Apa Itu ‘Pariban’? Istilah Jodoh yang Sering Bikin Anak Muda Batak Galau

Posted on

Suku batak yang terletak di bagian Barat Indonesia, tepatnya di Provinsi Sumatera Utara. Suku batak terkenal sangat menjunjung tinggi ikatan keluarga, selain itu mereka juga terkenal menganut garis keturunan patrilineal.

Patrilineal merupakan suatu adat yang mengatur keturunan dari pihak ayah. Anak dari pernikahan yang kedua orang tuanya sama-sama berasal dari suku batak, akan otomatis mengikuti marga sang ayah.

Dalam suku batak, ketika terdapat seorang pria dan wanita memiliki marga yang sama mereka tidak diperbolehkan menikah. Hal tersebut dianggap mereka memiliki darah yang sama, walaupun kenyataan tidak sedarah.

Di suku batak sendiri ada istilah yang bernama ‘Pariban’. Apa yang dimaksud dengan pariban? Dikutip dari jurnal yang berjudul Makna Pariban Bagi Remaja Suku Batak, ditulis oleh Yohana Viscanesia Sinaga. Pariban adalah istilah pada sepupu atau anak dari paman bibi yang bisa dinikahi.

Istilah pariban ini juga dipakai ketika seorang pria memiliki marga yang sama dengan marga dari ayah si wanita, biasanya saat pria bertemu wanita akan bertanya marganya terlebih dahulu. Ketika ibu si pria memiliki marga yang sama dengan si wanita, hal itu sudah menjadi perjodohan dari kecil.

Di adat batak konon sangat disarankan untuk menikahi pariban, karena bisa mengikat kembali tali kekeluargaan dari kedua marga. Orang batak terdahulu juga sangat mendukung hal tersebut, sebuah prestasi besar apabila seorang pria berhasil menikahi paribannya sendiri.

Banyak orang yang sudah mengetahui istilah ‘pariban’, hal ini sangat berhubungan dengan silsilah, adat, dan juga kepribadian dari orang batak itu sendiri.

Namun, saat ini sudah tidak banyak yang menganggap silsilah ‘pariban’ sebagai sesuatu yang serius. Dengan masuknya pengaruh globalisasi dan agama, fenomena perjodohan ‘pariban’ banyak mendapatkan respon yang berbeda-beda.

Aturan menikah dengan pariban di zaman sekarang bukan lagi menjadi sesuatu yang wajib, namun masih banyak orang tua yang berharap anak nya menikah dengan pariban. Bagi anak-anak muda batak di kota seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya, menikah dengan pariban bukanlah satu-satunya jalan untuk mencari jodoh.

Bagi mereka masih banyak pilihan yang menarik, dan menikah dengan pariban bukan satu-satunya cara. Mereka cenderumg memilih wanita dari suku atau marga lain, dan memperluas ikatan persaudaraan dari hasil menikah.

Meski kini pariban sudah tidak seketat sebelumnya, namun tradisi ini perlu dilestarikan. Jika anak muda Batak Toba tidak berniat melakukannya, namun tetap harus dihargai sebagai bagian dari adat dan budaya.

Artikel ini ditulis Alifah Rose Wiana, mahasiswa UIN Sumut praktik kerja lapangan di infoSumut.