitamin D, zat besi, seng (zinc), dan kolin,” beber Ansel.
Ia juga menambahkan bahwa meski putih telur mengandung sebagian besar protein, manfaat akan lebih optimal jika mengonsumsi telur utuh.
“Selain itu, kuning telur memberi Anda hampir lima gram lemak, yang dapat membantu Anda merasa kenyang lebih lama daripada hanya mengonsumsi putih telur,” kata Ansel.
Selama dua minggu, Ansel memisahkan sendiri putih dan kuning telur. Ia menyebut banyak kuning telur yang terbuang meski sudah berusaha menyimpannya untuk resep lain.
Pengalaman ini membuatnya menyimpulkan bahwa jika suatu saat kembali menjalani pola serupa, ia akan memilih membeli putih telur kemasan demi mengurangi pemborosan makanan.
Setelah dua minggu, ia akhirnya kembali mengonsumsi telur utuh untuk sarapan. Meski begitu, satu kebiasaan baru Ansel tetap pertahankan, yaitu mengonsumsi putih telur rebus sebelum olahraga, karena dinilai sangat membantu performa latihan.
