Belakangan ini, konten tarot reading atau pembacaan kartu tarot marak ditemui di berbagai platform digital seperti TikTok dan dikemas sebagai hiburan singkat. Tayangan ini sering kali mengaitkan pembacaan kartu dengan nasib, jodoh, karier, hingga kondisi emosional seseorang.
Namun, sebagai umat Islam, fenomena ini perlu disikapi dengan hati-hati berdasarkan akidah dan syariat. Apakah boleh sekadar menonton atau mempercayainya? Berikut penjelasan lengkapnya.
Melansir laman NU Online, setiap muslim seharusnya memiliki keyakinan bahwa bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui hakikat kejadian di masa depan, baik nasib baik maupun buruk, kecuali Allah SWT. Makhluk ciptaan-Nya tidak memiliki akses terhadap pengetahuan ini. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 59:
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
Artinya: “Dan kunci-kunci semua yang ghaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa hal-hal ghaib (mughayyabat) tidak dapat dicapai melalui ilmu perbintangan, perdukunan, ataupun paranormal. Pengetahuan ghaib adalah murni anugerah dan kehendak Allah SWT.
Meskipun sering dianggap hiburan, tarot reading termasuk dalam kategori ramalan karena menggunakan media kartu untuk mengklaim pengetahuan tentang masa depan. Dalam perspektif Islam, praktik ini bertentangan dengan prinsip akidah.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Naml ayat 65:
قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗوَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ
Latin: Qul lā ya’lamu man fis-samāwāti wal-arḍil gaiba illallāh(u), wa mā yasy’urūna ayyāna yub’aṡūn(a).
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui sesuatu yang gaib selain Allah. Mereka juga tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”
Mengutip Buku Pendidikan Agama Islam karya Rosidin dan Muhammad Gufron diketahui bahwa ramalan nasib (seperti feng shui, shio, zodiak, dan tarot) sebagai bentuk Pengetahuan Jahiliyyah modern. Hal ini karena praktik tersebut menggantungkan keyakinan pada selain Allah dalam urusan masa depan.
Ancaman bagi yang Mempercayainya: Rasulullah SAW memberikan peringatan keras terkait hal ini. Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan:
“Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka salatnya tidak diterima selama 40 malam.” (Hadis Riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad dari sebagian istri Nabi, Hafshah).
Selain tarot, kebiasaan menanyakan “hari baik” atau “hari buruk” untuk pernikahan atau pindah rumah kepada “orang pintar” juga menjadi perhatian para ulama.
Syekh Abdurrahman bin Ziyad az-Zabidi menegaskan bahwa pertanyaan semacam itu tidak layak untuk dijawab karena syariat melarang meyakini hal tersebut. Jika seseorang yakin bahwa ramalan itu pasti terjadi tanpa menyandarkannya kepada Allah, hukumnya tidak diperbolehkan. Kemudian, Imam az-Zamlakani bahkan mengharamkan praktik ini secara mutlak.
Seorang muslim seyogyanya memasrahkan segala urusan kepada Allah dan yakin bahwa ketetapan-Nya adalah yang terbaik.
Untuk melindungi akidah umat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa Nomor 2 Tahun 2005 tentang Perdukunan (Kahanah) dan Peramalan (Irafah).
Fatwa tersebut menetapkan bahwa segala bentuk praktik perdukunan dan peramalan hukumnya haram. Cakupan haram ini meliputi:
Fatwa ini didasarkan pada dalil-dalil yang melarang perbuatan syirik (menyamakan sesuatu dengan Allah), sebagaimana termaktub dalam QS An-Nisa ayat 48 dan 116.
Mempercayai ramalan nasib buruk dalam Islam disebut tathayyur dan hukumnya haram. Sebagai gantinya, Islam mengajarkan tafa’ul, yaitu sikap optimis dengan mengambil makna baik untuk menumbuhkan motivasi dan harapan positif kepada Allah SWT.
Jadi, daripada sibuk mencari tahu nasib lewat kartu tarot atau ramalan bintang, lebih baik kita fokus memperbaiki diri, berdoa, dan bertawakal kepada Allah Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu. Semoga informasi ini bermanfaat, ya!
